Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶
Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.
🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨
🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧
**Terima kasih,Salam Pena**
❤️😙😁😆❤️
*******∆*******
🚨🚧Warning long chapter🚧🚨
Matahari semakin naik, menyelimuti hutan yang masih sunyi setelah pertempuran sengit tadi. Angin musim gugur berhembus pelan, membawa aroma darah yang masih melekat di udara.
Tugasnya sudah selesai.
Daisy berjalan gontai, tubuhnya terasa semakin berat seiring dengan setiap langkah yang ia ambil. Pedangnya terseret sedikit di tanah, menciptakan jejak tipis di antara dedaunan yang gugur.
"Aku harus segera menemui Caroline dan setelahnya aku ingin istirahat..."keluhnya lemah, namun saat ia hampir mencapai kudanya, sesuatu membuatnya berhenti.
Perasaannya tidak enak.
Matanya yang kelelahan perlahan menoleh ke belakang, menatap ke arah pohon besar yang berdiri kokoh di tengah rerimbunan hutan. Dari balik batangnya yang lebar, tiga pasang mata kecil mengintip ketakutan.
Tubuhnya semakin lemah dan Dia merasa sudah hampir kehilangan kesadaran.
Namun Daisy tak bisa mengabaikannya, Matanya birunya yang meredup memandangi anak-anak kecil yang meringkuk, tubuh mereka gemetar, wajah mereka kotor dan pucat.
"Huft...."
Daisy melirik luka di perutnya yang masih terus mengeluarkan darah, akibat serangan armagant tadi.
"Jika aku pergi sekarang... bukankah mereka bisa dimangsa monster lain?"
Daisy mengerang pelan, menyesali hati nuraninya sendiri.
"Sial... aku benci perasaan ini."
Tangannya mencengkeram erat perutnya yang terluka. Darah segar masih terus merembes keluar, meski tertutup jubah hitamnya. Rasa sakit itu terus menjalar ke seluruh tubuhnya, tetapi dia tak bisa mengabaikan anak-anak itu.
Dengan sisa tenaga, dia menyeret langkahnya mendekati pohon itu. Pedangnya masih tergenggam erat, meski tangannya mulai bergetar.
Setelah berdiri di hadapan anak-anak itu, Daisy menatap mereka dengan lelah.
"Apa yang kalian lakukan di sini sendirian?" tanyanya, suaranya sedikit serak karena kelelahan.
Namun, bukannya menjawab, ketiga anak itu malah semakin menggigil ketakutan.
Daisy mengernyit.
"Kenapa mereka masih takut? Bukankah aku baru saja menyelamatkan mereka?"pikirnya bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Story Change (END)
RomanceNara, seorang gadis biasa yang begitu menyukai novel. Namun, setelah kelelahan akibat sakit yang dideritanya, Nara terbangun sebagai Daisy dalam dunia novel yang pernah dibacanya sebagai.Daisy, karakter yang bahkan tidak pernah disebutkan dalam ce...
