DUA BELAS

205 21 2
                                        

Maaf sudah menunggu lama, dan terima kasih yang sudah setia menunggu.

Enjoy.

***

Belajar dari pengalaman, setidaknya ada tiga tahapan seleksi yang selalu Gea lakukan sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan serius dengan seseorang.

Yang pertama, Gea tidak akan ragu untuk membagikan fakta bahwa dirinya pernah hamil dan melahirkan saat usianya masih sangat muda, tujuh belas tahun. Usia di mana seseorang sedang menikmati masa remaja yang penuh warna. Menikmati segala euforia tentang dunia remaja lengkap dengan rasa ingin tahunnya yang membumbung tinggi.

Tapi Gea Anandita di usia tujuh belas tahun di paksa bertarung dengan kerasnya kehidupan. Hidup dalam kekurangan dengan bayi yang baru lahir tanpa adanya sosok pasangan tentu bukanlah perkara yang mudah untuk di hadapi. Lagi – lagi keadaan memaksa Gea untuk menjadi dewasa sebelum waktunya. Di usia tujuh belas, Gea harus bekerja keras mengais rejeki demi membantu kakek dan neneknya memenuhi kebutuhan hidup mereka berempat.

Kemudian tahapan yang kedua, Gea akan menceritakan tentang asal usulnya. Tentang dirinya yang hanyalah anak hasil hubungan gelap dan berakhir hidup dalam pengasingan tanpa tau seperti apa wajah dua orang yang berhasil membawanya lahir ke dunia ini. Tentu Gea sadar, fakta ini akan menjadi tantangan tersendiri untuk mereka ketika memasuki tahapan yang lebih serius. Ini bukan lagi tentang mereka yang di mabuk cinta, tapi ini tentang orang tua yang acap kali mempertimbangkan bibit bebet bobot pasangan anaknya. Dan suka tidak suka, asal usul nya bisa menjadi batu hambatan untuk kelanjutan hubungan mereka.

Dan yang terakhir dan yang menjadi penentuan, apakah pria itu layak untuk dia berikan separuh hatinya. Gea akan menceritakan tentang surogate yang pernah dia jalani beberapa tahun yang lalu.

Tentu saja Gea tidak akan menceritakan semuanya secara rinci alasan di balik keputusannya, cerita di balik peristiwa yang dia alami selama ini, termasuk alasannya menyerahkan hak asuh Mentari, putrinya kepada sepasang suami istri yang tiba – tiba datang ke rumahnya. Tapi semua yang Gea ceritakan adalah fakta. Karena Gea percaya, saling terbuka dengan pasangan adalah kunci awal dari berhasilnya sebuah hubungan. Dia ingin lelaki yang bersamanya adalah lelaki yang mampu menerima semua hal dalam hidupnya. Termasuk kisah kelam yang dia miliki.

Mungkin ada benarnya yang Natasha katakan dulu. Caranya ini cukup berbahaya, dirinya terlalu berani membuka rahasia penting dalam hidupnya pada orang baru. Pada seseorang yang belum dia ketahui betul seperti apa kepribadiannya. Tapi Gea pikir ini adalah cara terbaik untuk mencegahnya dari patah hati berkepanjangan. Dia hanya tidak ingin membuang waktunya untuk menginvestasikan perasaan pada seseorang, jika pada akhirnya dia hanya akan di tinggalkan ketika noda hitam dalam hidupnya perlahan terkuak. Lebih baik jujur dari awal, ketika perasaannya belum terlalu dalam, meskipun ada konsekuensi yang harus dia terima. Patah hati, kekecewaan dan perasaan semacamnya.

Dan pada titik ini Gea bersyukur Kevin menerima pilihan hidupnya dengan cara yang bijak. Tanpa ada penghakiman tentang keputusannya di masa lalu. Tanpa ada pertanyaan menyudutkan. Kevin memahaminya dan bagi Gea itu sudah lebih dari cukup.

Namun sebagai manusia biasa, ada kalanya pikiran negatif muncul dalam benaknya tanpa bisa di cegah. Apakah semuanya akan tetap sama jika Kevin bukanlah seseorang yang mengunakan jasanya? Apakah pria itu akan tetap menerima Gea sebagai mana Kevin menerimanya saat ini? Pertanyaan – pertanyaan semacam itu acap kali muncul tanpa mengenal waktu. Tidak peduli apa yang sedang dia lakukan, tidak peduli sedang di mana dirinya, pikiran – pikiran itu bisa muncul dengan begitu saja.

"Lagi mikirin apa?"

Seperti sekarang contohnya, saat Kevin tengah mencumbu mesra bibirnya, pikiran konyol itu menyusup tanpa permisi dan dengan seenaknya mengambil alih seluruh atensinya.

"Saya perhatikan akhir – akhir ini kamu sering tiba - tiba melamun. Ada yang menganggu pikiran kamu?"

Gea menggeleng dengan senyum tipis menghiasi wajah cantiknya. "Bukan sesuatu yang penting kok."

"Kamu yakin?" tanya Kevin dengan sebelah alis terangkat.

Kepalanya mengangguk seraya berkata, "It's not big deal mas. Cuma masalah sepele."

"Kalau hanya masalah sepele tidak akan menyita perhatian kamu, Gea," sahut Kevin sebelum mengambil satu batang rokok kemudian menyalakannya. "But, it's okay. Saya hargai keputusan kamu jika memang belum bisa berbagi cerita dengan saya."

Gea menghela napas panjang. Punggungnya menyandar pada sofa dengan mata menatap langit – langit apartemen yang berwarna putih dengan corak awan.

"Aku cuma nggak mau buang waktu berharga kamu dengan mendengarkan cerita nggak penting aku."

Untuk sejenak suasana menjadi hening. Keduanya sama – sama diam, sibuk berkutat dengan pikiran masing – masing.

"Menurut kamu, hubungan kita ini hubungan yang seperti apa?" tanya Kevin, memecahkan keheningan. Kepalanya lantas menoleh, menatap Gea dengan intens. "Mari kita samakan persepsi kita terlebih dahulu."

Gea bergeming. Tiba – tiba lidahnya terasa kelu. Seolah perempuan itu kehilangan kemampuan berbicara.

"Kamu sendiri gimana?"

"Saya?" Kevin bertanya dan Gea mengangguk sebagai jawaban. Membalas tatapan pria itu.

"Bagi saya, hubungan kita bukan hanya untuk bersenang – senang semata, Gea. Hubungan yang sedang saya usahakan dengan kamu adalah hubungan dewasa dengan komunikasi yang baik. Sebuah hubungan yang mampu memberikan rasa aman dan nyaman untuk satu sama lain. Karena tiga hal itu adalah bekal penting ketika kita menikah nanti."

"Memangnya kamu mau nikahin aku?"

"Kenapa pertanyaan kamu terdengar tidak masuk akal?"

Gea menghela napas panjang. Sepenuhnya memposisikan diri untuk menatap Kevin.

"Coba lihat diri kamu mas. Kamu baik. Dari keluarga baik – baik. Punya pekerjaan yang juga nggak kalah baik. Orang sesempurna kamu sudah sepantasnya dapat yang sama sempurnanya. Yang nggak kalah hebat dari kamu. Dan yang pasti seseorang dengan asal usul yang jelas," kata Gea. "Sedangkan aku? Justru sebaliknya. Asal usul aku nggak jelas. Siapa dan seperti apa orang tuaku, nggak ada yang tau. Gimana kalau ternyata aku menawarisi sifat jelek orang tuaku? Kata orang, buah jatuh nggak jauh dari pohonnya kan?"

"Pertama, saya nggak sesempurna seperti apa yang kamu kira. Kalaupun sekarang kamu belum menemukan kekurangan saya bukan berarti saya tidak memiliki kekurangan. Saya cuma manusia biasa. Jangan berpatok pada diri saya sembilan tahun yang lalu, people change, begitupun juga dengan saya."

Ada jeda sejenak yang Kevin ambil sebelum meneruskan kalimatnya. Sekali lagi pria itu menangkupkan kedua tangannya pada pipi Gea. Bermaksud menarik seluruh atensi perempuan itu.

"Yang kedua, jangan pandang rendah diri kamu sendiri. Seperti yang saya bilang tadi, kita cuma manusia biasa. Kita nggak punya kuasa buat memilih untuk di lahirkan di keluarga yang seperti apa. Jadi jangan pernah bebani hidup kamu dengan menanggung kesalahan kedua orang tua kamu. Itu sama aja kita menyalahkan Tuhan. Toh ketika kita lahir, kita hanyalah kertas putih yang siap untuk di beri berbagai jenis warna. Dan ini lah kamu yang sekarang, hidup kamu penuh dengan berbagai warna. Kamu bisa berdiri dengan kaki kamu sendiri. Kamu pekerja keras dan kamu tau bagaimana cara untuk menikmati hasil kerja keras kamu. Di mata saya itu adalah pecapaian yang sangat luar biasa. Ketika kita bermanfaat buat orang lain."

"Apa kamu akan tetap ngomong seperti ini kalau semisal aku bukan orang yang mengandung anak kamu mas?" Tanya Gea, balas menatap Kevin, tidak kalah serius. "Atau katakanlah kamu baru tau kalau di dunia ini ada perempuan yang rela menyewakan rahimnya demi uang. Apa kamu masih akan bersikap yang sama?"

"Melakukan surrogate ataupun tidak, itu tidak akan mengubah sudut pandang saya terhadap orang lain Gea. Karena saya sadar, bukan kapasitas saya untuk menilai apalagi menghakimi kehidupan orang lain. Saya percaya, pada dasarnya setiap manusia itu baik. Terkadang lingkungan, tuntutan hidup yang membuat mereka melakukan hal yang kurang baik. Dan setiap manusia pasti pernah melakukan satu kesalahan, baik di sengaja atau tidak. Karena kita cuma manusia biasa." 

*** 


DANDELION | MOVE ON SERIES ( NEW VERSION )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang