Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶
Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.
🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨
🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧
**Terima kasih,Salam Pena**
❤️😙😁😆❤️
*******∆*******
Pagi itu, udara terasa sejuk dan damai menyelimuti desa tempat tinggal Daisy. Matahari belum terlalu tinggi, dan embun masih menempel di dedaunan.
Di halaman rumah kecil yang asri, Daisy duduk santai di bangku kayu favoritnya, ditemani secangkir teh hangat dan sepiring nasi goreng buatan sendiri. Rasanya memang tak seotentik seperti di dunia asalnya.Beberapa bahan khas Indonesia sulit ditemukan di tempat ini. Tapi tetap saja, cukup untuk mengobati rindunya pada kampung halaman.
Ia menyeduh tehnya perlahan, menghirup dalam-dalam udara pagi yang segar. Kicauan burung dan suara gemericik air dari sungai kecil di dekat rumahnya jadi latar suara yang menenangkan. Sesekali angin berhembus, membuat rambutnya sedikit berantakan. Membuatnya tersenyum tanpa sadar.
"Inilah hidup yang kuimpikan," gumamnya sambil tertawa kecil. "Jadi pengangguran yang nggak mikirin masalah uang... siapa yang nggak mau?"
Ia tahu, tidak semua orang bisa seberuntung dirinya. Investasinya pada batu tearstone masih terus mengalirkan dan dari uang itu setidaknya cukup untuk membiayai hidup pengangguranya hingga tua. Dia tidak perlu kerja lagi dan tak ada lagi bos pelit seperti di kehidupannya yang dulu. Hidup damai, makan enak, tidur nyenyak. Impiannya menjadi nyata.
Namun, seperti biasa, hidupnya tak pernah benar-benar damai. Karena meski tampak tenang, selalu saja ada bencana yang datang. Jangan lupakan bahaya maut yang harus dia hadapi setiap harinya dan pagi ini, bahaya itu datang dalam wujud seekor lebah.
Awalnya Daisy mengira bahwa itu hanya seekor lebah berwarna keemasan, tampak seperti lebah madu biasa. Tapi Daisy tahu lebih baik dari itu.
Di dunia ini, penampilan bisa sangat menipu dan tidak mungkin kebetulan ada seekor lebah tersesat tanpa ada maksud lain.
Seketika, naluri bertahan hidupnya berbunyi. Ia menyipitkan mata, memantau gerak-gerik si lebah yang mulai mengelilinginya dengan gerakan tak wajar.
Dengan sigap, ia meraih pedang yang selalu ia bawa disekitarnya. Sebuah kebiasaan yang terbentuk sejak serangkaian maut yang terus datang menemuinya. Jika hari ini lebah, kemarin dia kedatangan seekor anjing imut yang tampak jinak ternyata menderita rabies.
"Hah... kemarin anjing gila, sekarang lebah sialan." gerutunya, bersiap siaga.
"Kenapa? Dunia ini sangat tidak senang, ketika melihatku bersantai walau sebentar."
Tepat Seperti dugaannya.
Lebah itu kini menyerangnya langsung. Gerakannya cepat dan agresif, sama sekali tak seperti serangga biasa. Daisy melompat mundur, mengayunkan pedangnya ke arah serangga kecil itu, namun lebah itu dengan mudah menghindar. Sekali, dua kali, tiga kali-semua tebasannya meleset.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Story Change (END)
RomansaNara, seorang gadis biasa yang begitu menyukai novel. Namun, setelah kelelahan akibat sakit yang dideritanya, Nara terbangun sebagai Daisy dalam dunia novel yang pernah dibacanya sebagai.Daisy, karakter yang bahkan tidak pernah disebutkan dalam ce...
