Happy baca ♥️
Sorry for typo 🍓
.
.
.
Kesal masih menyelimuti perasaan Gistara. Usai kembali dari apartemen Erlangga, dengan konklusi dia yang 'dipaksa' setuju untuk datang menemui Erlan selama dua minggu kedepan.
Belum lagi reaksi sengit kekasih Erlan yang secara terang-terangan menolak kehadiran Gistara di apartemen tersebut. Tara bergidik, andai saja bukan karena terpaksa dirinya juga enggan menapakkan kaki di tempat mesum itu. Ya, Tara melabelinya demikian. Apalagi memang yang dilakukan sepasang kekasih, pria dan wanita di tempat tertutup, satu atap tanpa ada batasan atau mahram lainnya?! Sudah pasti tidak jauh dari zina. Bisikan syaitan itu maha dahsyat. Jangankan yang belum halal, yang sudah halal pun masih banyak yang tidak tahan godaannya.
Sialnya lagi Tara tidak bisa mengelak saat Erlan menetapkan jadwal kunjungan untuknya yang sifatnya wajib. Tara merasa seperti nasabah yang terjerat utang besar. Erlan selalu mengungkit tentang perjanjian apabila Tara tidak menuruti kemauan lelaki itu. Sialnya lagi dari total tiga M yang dijanjikan Erlangga, satu milyarnya sudah habis untuk ganti rugi dan lain-lain. Artinya sama saja Tara seperti berhutang.
Hah! Bertemu dengan Erlangga dikombo Naima sangat menguras energi bagi Tara. Makanya sepulang dari apartemen Erlan, dia memilih berdiam mengurung diri di kamar. Meditasi ringan sepertinya akan membantunya untuk sedikit merasa relaks. Namun, belum sempat Tara lakukan, ketukan pintu yang menggema keras mendistrak rencananya.
Suara tak asing bergema di depan pintu kamar Gistara. Tidak hanya itu suara te sebut disertai dengan ketukan yang lumayan keras.
"Tar, bukain, mas mau bicara penting sama kamu!" Pemilik suara itu tak lain adalah Janaka - Mas Naka-nya Tara.
Gistara beringsut, menguak pintu kamarnya lebar-lebar. "Opo, Mas?"
Tanpa ba-bi-bu, Naka masuk dan menempati sofa three seater yang ada di seberang ranjang.
"Ceritain semuanya sama Mas? Benar kamu menerima Erlan karena terpaksa?" Todong Naka tanpa basa-basi.
Sore ini sepulang ngantor Naka sengaja mampir ke rumah Gistara. Lelaki 31 tahun itu langsung melontarkan cecaran pada sang adik. Kening Naka terlipat disertai tatapan membias penasaran, serta tak sabar menuntut jawaban dari Tara.
"Kata siapa, Mas?" sahut Tara berusaha sesantai mungkin. Wajah lelahnya masih membayang, semakin membuat Naka menatapnya tak percaya.
"Yakin kamu?"
"I-iya, Mas Naka!"
Tawa kering Naka mencuat. Lelaki itu menggeleng samar disertai rona memancar tak suka oleh jawaban sang adik.
"Jujur sama Mas, Tara?"
"Mas, aku--"
"Erlan sudah cerita semuanya. Kamu memilih dan menerima dia karena terpaksa demi melunasi utang ganti rugi?" Cecar Naka lagi.
Gistara memejam sepersekian detik. Memang super berengsek Erlangga. Bisa-bisanya mengarang cerita lain di depan Naka. Ya oke, memang tidak sepenuhnya salah apa yang dikatakan Erlangga. Gistara menerima Erlan demi menyelesaikan masalah utang ganti rugi. Tetapi bagian bobroknya Erlangga tidak disertakan dalam versi lelaki itu. Bagaimana Erlangga menekan Tara agar setuju menjalani pernikahan kontrak dengan serentetan tuntutan yang harus Tara jalani.
"Bukannya itu sarannya Mas Naka, ya? Dari awal aku coba ikutin semua yang Mas Naka bilang." Tara masih berusaha biasa saja.
Naka tertegun. Lelaki itu menatap serius sang adik. "Kamu kayak enggak tahu Mas aja, itu cuma candaan Tar. Just kidding, malah kamu tanggapi seserius ini?!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Bamboozle
Romance©hak cipta sepenuhnya dilindungi oleh Allah SWT. [Blurb sementara] "Menikah dengan saya, maka permasalahan kamu terselesaikan," ujar Erlangga disertai ekspresi datarnya. Erlangga Putra Danapati butuh status. Sementara Gistara Swasti Padmaja butuh...
