TIGA

251 36 5
                                        

***

"Hallo sayang - sayangku," sapa Gea ketika panggilan videonya telah terhubung dengan kedua sahabatnya yang masing – masing berada di benua yang berbeda. Menampilkan sosok Deandra Prasasti dalam balutan mantel bulu berwarna coklat sedangkan Natasha Fabiola terlihat masih nyaman bergelung di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya.

"Cantik amat, mau kemana lo malam – malam gini?" tanya Natasha dengan suara serak, khas orang baru bangun tidur. Sesekali mulutnya menguap lebar, tanda kalau kantuk itu masih ada di matanya.

"Nyari gadun kaya raya."

"Mulut lo minta di gampar ya?" tanya Deandra.

Gea terkekeh sebelum meletakkan ponselnya pada phone holder. "Habis dinner gue sama keluarganya Kaffa. Ini baru aja nyampe apartemen," jawab Gea sembari melepaskan anting yang dia kenakan.

"Widih bau – baunya ada yang makin serius nih Ndra sama si brondong," kata Natasha dengan kerlingan jail di ujung kalimat. Menggoda. "Kondangan deh kita bentar lagi."

Gea mendengus, menarik beberapa lembar tissue basah dari tempatnya. "Serius pala kau bau menyan," sahutnya, mulai membersihkan make up yang menempel di wajahnya. "Gue ke sana semata – mata karena hubungan baik gue sama om Frans dan tante Marta. Udah beberapa kali mereka ngundang dinner or lunch tapi waktunya nggak pernah pas. Kalau ini gue tolak lagi, nggak enak juga gue nya."

Baik Natasha ataupun Deandra, sama – sama mengangguk. Tanda mengerti.

"Tapi gue rasa orang tua Kaffa ini emang pengen jadiin lo mantunya deh Ge. Kayak, kalian ini kan golongan manusia yang sama – sama sibuk, sibuk banget malah. Tapi orang tua Kaffa selalu agendain entah lunch atau dinner minimal sebulan sekali di mana lo dan Kaffa bisa duduk bareng sama mereka." kata Natasha, setelahnya.

Gea terkekeh. Kepalanya menggeleng. Seolah kalimat Natasha beberapa detik yang lalu adalah lelucon paling lucu sedunia. "Otak lo kayaknya belum singkron sepenuhnya deh Nat. Jadinya masih ngawur kayak gini," kata Gea sebelum kembali berkata, "Sebuah pemikiran yang sangat tidak masuk akal. Mana mau sih mereka ngelepasin anak laki satu – satunya ke cewek kayak gue?"

"Emangnya lo kenapa?" tanya Natasha, dengan nada tidak suka yang sangat kentara dari nada bicaranya. "Nggak ada yang salah sama diri lo, Gea. Lo keren. Lo bisa survive di tengah kehidupan yang penuh kebangsatan macam ini. Lo survive sendirian tanpa bantuan financial dari siapapun. Lo mandiri, lo kuat dan yang pasti lo bisa di andalkan. Kurang keren apa lo?"

"Thank you buat pujiannya. Gue tau kok kalau gue emang sekeren itu," kata Gea sembari mengibaskan rambut panjangnya. Berlagak sombong. "Tapi di luar sana juga masih banyak cewek yang lebih keren dari gue, yang berkali – kali lipat lebih baik dari gue. Yang lebih terhormat. Yang asal usulnya jelas dan pastinya dari keluarga baik – baik. Kalau orang jawa bilang bibit bebet bobotnya jelas. Nggak abu – abu apalagi hitam pekat kayak gue."

"Jangan mandang rendah diri lo sendiri Gea," tegur Deandra dengan ekspresi serius di wajahnya.

Untuk sejenak Gea menghentikan kegiatannya. "Bukan mandang rendah diri sendiri Ndra, tapi mencoba realistis aja," sahut Gea, santai. Terlalu santai untuk sebuah pembicaraan yang cukup sensitif di antara mereka. "Mereka dari keluarga terpandang. Pastilah nyari menantu yang selevel sama mereka. Yang sederajat, yang sama konglomeratnya, atau minimal ya bisa kasih mereka keuntungan bukannya dari kalangan rakyat jelata kayak gue. Walaupun katanya Kaffa mau nikahin gue kalau gue mau. Tapi gitulah hidup, nggak selamanya bisa berjalan sesuai yang kita mau kan?" tanya Gea pada kedua temannya.

"Gue keren, gue tau itu dengan pasti. Tapi gue juga tau, segala sesuatu nya juga harus tau tempatnya. Dan keluarga Abimanyu jelas bukan tempat buat gue. Tanggung jawab dan presurenya terlalu gede. Gue nggak sanggup harus memikul ekspektasi menikahi putra tunggal konglomerat Indonesia. Berat lah coy. Bisa ambyar di tengah jalan gue entar."

DANDELION | MOVE ON SERIES ( NEW VERSION )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang