BAB LX - "A rough day" -

5.7K 502 43
                                        

Halo semuanya terimakasih🤗 sudah mampir ke cerita ini.Sebagai penulis baru mohon dukungan dan sarannya.👏👏👏🫶🫶🫶

Selamat membaca💛🧡❤️, dan jangan ragu untuk memberikan umpan balik. Dukungan kalian sangat berarti untuk pemula seperti saya.

🚨Disarankan untuk memutar Vidio lagu diatas atau memutar lagu yang kalian rasa cocok supaya lebih bisa meresapi suasana cerita🚨

🚧Saran untuk yang tidak bisa memutar video YouTube musik diatas :saat pertama kali masuk langsung scroll ke bawah langsung,diusahain yang cepet,setelah loading kedengeran suaranya baru scroll ke atas lagi tapi jangan sampai ngelewati judul,baru baca🚧

**Terima kasih,Salam Pena**

❤️😙😁😆❤️

*******∆*******

Sore itu, langit Valmorè berpendar keemasan, seiring matahari yang perlahan merunduk di balik hamparan taman berbunga. Sebuah kafe semi-outdoor berdiri megah di tengah lanskap yang menawan, dihiasi tanaman rambat yang menjuntai dari kanopi kayu dan lampu-lampu kecil yang mulai menyala seiring senja.

Daisy duduk di salah satu sudut terbaik, meja bundar marmer yang dihiasi setangkai mawar putih dalam vas kristal. Di hadapannya, berbagai hidangan penutup tersaji rapi-croissant renyah, tart buah berkilauan, dan mousse cokelat yang tampak menggoda. Sebuah cangkir teh beraroma melati mengepul pelan di sisi tangannya. Namun, meskipun suasana di sekelilingnya begitu indah, jantung Daisy justru berdebar tidak karuan.

Bukan karena rasa kagum, tetapi karena tatapan pria yang duduk di hadapannya.

Putra Mahkota Alexander.

Pria itu menyeruput tehnya dengan menawan, setiap gerakannya begitu tenang dan terkendali, seolah dunia di sekitarnya tidak ada. Namun, sorot matanya yang keemasan tetap terarah padanya.

Daisy, di sisi lain, hanya bisa menunduk, berusaha menghindari tatapan pengunjung cafe ini yang sesekali melirik ke arah mereka. Meskipun kafe ini cukup eksklusif dan dijaga dengan ketat, kehadiran seorang pangeran mahkota, kekaisaran yang agung jelas menarik perhatian.

"Aku menunggu penjelasan darimu," suara pria itu terdengar santai , namun ada nada perintah yang sulit dibantah di dalamnya.

Daisy berusaha tersenyum, meskipun dalam hatinya ia ingin sekali mengumpat.

"Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya mendapatkan buku besar dan bukti transaksi itu dari agen swasta yang saya sewa," ucapnya dengan nada yang ia usahakan tetap ringan dan meyakinkan.

Meskipun begitu, tangannya yang berada di bawah meja mengepal erat. Situasi ini benar-benar menyebalkan. Hari ini seharusnya berjalan lebih mudah.

Alexander menatapnya tanpa ekspresi, lalu meletakkan cangkirnya dengan tenang. "Agen swasta mana yang telah nona sewa?" tanyanya, masih dengan suara santai, meskipun jelas sekali ia tidak akan menerima jawaban asal-asalan. "Bahkan aku pun kesulitan menemukan bukti itu, tapi anehnya nona bisa menemukannya. Jika memang ada agen sehebat itu, mungkin aku juga harus mempertimbangkan untuk menyewa jasanya."

Daisy menahan napas.

Sial! Kenapa putra mahkota ini cerewet sekali?!

Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan bahwa 'agen swasta' yang ia maksud adalah seekor naga yang terobsesi dengan kertas dan secara harfiah mencuri semua dokumen itu.

The Story Change (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang