"Saya cari dari tadi, ternyata kamu di sini."
Gea menoleh kala merasakan sebuah kecupan singkat di atas di pundaknya yang terbuka sebelum sebuah jas hitam tersampir di atasnya.
"Kenapa nggak telepon?" Gea balik bertanya sebelum meneguk sisa Whiskynya dalam sekali tegukan.
"Ponsel saya mati. "
"Mati?" Sebelah alisnya terangkat, sangsi. "Bukannya sebelum berangkat sudah di isi dayanya?"
Kevin tak langsung menjawab. Tangan kirinya merogoh saku celana kemudian mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang layarnya sudah retak dengan kondisi mati total.
"Tadi jatuh karena tidak sengaja tersenggol waiters."
"Oh." Gea hanya mengangguk sebagai jawaban. Imbas dari perasaannya masih campur aduk.
"Mau pulang sekarang?"
"Acaranya belum selesai."
"Tidak papa, tadi saya sudah pamit dengan yang punya acara."
Maka tanpa membuang waktu lebih lama Gea segera beranjak dari duduknya.
"Ya udah ayo."
Keduanya lantas jalan bersisian, dengan tangan kanan Gea yang melingkar di lengan Kevin. Sesekali bibir pria itu menyunggingkan senyum tipis kala berpapasan dengan beberapa orang yang Gea tidak kenal.
Lagi – lagi tak ada yang bersuara. Keduanya sama – sama diam, sibuk dengan pikiranya masing - masing. Hanya ada pantulan suara alas kaki yang beradu dengan lantai marmer.
"Kita pamit dengan teman saya dulu ya?"
Menurut, Gea hanya mengikuti tiap langkah yang Kevin ambil hingga langkah keduanya berhenti pada sekumpulan pria yang berada di sudut ruangan. Nampak berbincang santai dengan segelas wine di tangan masing – masing.
"Jadi pulang duluan, Vin?"
Yang di ajak bicara mengangguk tanpa melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Gea.
"Is it your girlfriend?" temannya yang lain bertanya. Seorang pria yang mengenakan jas biru dongker. Rambut panjangnya di kuncir rapi, badannya tegap dengan otot yang tidak berlebihan. Alisnya tebal dengan jambang tipis di area dagu. Terlihat paling maskulin di antar empat pria lainnya.
Kevin mengangguk tipis, tangannya yang berada di pinggang Gea menarik tubuh perempuan itu untuk semakin merapat ke tubuhnya sebelum berkata, "Gea, kenalkan ini teman – teman saya sewaktu kuliah."
Gea tersenyum tipis, menjabat satu persatu tangan teman Kevin yang terulur ke arahnya. Menyebutkan namanya dengan sopan. Tak ada sedikitpun intensi untuk menebarkan pesonanya, seperti biasanya. Gea tidak bodoh untuk memahami dari perilaku Kevin yang seolah mencoba untuk membuat tanda kepemilikan pada teman – temannya.
"Singaporean or Indonesian?"
"Indonesian," ujar Gea menjawab pertanyaan Antony. Pria terakhir yang ia jabat tangannya.
"You look so familiar. SMA di Solo bukan?"
Senyum tipis yang sedari tadi menghiasai wajahnya perlahan menghilang. Berganti dengan sebelah alisnya yang terangkat. Tak terlalu kentara memang. Namun sebagai seorang psikolog yang belasan tahun menghadapi berbagai macam pasien, tentu saja setiap detail perubahan Gea tak luput dari pengamatan Antony. Bahkan untuk hal kecil sekalipun. Seperti genggaman tangannya yang mengerat pada clutch. Wajahnya berubah datar walaupun tetap ada senyum di kedua ujung bibirnya.
"Don't get me wrong. Wajah Gea sepintas mirip dengan adek kelas saya sewaktu SMA," sambung Antony saat menyadari betapa defensifnya Gea dan ekspresi tidak ramah teman baiknya. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengkonfirmasi rasa penasarannya. Rasa penasaran yang menyangkut teman baiknya yang lain. Yang kini berada di belahan bumi yang lain. "Mungkin saya salah orang," imbuhnya dengan cengiran lebar.
Gea tersenyum, senyum sopan yang tak sampai ke mata.
"Kami duluan," kata Kevin sebelum keduanya melangkah pergi, meninggalkan teman – temannya yang masih menatap kepergiannya dengan gelengan kepala.
"Nyari penyakit lo An," komentar Abi kala Kevin dan Gea tak lagi tertangkap oleh indra penglihatannya.
"Dari sisi mana gue nyari penyakit, sialan?" tanya Antony dengen senyum tipis di wajahnya. "Gue cuma tanya karena dia mirip banget sama adek kelas gue dulu. Salahkah gue bertanya?"
"Salah kalau itu udah menyangkut kepunyaannya Kevin," jawab Abi, menggelengkan kepalanya. "Kayak nggak tau tabiat temen lo aja."
"Tapi gue rasa sama yang ini udah jauh mendingan sih," sahut Ernest, temannya yang lain. Yang sedari tadi hanya diam mengamati interaksi teman – temannya. "Nggak seposesif jaman sama Fiona dulu. Ingat nggak, pertama kali Kevin ngenalin Fiona ke kita dan si brandal kecil ini langsung bertingkah. Besoknya Fiona langsung di gate keeping dari kita sampai hampir setahun."
Antony yang sedang di bicarakan mendengus. "Bro, gue ini cuma manusia biasa. Secara naluriah manusia normal, ketika di hadapkan ciptaan Tuhan yang luar biasa indah ya gue tidak bisa menahan diri untuk tidak menganggumi ciptaannya."
"Tapi gue kalau punya pacar spek bidadari kayak Fiona gitu bakal gue gate keeping lah berengsek." Abi menyetujui.
"Dan pacarnya yang sekarang bentukannya kayak gitu," ujar Ernest. "Cantik iya, seksi sudah pasti. Isi otaknya juga keliatan nggak kosong – kosong amat," lanjutnya yang di setujui temannya yang lain.
"By the way, kalian tau G&E Paradise?" tanya Jeremy, si pria dengan jas biru dongker secara tiba - tiba.
Ketiga temannya mengangguk, mengiyakan.
"Itu punya dia."
Seketika Abi menoleh. "Serius lo?"
Jeremy mengangguk tipis. "Tahun lalu gue pernah ketemu di kompetisi bartender se asia. Dari situ gue baru tau kalau G&E Paradise itu punya dia. Partneran sama salah satu temen dekatnya," kata Jeremy, menjawab rasa ingin tau teman – temannya yang tersorot dari tatapannya. "Dia cukup terkenal di bidang itu."
"Seberapa valid informasi lo?" tanya Antony, sebelah alisnya terangkat. Skeptis.
"Gue nanya langsung ke pegawainya," jawab Jeremy, memutar bola matanya. "Remember gue member VIP di tempat itu," umbuhnya.
"Agak di luar ekspektasi ya," komentar Antony. "Kalau di lihat dari penampilannya tadi, kayak tipe – tipe perempuan high maintenance. Kalau nggak influencer, model ya bisnis di bidang kecantikan atau nggak perhiasan."
Ernest mengangguk setuju. "Beda banget sama cewek – cewek dia sebelumnya."
Abi lantas terkekeh. "Apa nggak pusing dia jagainnya kalau cewek dia kayak gitu?"
"Mungkin sama yang sekarang dia belajar buat berubah," kali ini Jeremy yang mengutarakan analisanya. "Lihat sendiri kan, tadi pembawaan dia jauh lebih tenang sampai si kampret ini yang mulai bertingkah."
Ernest mengangguk setuju. "Tadi juga ada kan 15 menit dia sama kita. Ngobrol santai tanpa ada waspada. Kalau dulu kemana ceweknya pergi di tempelin terus."
"Kalau di lihat – lihat Gea ini tipe yang nggak bisa di kekang. Makin di atur makin rebel. Keliatan independen dan percaya diri," komentar Abi yang langsung di setujui ketiga temannya.
"Tau Maison du Pain, cafe shop yang jadi akses masuk ke G&E?" tanya Jeremy sekali lagi. "Itu juga punya dia," lanjutnya kala ketiga temannya mengangguk. Tanda mengerti.
"Tangkapannya kali ini nggak main – main," komentar Abi. "Bukan tipe cewek yang you know. Taunya ngehabisin duit doang."
"Menurut lo sama yang ini serius nggak dia?" tanya Antony, penasaran.
"Gue rasa sama yang ini serius," jawab Ernest, menyesap winenya. "Dia nggak pernah bawa teman kencannya ke acara kayak gini. Kayaknya ini pertama kali dia bawa cewek setelah kepergian Fiona," lanjutnya yang dia angguki temannya yang lain.
"Gue ke toilet dulu," pamit Antony sebelum melangkah, menjauh dari kerumunan teman – temannya. Tangan kanannya lantas mengeluarkan ponsel dari saku celana, mengetikkan sebuah pesan pada salah satu teman karipnya yang berada di belahan bumi yang lain.
To : Demian Carel
Back to Indonesia, ASAP. I found her, your first love.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
DANDELION | MOVE ON SERIES ( NEW VERSION )
ChickLitCantik, Pintar, Kaya. Siapa yang tidak iri? Di mata banyak orang hidupnya nyaris sempurna. Banyak perempuan yang diam - diam mengidamkan kehidupan seperti yang dia jalani. Work life balance, katanya. Tapi tentu saja tidak ada kisah sempurna di dun...
