LIMA BELAS

88 12 7
                                        

intinya aku minta maaf karena udah ngilang lama dan terima kasih banget buat yang udah nunggu cerita ini. 

Enjoy!!!

***

Sebagai seseorang yang menyukai keramaian, kadang Gea lupa bahwa dirinya adalah sosok introvert yang memiliki limit energi dalam bersosialisasi. Ada saat di mana dirinya hanya butuh tenang, diam, tanpa melakukan apapun untuk mengisi kembali baterai sosialnya yang sudah hampir habis.

Dan di sinilah dia sekarang. Menempati bilik toilet paling ujung tanpa melakukan apapun. Hanya duduk diam, menghabiskan waktu dengan dirinya sendiri. Dalam hati Gea bersyukur, tidak terlalu banyak manusia yang lalu lalang untuk mengunjungi tempat penting ini. Setidaknya dia tidak merasa bersalah mengunakan salah satu biliknya tanpa melakukan hajat selayaknya manusia pada umumnya.

"Are you okay?" suara perempuan terdengar dari balik pintu. Nadanya terdengar sedikit khawatir.

Gea melirik ponselnya, lebih dari sepuluh menit dirinya berdiam diri.

"Yes, of course. Don't worry, i just need to recharge my energy."

"Okay, take your time."

"Thank you," ujarnya sebelum kembali memejamkan matanya untuk sejenak.

Merasa kondisinya berangsur lebih baik, Gea lantas beranjak dari duduk. Gaun hitam yang ia kenakan, ia rapikan sebelum melangkah keluar dan mematut dirinya di depan cermin. Tidak ada yang berubah. Penampilannya dalam balutan dress hitam pilihannya masih tetap terlihat menawan. Make up nya tidak geser barang sedikitpun. Terima kasih pada serangkaian skincare dan perawatan mahal yang rutin dia lakukan.

Puas dengan penampilannya, Gea lantas mematikan mode flight pada ponselnya sebelum melangkahkan kakinya menyusuri aula, mencari keberadaan Kevin yang kini entah berada di mana.

Kepalanya mengedar sejenak, dan di sanalah Gea menemukan keberadaan pria itu. Berbincang santai dengan sang pemilik acara. Kevin tidak sendirian, ada perempuan dengan brunette hair berdiri di sampingnya. Nampak begitu akrab, sesekali tangan kanannya mendarat di lengan kiri Kevin tanpa sungkan. Dan pria itu sama sekali nampak tidak terganggu. Seolah hal itu sudah biasa di lakukan.

Tak ingin membuat suasana hatinya semakin buruk, niatnya untuk menghampiri Kevin ia urungkan. Dan di sinilah dia sekarang. Duduk tenang di kursi paling ujung depan meja bar.

"The Macallan Hong Kong edition, please," kata Gea kala seorang bartender berdiri di hadapannya.

Tak banyak bicara, hanya ada sebuah senyum tipis dengan anggukan pelan sebelum tangannya dengan cekatan menyiapkan pesanan Gea.

"Enjoy."

Gea mengangguk, tersenyum tipis. "Thank's."

Entah sudah berapa gelas yang dia teguk malam ini, tapi Gea merasa dirinya masih masih cukup sadar. Dia memiliki toleransi alkohol yang cukup tinggi. Dia belum mabuk saat matanya menangkap sosok yang terasa tidak asing di matanya. Sosok yang kehadirannya selalu menjadi magnet, pusat perhatian di manapun dirinya berada. Berdiri menjulang di tengah ruangan, berbincang dengan begitu santai bersama beberapa orang yang tak Gea kenal.

Perasaan dilematis itu lantas menguasai batin dan pikirannya. Pertentangan yang membuat kakinya tak kunjung beranjak dari tempatnya berada. Satu sisi, ada rindu yang ingin segera di tuntaskan. Empat bulan adalah durasi terlama bagi keduanya tanpa saling sapa, baik di dunia nyata ataupun di dunia maya. Sedangkan di sisi lain ada sebuah perasaan asing yang menahannya. Memintanya untuk tetap tenang, menunggu pembuktian dari ucapan yang pernah Kaffa lontarkan beberapa tahun silam. Bahwa dimana pun dirinya berada, Kaffa akan menemukan Gea.

DANDELION | MOVE ON SERIES ( NEW VERSION )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang