TUJUH BELAS

162 17 10
                                        

***

"Kamu mau kemana malam – malam begini?" Kevin yang baru saja menyelesaikan teleconference dengan timnya mengerutkan kening kala mendapati Gea tengah mengenakan mantel coklat miliknya. Bersiap untuk pergi.

"Nyari rokok di minimarket seberang," jawab Gea, menoleh sekilas. "Barang – barang kamu udah aku masukin ke koper, tapi kamu cek lagi aja takut ada yang ketinggalan."

"Terima kasih," ujarnya sembari melingkarkan syal coklat ke leher Gea. "Di luar dingin."

Gea tersenyum sebagai jawaban. "Aku sekalian mau telepon Deandra ya."

Kevin mengangguk, cukup mengerti akan makna lain dari kalimat yang Gea sampaikan. Bahwa perempuan itu tidak ingin di ganggu saat menghabiskan waktu dengan sahabatnya.

"Jangan terlalu lama ya. Suhunya udah drop dan besok kita flight pagi," kata Kevin, mengingatkan.

Kali ini giliran Gea yang mengangguk, mengerti. "Kamu tidur duluan aja," ujar Gea sebelum memasukkan hotpack ke dalam saku mantelnya. "Jangan lupa cek koper kamu dulu," lanjutnya sebelum menekan handle pintu kamar hotel.

"Gea."

Yang di panggil menoleh dan sedetik kemudian dia merasakan bibir Kevin berada di atas bibirnya. Melumatnya perlahan sebelum membubuhkan satu kecupan di sana. Ciumannya begitu singkat tapi mampu membuat jantung perempuan itu berdetak hebat. Tak seperti biasanya.

"Hati - hati."

Gea mengangguk, mengumamkan terima kasih sebelum meninggalkan kamar hotel tanpa menoleh sedikitpun. Meninggalkan Kevin dengan tanda tanya besar dalam kepalanya.

Ada yang salah di sini, pikir pria itu setelahnya.

Bukan tanpa alasan Kevin mempunyai kesimpulan seperti itu. Sepanjang perjalanan pulang, Gea tak banyak bicara. Perempuan itu hanya diam sembari menatap jalanan dari balik kaca mobil dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Terlihat begitu defensive, seolah membangun tempok tinggi yang tak boleh siapapun lewati. Mungkin bagi yang tidak mengenal mereka, orang akan berpikir mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak di dalam taksi dengan tujuan yang sama.

Namun sejauh apapun dia memutar ulang memorinya. Tak ada satupun hal ganjil yang dia temukan. Semuanya masih baik – baik saja. Bahkan, sebelum perempuan itu izin ke untuk menyendiri, mengisi ulang baterai sosialnya, mereka masih baik – baik saja. Pun ketika dia menemukan Gea duduk menyendiri di depan meja bartender, mereka masih baik – baik saja. Bahkan ketika berpamitan dengan teman – temannya, Gea masih baik – baik saja.

Tunggu! Apakah dia melewatkan sesuatu?'

Keningnya mengerut dalam, memikirkan sebuah kemungkinan.

To : James

Antony William Salim. Gea Anandita.

Cari tau tentang informasi SMA mereka.

Kevin menghela napas panjang, meletakkan ponselnya di atas nakas sebelum menuruti perintah Gea. Mengecek ulang isi kopernya.

***

Seoul malam ini terasa lebih dingin dari malam – malam sebelumnya. Suhunya mencapai nol derajat dengan hembusan angin yang membuat hawa dingin terasa kian menusuk tulang. Di antara manusia yang menunggu lampu lalu lintas berubah hijau untuk menyeberang, ada Gea yang tengah merapatkan mantelnya. Menjaga tubuhnya agar tetap hangat.

Pandangannya lantas beralih, menatap langit malam yang tampak indah dengan taburan bintang di atas sana. Menciptakan ketenangan di antara bising lalu lintas dan riuh dalam kepalanya. Ketenangan yang beberapa detik kemudian terganggu kala ponselnya yang berada di genggaman bergetar yang kemudian di susul dengan dering khusus yang Gea sematkan untuk seseorang.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 21, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

DANDELION | MOVE ON SERIES ( NEW VERSION )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang