BAB LXXIV - Miracle -

4.4K 557 126
                                        

Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶

Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.

🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨

🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧

**Terima kasih,Salam Pena**

❤️😙😁😆❤️

*******∆*******

Perlahan, kelopak mata Daisy bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit demi sedikit. Dunia menyambutnya dengan kegelapan samar. Pandangannya kabur, dan untuk beberapa saat ia hanya bisa menatap kosong ke langit-langit tanpa mengenali apa pun di sekitarnya.

Ia hanya terbaring diam, membiarkan dunia yang suram dan bisu itu menelannya. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar.

"Apa aku... sudah mati?" gumamnya lemah.

Namun kenyataan datang tanpa ampun, seperti gelombang pasang yang menerjang. Rasa sakit mencabik seluruh tubuhnya. Perih, nyeri, panas... semuanya bercampur menjadi satu. Napasnya tercekat. Tubuhnya terasa remuk.

Ia mengerang lirih. Rasa sakit itu begitu nyata hingga menyadarkannya bahwa ia masih hidup.

Sambil menggigit bibir untuk menahan nyeri, Daisy mencoba menyusun kembali kepingan ingatannya.

Ciuman.

Itu hal terakhir yang ia ingat. Ia mencium Isaac... sebuah tindakan nekat, gila, dan sangat putus asa. Didukung oleh harapan kecil bahwa mungkin, entah bagaimana hal bodoh itu bisa menyelamatkannya. Lalu ledakan besar itu datang seperti akhir dunia, menelannya dalam rasa sakit dan keputusasaan.

Yang paling gila dari semuanya... sepertinya ide itu berhasil.

Melihat bahwa dia masih hidup sekarang.

Dengan perlahan, ia memfokuskan pandangannya. Setelah beberapa saat, ia menyadari ruangan ini tidak sepenuhnya gelap.

Cahaya remang beberapa lilin aromaterapi menyala di sudut ruangan, melemparkan bayangan lembut ke dinding. Sinar bulan menembus celah gorden, menciptakan pola cahaya samar yang bergerak lembut tertiup angin malam.

Daisy menatap kanopi di atasnya... samar-samar tampak lukisan malaikat bersayap yang membentuk kisah mitologi. Lukisan umum di dunia ini yang menegaskan bahwa ia memang masih hidup.

Daisy menelan ludah perlahan. Tenggorokannya kering dan perih.

"Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri...?"

Ia tak tahu. Tapi langit di luar gelap. Tubuhnya terasa lemah dan nyeri setiap kali bergerak. Itu tanda bahwa ia sudah cukup lama tidak sadar.

Tubuhnya begitu berat, bahkan untuk sekadar bernapas.

Setelah beberapa lama terbaring diam, Daisy memberanikan diri untuk bangkit. Setiap Daisy bergerak rasa sakit menjadi semakin jelas menjalar seperti pecahan kaca yang menusuk tubuhnya. Dengan susah payah, setelah waktu yang terasa sangat panjang, ia akhirnya bisa duduk bersandar pada kepala ranjang.

The Story Change (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang