"Terus kamu maunya gimana? Emangnya aku tahu bakalan jadi kayak gini, jangan bisanya cuma nyalahin Mas! Dari awalnya harusnya kamu sudah sadar risiko serta konsekuensinya."
Gistara mendengkus beberapa kali. Gurat di kening bertumpuk berkali lipat. Berusaha menahan amarah, merespons ledakan protes Erlan dengan tetap tenang. Andai kesabarannya setipis tisu dibela empat, mungkin saat ini gelas minuman di depannya sudah mendarat manis di kepala Erlangga. Dalam situasi seperti ini Gistara berhasil mengafirmasi diri sendiri, 'jangan marah, bagimu surga' dia refleksikan untuk dirinya sendiri.
Lagi pula Erlangga memang aneh. Harusnya lelaki itu sadar jika memilih sebuah hal, sudah pasti, barang tentu akan sepaket dengan risiko serta konsekuensinya. Jangan mau enaknya doang. Lagian Tara pikir syarat yang diajukan papanya kasih masih dalam taraf wajar, kok. Mana ada seorang ayah, apalagi putrinya semata wayang, yang tidak pernah membawa laki-laki asing ke rumah. Yang tidak pernah dekat dengan cowo, yang jarang berinteraksi dengan pria selain kakak, saudara dan papanya, lantas tiba-tiba datang laki-laki menyatakan ingin melamar putrinya? Mungkin, hanya ayah yang tidak peduli pada masa depan putrinya yang dengan mudah melepas anak gadisnya tanpa mencari tahu dulu seperti apa lelaki yang akan diklaim sebagai calon mantu.
"Saya enggak bisa jadi imam salat, Tara."
Gistara menggeleng samar. Benar-benar si Erlan-Erlan ini. KTP Islam, tapi ditantang jadi imam salat langsung jiper.
"Kamu udah terlanjur mengiakan syaratnya papa, Mas." Peringat Gistara. "Lagian apa susahnya sih, kamu Islam, kan? Orang Islam pasti bisa salat." Sengaja menekankan kalimatnya, Tara ingin membuat Erlangga merasa tersindir. "Baca aja yang gampang kayak Al-Muawwidzatain," imbuh Tara.
Erlangga menggeleng tegas. Rahang tegasnya mengetat mereaksi ucapan Tara. "Saya enggak paham maksud kamu, Tara."
Gistara membuang napas. Al-Muawwidzatain, surah pendek, tiga Qul. Masa gitu aja kamu enggak tahu, Mas?!" Semburnya tanpa perlu berusaha bertutur lembut. Toh mau sebaik apa pun, selembut apa pun sikap Gistara di mata Erlan tetap saja dia dianggap bocah polos yang gampang disetir sesuka hati lelaki itu.
Jadi, Gistara tidak perlu repot-repot jaga imej untuk Erlangga.
"Saya enggak mau tahu, pokoknya kamu harus bisa menjelaskan sama papamu, kalau saya enggak bisa jadi imam salat. Alasan apa terserah kamu." Erlangga kukuh pada pendirian.
"Ya enggak perlu alasan, aku tinggal bilang kalau Mas Erlan enggak pernah salat, jadi enggak bisa jadi imam salat."
"Kamu mau bunuh saya, Tara?!" Pupil mata Erlan refleks membesar mendengar pernyataan Gistara. Mulutnya melontarkan protes tanda tak setuju.
Gistara meluruhkan bahu lunglai. Lelah sekali menghadapi sikap keras kepalanya Erlangga. "Mas Erlan ini pernah ngaji, enggak, sih?" KTP Islam, tapi kalau seumur hidup tidak pernah belajar ngaji, apa masih pantas disebut muslim? Geram membayang di Kedua mata Gistara.
"Pernah!" sahut Erlan tegas. "Saya bukan enggak bisa, tapi lupa, Tara."
"Ya udah tinggal dihapalin lagi, Mas!"
"Kamu bantuin saya hapalan."
Gistara menunjuk dirinya sendiri. "Aku lagi?" Ini bukan protes, tapi mutlak kalimat keberatan. Kenapa harus dia lagi sih yang repot?!
"Saya butuh waktu, dua mingguan. Selama itu kamu harus kasih alasan ke papamu, bilang saja kalau saya harus ke luar kota ada kerjaan mendesak yang enggak bisa ditinggal."
"Aku enggak mau bohong lagi, Mas Erlan." Gistara merasa menjadi pendosa besar, setelah bertemu dan membuat kesepakatan bersama Erlangga, jika dikalkulasikan kebohongan yang dia lakukan meningkat drastis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bamboozle
Romance©hak cipta sepenuhnya dilindungi oleh Allah SWT. [Blurb sementara] "Menikah dengan saya, maka permasalahan kamu terselesaikan," ujar Erlangga disertai ekspresi datarnya. Erlangga Putra Danapati butuh status. Sementara Gistara Swasti Padmaja butuh...
