42. Double Date

120 6 0
                                        

Satu bulan kemudian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Satu bulan kemudian...

Tanpa terasa, sudah sebulan sejak Aznii memulai proses untuk bangkit dan melupakan. Haqi dan pacarnya seakan menghilang begitu saja dari kehidupannya, dan Aznii pun mulai melepaskan bayang-bayang mereka. Mungkin kadang-kadang, kenangan itu masih datang—terutama ketika ia merasa seperti dejavu. 

Selama satu bulan itu, Aznii kembali menemukan kenyamanannya dalam dunia Wattpad dan film. Ketika ia merasa kosong, ia melarikan diri ke dalam cerita-cerita fiksi, membiarkan diri tenggelam dalam dunia lain untuk melupakan sejenak perasaan yang mengganggu. 

Rena, sepupunya yang ceria, tak henti-hentinya menanyakan kabar Aznii. Setiap hari, Rena mengirimkan pesan dan bertanya bagaimana keadaannya, memastikan bahwa Aznii baik-baik saja. Teman-temannya pun tak kalah sibuk, sering kali memberondong Aznii dengan pesan penuh perhatian. 

Aznii merasa tersentuh. Ternyata banyak orang yang menyayanginya. Gavin, meski jarang bertemu, juga sering menghubunginya untuk memastikan kabarnya. 

Hari ini, Aznii berniat keluar rumah karena semalam Dira mengajaknya bertemu. Sudah lama mereka tidak keluar berdua, mengingat kesibukan masing-masing. 

“Mau ke mana, Kak?” tanya Bundanya dengan lembut, ketika Aznii hendak berangkat. 

“Mau pergi sama Kak Dira, Bun,” jawab Aznii dengan wajah cerah, penuh antusiasme. 

Selama seminggu terakhir, Aznii telah kembali menjadi dirinya yang dulu—cerewet, ceria, dan kadang sedikit jahil. 

“Mau ke mana lo?” tanya Dika yang baru saja turun dari tangga. 

“Dih! Kepo banget lo,” jawab Aznii dengan sindiran ringan. 

“Dih! Pelit banget lo,” Dika membalas. 

“Dih! Terserah gue dong,” Aznii menggoda. 

“Nanti kalau pulang, nitip beliin jajan, ya,” Dika menyebutkan permintaannya. 

“Mau duit lo,” Aznii membalas, sambil tersenyum nakal. 

“Pakai duit lo lah. Pelit banget lo!” Aznii bergumam. 

“Lo kan punya duit sendiri.” 

“Sttt! Udah-udah. Sana, Kak, buru-buru berangkat. Nanti Kak Dira nungguin,” sahut Alena, sang adik, yang sudah tidak sabar. 

“Iya, Bun. Aznii pergi dulu ya,” Aznii pamit dengan penuh kasih. 

“Jaga diri ya, Kak, hati-hati di jalan,” Alena mengingatkan. 

“Iya, Bunda sayang,” Aznii mencium punggung tangan Bundanya dengan lembut. 

“Assalamualaikum.” 

“Waalaikumsalam,” jawab keluarga Aznii bersamaan. 

Aznii langsung melangkah keluar rumah dan memasuki mobil. Perjalanan menuju restoran yang telah disepakati dengan Dira terasa lancar, dan begitu sampai, Aznii langsung masuk ke dalam restoran. Tak lama, ia pun menemukan Dira yang sudah menunggu di meja yang telah mereka tentukan. 

Enemies to Lovers [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang