24. Submissive

655 108 58
                                        


Jangan lupa komen yang banyak. Siapa tahu kamu yang menang novel How to Be Marriage.

.
.
.






Kalau dipikir-pikir Gistara mengaminkan kalimat Kika. Benarkah dia semuna' itu menghadapi kenyataan hidup? Oke, Tara tidak akan mengingkari jika dia terlalu idealis memilih jalan karir, tapi setiap orang punya pilihan, kan? Tara juga tidak akan menampil titel 'munafik' yang disematkan untuknya ; ngakunya ogah menghindari praktik nepotisme, tapi di sisi lain malah melakukan pernikahan kontrak?!

Setelah memikirkan ribuan kali, setelah diingatkan menyoal plan B oleh Kika, akhirnya sampai pada satu konklusi yang akan Gistara pilih: membuat dirinya istri sepenuhnya bagi Erlangga, termasuk wacana membuat lelaki yang sekilas - lebih tepatnya nol koma beberapa persen itu mirip model media sosial Miles Moretti.

Gistara mengosongkan udara dalam paru-parunya. Rasa dongkol kembali mendera mengingat konfrontasi Naima sore tadi. Perempuan satu itu benar-benar membuatnya merasa sebal. Tudingan dan kalimat kasar kekasih Erlan lumayan menusuk ke dalam perasaan Gistara.

"Gass, Gis, jangan kasih kendor, aku dukung kamu seribu persen buat ngerebut Kak Erlan." Adalah komentar Kika. Gistara tersenyum ragu. "Baru kali ini aku setuju sama pelakor." Pengimbuhan Kika sontak ciptakan tawa Tara.

"Pelakor banget, Buk?!" Protes Tara.

Kika tertular tawanya. Tentu ungkapan itu hanya candaan, meski konteksnya mendekati benar, tapi, kasusnya di sini jauh berbeda. Pertama, Erlangga dan Naima belum menikah, hubungan mereka baru sebatas sepasang kekasih, ingat kata pepatah ; sebelum janur kuning melengkung. Artinya, sebelum ada prosesi sakral pernikahan, semua masih berhak mengharapkan. Kedua, restu Tante Saras sudah dipastikan tertutup bagi Erlan dan Naima, bahkan mamanya Erlan secara terang-terangan menyatakan tidak suka anak lelakinya memiliki hubungan dengan Naima. Ketiga ... ah, yang ini sebenarnya masih bergolak di hati Gistara, antara tidak rela Erlangga jatuh ke tangan perempuan seperti Naima, juga karena kesal dengan kesombongan Erlangga yang jemawa menyatakan tidak akan pernah tertarik dengannya, membuat Gistara ambiss ingin menaklukkan lelaki itu.

"Lagian kalian memang cocok, sama-sama aneh!" Kika masih berkomentar. "Yang satu udah punya cewe tapi malah mau nikahin perempuan lain. Eh, yang satu mau-mau aja dijadiin istri kontrak. Kalau kata eyangku, kayak tumbu oleh tutup, klop wes."

Tumbu - wadah kecil seperti besek yang terbuat dari anyaman bambu, biasanya sepaket dengan tutupnya. Perumpamaan Kika terhadap sahabatnya sekaligus Erlangga.

"Yang gila Mas Erlan, aku enggak ya." Bantah Tara cepat.

"Sama-sama gila, Tar." Lengking tawa Kika usai berkata-kata.

"Mas Erlan yang gila, demi cinta butanya aku yang bakal dijadiin kambing hitamnya. Nih, aku jelasin ya, Ka, masa kata dia nanti kalau aku sama si Miles Moretti Kawe seribu itu udah nikah, terus aku disuruh jadi menantu durhaka, biar mamanya nyesel udah milih aku buat Erlangga." Tarikan napas Gistara. Ngos-ngosan sekali gara-gara ceritanya dipenuhi gebu emosi.

"Terus?" Selidik Kika.

"Ya terus kalau citra aku sebagai menantu udah rusak, dia bakal bawa cewenya ke hadapan Tante Saras. Kek seakan-akan pilihan dia itu yang paling terbaik, sedangkan aku yang pilihan mamanya ini busuk."

Kika manggut-manggut, memahami alur cerita sang sahabat. "Emang gila ya, Mas Erlan," ucapnya ikut menyirat emosi. "Tapi kamu juga enggak kalah gila, Tar, mau aja dijadiin kambing hitam." Pengimbuhan yang membuat Tara hampir ingin menoyor kepala Kika saking gemasnya.

Ya, oke, Gistara juga gila karena menerima tawaran tak lazim dari Erlangga. Namanya juga the power of kepepet, kan. Yang penting masalah satunya sudah kelar. Masalah Erlangga? Pikirkan nanti sambil jalan, kalau bisa sesuai dengan plan B, bikin lelaki itu jatuh ke pelukannya.

BamboozleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang