BAB LXXVII - The True -

4K 521 58
                                        

Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶

Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.

🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨

🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧

**Terima kasih,Salam Pena**

❤️😙😁😆❤️

*******∆*******

Daisy hampir terlelap ketika suara ketukan.

Tok. Tok. Tok.

Ia membuka mata dengan kesal.
"Siapa lagi yang datang malam-malam begini?" gumamnya sambil perlahan duduk. "Apa itu Isaac? Tapi.... itu tidak mungkin dia baru saja pergi? "

Tok. Tok.

Suara itu terdengar lagi, lebih jelas kali ini. Daisy mengerutkan kening. Ia melirik ke pintu, lalu ke arah jendela, bergantian, mencoba memastikan dari mana suara itu berasal.

Hingga ia menyadari sesuatu.

"...Suara itu bukan dari pintu," gumamnya. "Orang waras mana yang bertamu lewat jendela malam-malam begini?."

Daisy terdiam sejenak.

"Jadi siapa...?"

Matanya tiba-tiba membesar. "Tunggu... apa itu pembunuh yang datang untuk membunuhku?" Daisy menelan ludah. "Benar. Itu pasti mereka."

Sambil bergumam gugup, Daisy meraih belati yang ia sembunyikan di bawah bantal. Namun justru spontan melemparkannya jauh ke sudut ruangan.

"Kurasa aku tidak membutuhkannya lagi"

Tok. Tok. Tok.

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini terdengar mulai tidak sabar.

"Sebentar!" serunya cepat.

Daisy bergegas ke pinggir ranjang, meraih kursi roda, lalu dengan susah payah memindahkan tubuhnya ke sana. Kakinya terasa sangat kaku, dan rasa nyeri menghantam setiap kali ia menggerakkan ototnya.

"Ugh...kenapa kakiku masih saja terasa  sakit setiap kali  digerakkan?" keluhnya.

Daisy mengerakkan kursi rodanya mendekati jendela. Ia mengangkat tangan, dan dengan susah payah membuka jendela besar itu.

"Ya? Si—"

Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, hembusan udara dingin menerpa wajahnya. Bukan angin malam biasa. Dinginnya menusuk, seperti hawa es yang merayap masuk ke dalam kamarnya.

Sesuatu melesat masuk dengan cepat.

"A—apa...?" Daisy terpaku, matanya mengikuti sosok kecil itu yang berputar di udara, lalu melayang turun dan berhenti tepat di atas kasurnya.

"Kenapa kau begitu lambat, manusia? Aku lelah menunggumu."

Daisy membelalakkan mata.
"C—Cryros?!"

The Story Change (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang