Tolong yakinkan saya kalau cerita ini masih layak untuk dilanjutkan? :,-)
Tangis Gistara baru mereda usai Naka menuntaskan ceritanya. Matanya refleks memandangi langit-langit kamar, ingin menghalau air yang terus menetes di kedua irisnya.
Di luar dugaan, Naka sudah tahu semuanya. Namun, tidak berarti apa pun saat ini. Semuanya sudah terlambat menurut Tara. Dia sudah menandatangani kontrak pra nikah oleh Erlangga. Lagipula Tara sudah menerima bayarannya separuh. Satu milyar telah Erlan berikan sejak Tara sepakat tanda tangan. Jumlah yang lumayan fantastis tapi segera berpindah tangan karena Tara langsung memakainya untuk ganti rugi. Sementara sisanya Erlangga bilang akan diserahkan sebagai mas kawin ketika mereka menikah 'pura-pura' nanti.
Pura-pura hanya statusnya, tapi prosesi yang dijalani tetap legal dan sah. Jadi, diam-diam Tara berjanji pada dirinya sendiri dia akan menjadi istri yang baik untuk Erlan nanti, meski tahu tidak akan gampang. Dengan catatan, tidak ada sentuhan fisik, hanya sebatas menjalankan perannya sebaik mungkin.
"Tar, Mas mohon batalkan rencana kamu sama Erlan, ya." Naka menatap nanar sang adik. Dari sorot matanya tersirat percik tak suka ketika menyebut nama Erlangga.
Respons Gistara? Gadis itu menggeleng pelan.
"Why, Tara?!" Berontak Naka.
"Udah terlanjur, Mas. Enggak mungkin aku batalin rencana ini, kalau kayak gitu Erlan bakal nuntut aku."
"Peduli apa sama ancaman dia, Tar?!"
"Erlangga enggak main-main soal ancamannya, Mas." Gistara sering mendengar perihal seseorang yang jatuh cinta tidak bisa dinasihati, seakan nalarnya rusak, tidak berfungsi sebagaimananya. Dan, Tara menyaksikan sendiri hal itu terjadi pada Erlangga. Bulol alias bucin tolol mengalahkan logikanya sebagai laki-laki dewasa. Gimana tidak tolol, kalau demi cintanya pada Naima, lelaki itu rela melakukan apa pun. Merogoh materi yang tidak sedikit, hanya demi menjalani hubungan kamuflase guna menutupi hubungan sebenarnya dengan perempuan bernama Naima itu.
Naka meremas rambutnya frustrasi. "Kalau saja dulu Mas enggak kasih saran superbego sama kamu, Tar."
"Udahlah Mas Naka jangan gitu, biarin aku jalanin semuanya, kita lihat aja nanti kedepannya gimana." Apalagi memangnya yang bisa Tara lakukan selain pasrah?
"Tapi Mas enggak rela kamu dipermainkan sama Erlangga."
Tara menggeleng pelan. "Enggak akan, Mas. Aku bakal lebih hati-hati sama Erlan. Lagian pernikahan ini cuma satu tahun, Mas, aku cuma harus bersabar sebentar aja."
Gistara tahu, dari airmuka Naka tampak jelas lelaki itu memancarkan rasa sesal. Tidak hanya itu, Tara bisa menangkap aroma kebencian Naka pada Erlan menguar pekat dari ekspresinya.
Gistara cukup tahu diri untuk tidak merepotkan atau membebani Naka. Setelah deraan pandemi yang melanda seluruh dunia beberapa waktu lalu, Naka sedang berjuang merintis kembali bisnis F and B yang sempat ambruk diterjang badai pandemi Corona. Semua orang sedang berjibaku dengan perjuangannya, termasuk Tara saat ini.
"Kalau dia macam-macam sama kamu, jangan ragu ceritain sama Mas, Tar. Mas janji akan bikin Erlangga menyesal."
Haru meruangi perasaan Tara di antara anggukannya pada Naka. "Makasih ya, Mas. Maaf, gara-gara Tara pertemanan Mas Naka sama Kak Erlan jadi buruk sekarang ini."
Kibasan tangan Naka ke udara sebagai implikasi tidak setuju dengan kalimat sang adik.
"Kalau buruk ya buruk aja, memang dianya udah buruk dari dulu, Tar."
Gistara mengangguk, meski tak sepenuhnya setuju dengan pendapat Naka. Hidup kedepannya tidak ada yang tahu, siapa sangka nanti lama-lama Erlan akan sadar dan berubah menjadi lebih baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bamboozle
Romance©hak cipta sepenuhnya dilindungi oleh Allah SWT. [Blurb sementara] "Menikah dengan saya, maka permasalahan kamu terselesaikan," ujar Erlangga disertai ekspresi datarnya. Erlangga Putra Danapati butuh status. Sementara Gistara Swasti Padmaja butuh...
