25. Argumen

793 103 31
                                        


Happy baca ♥️
Sorry for typo 🍓
.
.
.




Gistara tahu keputusannya untuk tetap melanjutkan rencana bersama Erlangga memicu kekesalan sang kakak.
Janaka terang-terangan menolak kehadiran Erlangga. Sang kakak merasa pertemanannya dikhianati oleh Erlan. Laki-laki itu tidak pernah tulus menurut Naka.

"Kenapa masih ketemuan sama Erlan?"

"Maas, please...."

"Berapa kali Mas bilang, batalin rencana kamu, jauhi Erlangga Danapati!"

Gistara menampani protes, ah bukan, lebih tepat disebut cecaran oleh Naka siang ini. Raut Naka memancar tak suka mengetahui Tara masih meneruskan rencananya bersama Erlangga.

"Enggak bisa Mas, aku udah terlanjur pakai uangnya Mas Erlan."

"Mas enggak suka kamu dekat sama Erlan. Dia bukan laki-laki baik, Gis, hidupnya penuh kamuflase."

Iya, kalau yang satu itu Tara sudah tahu. Hidup Erlangga memang penuh kamuflase, Tara aminkan dalam hati perkataan Naka.

Terdengar gebrakan meja. Suara pukulan Naka mengenai nakas tepat di sisi sofa tunggal. Implikasi kekesalan lelaki itu mendengar statment sang adik.

"Semua salah Mas," ucapnya nelangsa. "Andai waktu itu Mas enggak kasih candaan konyol ke kamu, Tar, maaf mas baru menyadari kalau Erlangga masih sama brengseknya kayak dulu." Sebenarnya Naka tidak kaget dengan semua sifat buruk Erlan, hanya saja saat ini kelakuan minusnya ditujukan pada sang adik, itu yang membuatnya sangat murka.

"Mas Naka jangan gitu, semua udah terjadi, jadi jangan ada salah-salahan lagi, ya." Sungguh, tidak terbesit sedikit pun di benak Tara untuk menyalahkan Naka. Semua terjadi atas kesadarannya sendiri, dia yang memilih menjalaninya. Mungkin Naka hanya jadi perantara pertemuan Erlan dengannya, tapi semua keputusan ada di tangan Gistara dan dirinya sadar memilih jalan ini.

Embusan napas terdengar menguar berat. Naka mencoba melapangkan dada, menerima semua statment sang adik. "Mas hargai keputusan kamu, kalau ada apa-apa jangan segan bilang sama mas, ya?"

Senyum Gistara mengembang di antara anggukan. Setidaknya dia masih bisa bersyukur memiliki saudara seperti Naka yang benar-benar menyayanginya tanpa tapi.

"Mas balik dulu, kamu baik-baik, Tar." Naka beranjak, tangannya mampir mengacak rambut Tara sebelum benar-benar melenggang pergi.

Usai kepergian Naka, Tara masih betah menempati sofa. Tatapannya dilabuhkan ke arah jendela. Saat sendirian seperti ini, pikirannya membawa terbang ke banyak sudut.

Senyum ironi menghiasi wajah cantiknya. Merasa hidup memberinya pilihan mengejutkan. Dari sekian banyak opsi, kenapa Tuhan menghadirkan Erlangga ke dekatnya? Pasti Tuhan memiliki rencana-Nya tersendiri, kan?

Daun jatuh pun tak lepas dari campur tangan, apalagi menyoal satu ikatan hubungan.

Mengingat kembali ucapan Erlan, bagaimana lelaki itu begitu menggebu memproklamirkan perasaannya pada Naima. Erlangga rela melakukan apa pun. Sementara sekelebat peringatan bernada tendensi ditujukan pada Gistara, tentang kesombongan Erlangga yang menyatakan tidak akan pernah jatuh cinta pada Gistara.

Hah! Merenung di tengah hiruk pikuk dunia. Apa yang salah? Bukankah cinta harusnya sepaket dengan syari'at? Cinta itu mahal, hanya orang berhati bersih yang bisa merasakan kejernihannya. Cinta yang diiringi tanpa syariat, pasti nafsu yang akan tumbuh lebih cepat daripada logika. Gistara di persimpangan, dia hanya tamu, singgah sebentar, tanpa dipersilakan tinggal. Namun, ada rasa yakin di hati jika cintanya Erlan dan Naima itu cinta yang tidak sehat. Penuh nafsu dan obsesi. Dan, Tara yakin itu tidak akan bertahan lama.

BamboozleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang