Happy baca ❤️
Sorry for typo 🍓
Warning :
Yang rajin kasih komen, yang komennya out of the box, insyaallah di akhir kisah ini nanti bakal kachan kasih novel How to Be Marriage (Rumaisha - Ezar)
Yang pasti syarat mutlaknya sudah harus follow kachan, ya.
.
.
.
Sepersekian detik Gistara dibuat tertegun oleh tindakan Erlan. Jantungnya refleks deg-degan tanpa bisa dicegah gara-gara ditatap dari jarak super dekat serta tangan besar lelaki itu yang tanpa permisi mendarat di atas permukaan bibirnya. Saat kesadarannya kembali, detik itu juga sebuah suara menginterupsi polahnya dan Erlan.
Tanpa disadari hal sama sepertinya mendera Erlangga. Kali pertama setelah menemukan Gistara versi dewasa, Erlan bisa memandangnya dari jarak super dekat. Wajah mereka saling beradu. Erlan bahkan bisa merasakan embusan napas perempuan itu. Mengamati gadis berpipi tirus itu sampai tak sengaja tatapannya jatuh pada bibir merah alami milik Gistara. Sepersekian detik Erlangga dibuat takjub oleh perubahan drastis Gistara Swasti Padmaja. Gadis kecil yang dulu sering dia gendong, dia jaili sampai menangis kini tumbuh menjadi perempuan dewasa berwajah cantik.
Suara yang tak asing memecah keterpakuan Erlan dan Tara. Kalimatnya penuh tendensi bernada amarah. Refleks Tara mendorong dada Erlangga agar menjauh.
Seperti sebelumnya saat Gistara baru kenal pemilik suara itu.
Dari arah pintu Naima berteriak seperti orang kesetanan. Alih-alih merapal salam saat memasuki rumah, perempuan itu mencak-mencak, menggumamkan umpatan ke arah Gistara, sepertinya dia tidak terima mendapati Erlangga duduk tak berjarak dengan Tara.
"Apa-apaan kalian?!" Sentaknya mendekat dan berdiri tepat di sisi Tara. Tidak hanya itu, Naima menampar lengan Gistara sebagai implikasi protesnya. "Centil banget jadi cewe! Kamu juga, ngapain sih, Mas?!" Tak cukup, konfrontasinya mengarah juga pada Erlan.
Erlangga menggeleng beberapa kali. "Jangan salah paham, Nai, saya dan Tara enggak ngapa-ngapain."
"Bohong!" Denial Naima.
Gistara sudah terlanjur eneg. Percuma dia menyangkal, mau dia berkata jujur sekali pun kalau pada dasarnya lawan bicaranya memang menyimpan rasa tak suka, fakta apa pun tetap dialah yang akan disebut sebagai penjahatnya.
"Lo godain Mas Erlan, kan? Ngaku lo!" Naima makin tendensi, tangannya berani mendorong keras bahu Gistara.
"Jangan asal nuduh, ngapain aku godain Mas Erlan, toh dia calon suamiku." Santai Gistara. Benar, kan, kalau tanpa digoda pun, Erlangga Danapati memang calon suaminya.
"Bitch!" Umpatan kasar Naima tepat di depan Tara, tak hanya itu, tangan perempuan itu melayang ingin menampar pipi Tara tapi dengan sigapnya Erlan menangkap tangan Naima lebih dulu.
"Nai, please, jangan kekanakan. Kamu cuma salah paham. Saya dan Tara enggak ngapa-ngapain."
"Akhirnya yang aku khawatirkan terjadi juga. Diam-diam kamu main hati sama dia, Mas!"
"Naima!" Erlangga terlihat sangat frustrasi. "Berapa kali saya bilang, semua cuma pikiran buruk kamu. Sampai kapan kamu akan menyadari kalau saya melakukan banyak hal, semuanya ini demi kamu. Demi hubungan kita berdua."
"Mas, mendingan kamu selesaikan kesalahpahaman pacarmu, aku mau pulang!" Gistara beranjak dari duduk, secepat kilat menyambar tas yang diletakkan di meja. "Dan, besok kayaknya aku enggak perlu datang lagi, kamu udah hapal, langsung aja menghadap papa kalau emang masih mau meneruskan rencana kamu." Pengimbuhan Gistara sebelum kakinya berderap meninggalkan apartemen Erlangga.
"Tar, tunggu!" Interupsi Erlan menahan langkah Tara.
"Mas Erlan! Biarin aja dia pergi, kamu tahu, kan, aku enggak suka lihat dia ada di sini." Naima menyela.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bamboozle
Romance©hak cipta sepenuhnya dilindungi oleh Allah SWT. [Blurb sementara] "Menikah dengan saya, maka permasalahan kamu terselesaikan," ujar Erlangga disertai ekspresi datarnya. Erlangga Putra Danapati butuh status. Sementara Gistara Swasti Padmaja butuh...
