BAB LXIX - Misunderstanding -

3.4K 412 47
                                        

Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶

Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.

🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨

🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧

**Terima kasih,Salam Pena**

❤️😙😁😆❤️

*******∆*******


Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menggigit hingga menembus lapisan gaun yang dikenakan Daisy. Langit di atas istana tampak mendung, kelabu, seolah menunggu waktu untuk menumpahkan hujan.

Daisy berdiri sendirian di balkon, memunggungi pesta yang masih berlangsung. Denting musik dansa dan suara tamu yang berbincang terdengar samar dari kejauhan.

Beberapa menit lalu, ia baru saja menyelesaikan dansa dengan Alexander. Tanpa sepatah kata pun, Daisy membungkuk sopan, lalu berjalan menjauh, meninggalkan aula pesta yang penuh sorak dan tawa.

Ia bisa mendengar namanya dipanggil berkali-kali oleh pria itu. Namun ia tidak menoleh. Kepalanya pening. Dadanya sesak.

Dunia di sekelilingnya terasa terlalu ramai dan bising, membuat kepalanya terasa berputar.

Pundaknya bergetar ringan, bukan karena dingin, melainkan karena tekanan yang perlahan menumpuk. Ucapan-ucapan sarkastik yang ia dengar sepanjang malam kembali terngiang. Hinaan, cibiran, tatapan sinis. Semuanya menusuk, dan kini, telinganya terasa panas.

Daisy hanya berdiri termenung , membiarkan hawa dingin malam itu menyelimutinya, seakan itu adalah temannya. Gaunnya yang terbuka di bagian bahu pun tak membuatnya menggigil kedinginan. Itu hal yang biasa baginya sekarang.

Tes.

Setetes air jatuh di tangannya dan seketika membeku dengan cepat. Daisy menengadah, membiarkan hujan yang mulai turun menyentuh kulitnya sebelum membeku dalam sekejap.

"Aku ingin pulang," bisiknya lirih, lebih kepada dirinya sendiri. "Mengapa aku harus berada di sini lagi...?"

Daisy menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon, matanya setengah terpejam ketika tiba-tiba terdengar suara -srekk-gorden disibakkan dari dalam.

"Mr. Smith, kau sudah membawa bronis-"

Plak.

Suara Daisy terputus oleh sebuah tamparan mendadak.

Daisy terdiam. Pipinya berdenyut panas. Ia mengangkat wajahnya perlahan, matanya membulat menatap pelaku di depannya.

"Nona Rose...?" tanyanya nyaris tak percaya, suaranya bergetar oleh keterkejutan. "Apa yang anda lakukan? Kenapa anda menampar saya?"

Di depannya, berdiri seorang gadis muda dalam gaun merah menyala. Rambut panjang berwarna serupa terurai elegan di bahunya. Wajahnya memerah karena amarah, dan di belakangnya, dua orang kesatria pribadi berdiri tegap, memperkuat aura ancaman yang sengaja ia bawa untuk mengintimidasi.

The Story Change (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang