BAB LXIV - Selamat Tinggal -

3.5K 362 58
                                        

Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶

Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.

🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨

🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧

**Terima kasih,Salam Pena**

❤️😙😁😆❤️

*******∆*******

Daisy merasa ada hawa dingin yang mengalir lembut menyentuh kulitnya, disusul angin sejuk yang menari pelan di sekitar tubuhnya. Samar-samar, di tengah keheningan yang tak biasa, ia mendengar suara merdu memanggil namanya. Lembut... hangat....

"Daisy..."

Perlahan, matanya terbuka. Pandangannya masih kabur, tapi kemudian fokusnya mulai pulih-dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah seseorang yang begitu cantik, berdiri tepat di hadapannya. Seorang wanita. Begitu anggun dan cantik.

Rambut pirang keemasan tergerai dengan anggun, berkilau seperti benang cahaya. Matanya berwarna emas, memancarkan kehangatan dan ketegasan sekaligus. Di atas kepalanya bertengger sebuah mahkota emas.

Daisy tertegun, karna melihat pemandangan yang tak asing baginya.

"Bagaimana kabarmu selama ini, Daisy?" tanyanya lembut, sambil membelai kepala Daisy. Sentuhan itu membuat Daisy sejenak terlena.

"Dewi Iris...?" gumam Daisy.

Wanita itu hanya tersenyum singkat sebagai jawaban.

Segera Daisy tersentak dan sepenuhnya sadar. Ia segera bergerak menjauh, matanya menatap sekeliling dengan bingung.

Sebuah pohon raksasa berdiri tak jauh, daunnya berkilauan keemasan. Hamparan bunga berbagai warna terbentang sejauh mata memandang, dan langit di atas.... tak lagi berwarna biru. Sebuah awan berbentuk aneh terhampar sejauh mata memandang. Warna-warnanya tidak wajar, seperti Sebuah lukisan.

"Pohon kehidupan..." gumam Daisy, seolah tidak percaya. "Tidak, tidak...mungkin. Bagaimana bisa aku berada disini, lagi?" tanyanya bingung.

Iris, sang Dewi, kini duduk tenang di atas tumpukan awan melayang, tampak tak terganggu oleh pertanyaan itu.

"Apa saya... sudah mati?" tanya Daisy lagi, kali ini dengan nada takut.

Iris menggeleng pelan, senyum kecil masih menghiasi wajahnya. "Bukan... Aku yang memanggilmu kemari, ada hal penting yang ingin kubicarakan."

Ia lalu memberi isyarat pada Daisy untuk duduk di salah satu awan melayang yang tiba-tiba muncul di dekat mereka. Daisy ragu, tapi akhirnya menuruti. Ketika ia sudah duduk, Iris berbicara lagi, suaranya sangat lembut seperti sebuah nyanyian sebelum tidur.

"Kenapa... kau melakukannya Daisy?"

"Apa maksud anda?"tanya daisy bingung. " Memangnya apa yang telah saya lakukan?"

"Isaac masih hidup. Pria itu seharusnya sudah mati."

Pertanyaan itu membuat nafasnya tertahan. Ia tidak menyangka pembicaraan akan langsung mengarah ke sana.

The Story Change (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang