15. Masculine Provider

419 96 54
                                        

Happy baca 💚
Sorry for typo 🍓
Komen ya, kalau ada typo. Gomawo.

.
.
.




"Erlan keterlaluan sekali, padahal lagi ada kamu di sini." Tante Saras masih mendumal gara-gara ulah Erlangga yang main pergi, padahal sebentar lagi waktunya makan malam.

Meja panjang berbentuk trapesium di ruang makan terlihat semarak dengan suguhan aneka masakan rumahan; rawon, sate ayam, lengkap dengan acar, sambal dan kerupuk, tempe goreng dan telur asin. Stoples besar kerupuk ikut terpampang di sana. Gistara sempat memerhatikan Mbak ART yang  menata menu di atas meja berlapis kaca bening tersebut.

Kepergian Erlangga secara mendadak cukup menciptakan premis di hati Gistara. "Sekali berengsek tetap berengsek!" Adalah umpatannya pada laki-laki yang membawanya ke rumah besar ini.
Enggak tahu adab!
Seenaknya sendiri!
Apa dirinya tamu tak diundang? Bisa-bisanya ditinggal pergi begitu saja, padahal Erlangga yang memaksanya datang malam ini. Tentu saja umpatan penuh perdom itu hanya terlontar di hati, tidak mungkin Gistara spontan memakai Erlangga di depan Tante Saras. Aneh. Padahal mamanya Erlangga menyambutnya dengan penuh keramahan serta perasaan hangat. Berbeda jauh dengan sikap sengak Erlangga. Gistara masih tak habis pikir, Erlan mendapat sikap semena-mena itu dari siapa?

"Oh iya Tante, tadi nama mantannya Mas Erlan siapa, ya?" Kesempatan bagus untuk Gistara mengorek kembali tentang mantannya Erlangga. Bagus sekali, Tante Saras ternyata sangat lancar mengisahkan bagian dari hidup putranya tanpa Gistara repot-repot mengulik di awal.

Oke, mari kita eliminasi satu kesimpulan tentang Erlangga, bahwa lelaki ; tidak normal. Spoiler Tante Saras cukup mengkonfirmasi jika Erlangga Danapati sangat normal. Berbanding balik dengan dugaan Gistara.

Lantas, kalau Erlan laki-laki normal, pernah punya pacar, kenapa malah meminta Gistara menjadi istri kontraknya? Hampir saja Gistara mengira dirinya terjebak seperti banyak kisah miris yang banyak dishare di media sosial; lavender marriage.

Membayangkannya membuat Gistara bergidik ngeri sendiri. Amit-amit, jangan sampai yang buruk-buruk datang mendekat.

"Kita ceritanya sambil makan saja, yuk!" Titah Tante Saras.

" ... enggak nunggu Mas Erlan dulu, Tante?" Gistara sih tidak peduli pada si Erlan-Erlan itu. Mau lelaki itu belum makan sekali pun dia bodo amat. Pertanyaannya barusan cuma basa-basi semata kok. Jujur sejak tadi cacing-cacing di dalam perutnya riuh berdemo. Setelah dikabari untuk ikut makan malam ke rumah ini, Gistara sengaja tidak makan dari siang. Sekarang lambungnya protes mintaa diisi asupan karbohidrat.

Tante Saras mengibas tangan. "Biarin saja, salahnya sendiri main pergi gitu saja, kita makan duluan saja, Tara." Jawaban mamanya Erlangga barusan adalah kode. Tidak perlu menunggu lebih lama, Gistara inisiatif mencidukkan nasi ke piring Tante Saras. Hah! Erlangga harus berterimakasih nanti atas improvisasi sempurnanya Gistara menjadi calon mantu idaman.

"Makasih, ya, Nak!" ucap Tante Saras. "Ayo, makan jangan sungkan, Tara." Tante Saras mulai menyuap nasi yang sudah diguyur kuah rawon. "Namanya Naima." Lanjutnya. Yang ditunggu Gistara sejak tadi. Kupingnya dipasang setajam mungkin agar jangan sampai ada informasi yang terlewat.

"Tante keberatan, enggak, awalnya enggak keberatan Erlan menjalin hubungan dengan Naima, tapi lambat laun, sikap dan perilakunya bikin Tante emosi."

"Memangnya kenapa kalau boleh tahu, Tante?" Gistara hanya perlu menebar sedikit umpan.

Raut Tante Saras berubah keruh. Gistara yang memahami segera mengusap punggung tangan mamanya Erlan. "Kalau Tante merasa berat buat cerita, enggak usah dilanjut enggak pa-pa Kon, Tante."

BamboozleTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang