BAB LXVI - Grand Duke -

3.9K 417 72
                                        

Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶

Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.

🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨

🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧

**Terima kasih,Salam Pena**

❤️😙😁😆❤️

*******∆*******

Sebuah kereta kuda hitam yang elegan meluncur perlahan di atas jalan berbatu menuju halaman Mansion Howard yang megah. Di bawah langit mendung yang menggantung rendah, roda-roda kereta menimbulkan bunyi khas yang menggema di tengah keheningan sore itu.

Begitu kereta berhenti di depan gerbang utama, dua penjaga segera melangkah mendekat.

"Berhenti. Mohon sebutkan identitas dan kepentingan Anda," ujar salah satu penjaga dengan suara tegas namun tetap sopan.

Belum sempat sang kusir menjawab, gorden kereta tersibak dengan cepat.

"Berani-beraninya kalian menghalangiku!" Suara seorang wanita muda menggema dari dalam kereta, nada bicaranya tajam dan penuh arogansi. "Segera buka gerbang itu! Aku ingin bertemu Grand Duke!"

Para penjaga tampak terkejut, namun mereka tetap menjaga sikap.

"Maaf atas kelancangan kami, Nona Houston," ujar salah satu dari mereka. "Namun saat ini, Tuan memerintahkan untuk tidak menerima tamu."

Wanita itu menyipitkan mata, lalu menyeringai kecil, sinis dan penuh ejekan.

"Kalian tidak tahu siapa aku? Aku calon nyonya rumah ini! Perintah itu jelas tidak berlaku untukku. Kalian telah membuat kesalahan besar. Buka gerbangnya sekarang juga, atau aku akan langsung mengadukan hal ini padanya!"

Para penjaga saling berpandangan, wajah mereka tampak tegang. Setelah berpikir sejenak, keduanya akhirnya menunduk dalam.

"Maafkan kelancangan kami, Nona. Kami akan segera membuka gerbangnya."

"Bagus." Wanita itu tersenyum puas. "Kalian membuat pilihan yang bijak."

Gerbang besi yang besar itu pun berderit pelan saat perlahan terbuka. Kereta kembali melaju, kini memasuki halaman luas yang dikelilingi taman indah dan air mancur.

Sesaat kemudian, kereta berhenti tepat di depan pintu utama mansion. Beberapa pengawal segera membuka pintu dan membantu wanita muda itu turun.

Dengan langkah angkuh dan suara sepatu haknya yang beradu dengan lantai anak tangga yang terbuat dari marmer, ia menaiki tangga menuju pintu utama mansion. Tak lama, pintu besar terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan wajah tenang namun mata yang penuh tanya berdiri menyambutnya.

"Di mana Grand Duke ?" tanya wanita itu dingin, sambil melemparkan kipas tangannya ke udara.

Seorang pelayan muda dengan sigap menangkap kipas itu sebelum jatuh ke lantai.

"Maaf, Nona. Saat ini Tuan sedang sangat sibuk dan belum menerima tamu..."

"Aku bukan sekadar tamu!" potong wanita itu cepat. "Aku calon nyonya rumah ini! Apakah kau lupa? Atau kau pura-pura tidak tahu?"

The Story Change (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang