Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶
Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.
🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨
🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧
**Terima kasih,Salam Pena**
❤️😙😁😆❤️
*******∆*******
Keesokan paginya, Daisy duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya tanpa sadar melirik ke sudut kamarnya.
Di sana, Isaac duduk di balik meja kerja. Ia mengenakan kemeja putih polos dengan lengan tergulung hingga siku. Pria itu tampak sibuk meneliti dokumen-dokumen yang bertumpuk rapi di hadapannya.
Akhirnya terjawab sudah siapa pemilik meja, kursi, dan berkas-berkas penting yang memenuhi ruangan ini.
Semuanya milik Isaac.
Wajahnya terlihat serius. Sebuah kacamata bertengger di pangkal hidungnya yang tinggi, memberi Kesan lebih dewasa dan tenang. Pria itu sudah berada di kamar itu sejak Daisy membuka mata pagi tadi, bahkan sempat mengucapkan "selamat pagi" dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Padahal kemarin Daisy sudah menegaskan semuanya. Ia telah memintanya untuk tidak datang lagi.
Namun lihatlah, pria itu malah dengan tenangnya menjadikan kamar Daisy sebagai ruang kerjanya.
Daisy sebenarnya ingin mengusirnya. Tetapi ia sadar, di tempat ini ia hanyalah tamu sedangkan Isaac adalah pemiliknya.
Saat mata mereka tanpa sengaja bertemu, tubuh Daisy langsung menegang.
"Sayang, kau membutuhkan sesuatu?" tanya Isaac lembut.
Daisy segera memalingkan wajahnya.
Jangan tertipu, gumamnya dalam hati.
Tak lama kemudian, Marry masuk membawa sarapan. Isaac berdiri dari kursinya, berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang Daisy.
"Sayang, kau harus makan lebih banyak agar cepat sembuh," ucapnya hangat.
Ketika Isaac hendak menyuapinya, Daisy langsung menghentikan gerakannya.
"Tidak perlu... saya bisa melakukannya sendiri," katanya sambil meraih sendok dari tangannya.
Meski sekali lagi mendapat penolakan, Isaac tetap tersenyum seolah tak terganggu sedikit pun.
Daisy mulai menyendok bubur itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Namun entah karena gugup atau karena tatapan Isaac yang tak lepas darinya, ia bahkan tak yakin apakah bubur itu benar-benar masuk ke mulutnya atau kehidungnya.
Rasanya hambar. Tenggorokannya terasa panas dan sesak . Daisy sangat ingin memuntahkannya kembali.
Di sisi lain, Isaac terus memperhatikan setiap gerakannya dengan penuh perhatian. Tatapan itu membuat Daisy semakin tidak nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Story Change (END)
RomanceNara, seorang gadis biasa yang begitu menyukai novel. Namun, setelah kelelahan akibat sakit yang dideritanya, Nara terbangun sebagai Daisy dalam dunia novel yang pernah dibacanya sebagai.Daisy, karakter yang bahkan tidak pernah disebutkan dalam ce...
