***
"Aku nggak nyangka bakal pakai waktu berhargaku cuma buat nunggu kalian selesai bersenang - senang," kata Kaffa ketika melihat Kevin keluar dari kamar Gea, setengah jam kemudian. Wajahnya nampak segar dengan rambut yang masih setengah basah. Pertanda jika pria itu baru saja selesai mandi. "Puas huh?" lanjut Kaffa dengan nada sinis yang tak mampu dia tutupi.
Sementara Kevin yang menjadi lawan bicara hanya tersenyum tipis. Langkahnya terlihat tenang ketika menghampiri Kaffa yang sedang duduk di single sofa dengan segelas whiskey di tangan.
"Nggak ada yang minta kamu untuk tinggal Kaf," sahut Kevin, mendudukkan tubuhnya di sisi sofa yang lain. Kepalanya kemudian mengedar, mengamati tempat tinggal Gea yang memiliki konsep Skandinavia dengan dominasi warna putih dan pengunaan elemen kayu yang tidak berlebihan. Membuat hunian ini jauh dari kesan glamor namun terasa nyaman untuk di tempati. "Jadi hal apa yang membuat kamu mau menghabiskan waktu berhargamu untuk menunggu kami? Mas tau kamu nggak sekurang kerjaan itu," tanya Kevin, kembali mengalihkan perhatiannya pada Kaffa.
Alih - alih langsung menjawab, Kaffa justru memilih menikmati sisa whiskey yang ada di gelasnya. Menyesapnya perlahan sebelum menghabiskannya dalam satu kali tegukan. "Gea mana?" tanya Kaffa, meletakkan gelas kosong ke atas meja. "Tidur?"
Kevin mengangguk sebagai jawaban. "Perlu mas bangunin?" tanya Kevin kemudian.
Kaffa menggeleng pelan. Punggungnya menyandar dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Menatap Kevin dengan berbagai macam pikiran dan pengandaian yang berlalu lalang dalam benaknya. Tentu saja hal itu tidak luput dari perhatian Kevin. Pria berusia di pertengahan tiga puluh itu mencoba menyelami sesuatu dari tatapan adik sepupunya dalam diam. Membuat keduanya kembali terjebak dalam keheningan yang cukup panjang.
"Ngomong aja," kata Kevin pada akhirnya.
Kaffa melirik Kevin sejenak sebelum menuangkan kembali whiskey ke dalam gelasnya yang telah kosong. "Kalau tujuan mas Wira ke Gea cuma buat main - main, aku minta mas berhenti," kata Kaffa sebelum menyesap minumannya perlahan. Suaranya terdengar lugas, tidak ada nada candaan sama sekali.
"Apa menurut kamu mas tipikal orang yang seperti itu, Kaffa?" Tanya Kevin, menatap tepat pada bola mata sepupunya. Nadanya tenang dan sangat terkontrol.
Kaffa mengangkat kedua bahunya. Tersenyum tipis. "No offence mas, but people change. Nggak ada yang tau isi hati manusia kayak apa," jawab Kaffa, membalas tatapan Kevin tanpa ada sedikit keraguan. "Apalagi Gea sangat beda dari wanita - wanita yang pernah deket sama mas."
Kevin mengangguk, membenarkan. "Sekalipun Gea beda dari wanita - wanita yang pernah dekat dengan mas, bukan berarti mas ada niat buat main - main sama dia Kaf."
Kaffa tidak menjawab, pria berusia dua puluh enam tahun itu hanya menatap Kevin dengan kening mengerut. Sorot matanya penuh dengan penilaian. Ada kewaspadaan dalam ekspresi wajahnya dan hal itu tak luput dari pengamatan Kevin.
"Mas ngerti sama kekhawatiran kamu. Apalagi kami baru bertemu kembali setelah sekian lama. Mas mengerti kalau ini terlalu tiba - tiba buat kamu." Kevin menjeda kalimatnya. Tangan kanannya meraih gelas kosong dan menuangkan whiskey ke gelasnya. "Tapi mas cukup mengenal Gea dengan baik. Mas tau apa yang sedang mas lakuin. Kamu jangan khawatir, mas sama sekali nggak ada niatan buat mainin Gea," lanjutnya sebelum menyesap whiskey-nya perlahan.
"Aku bakal jadi orang pertama yang ngehajar mas Wira kalau itu sampai terjadi," sahut Kaffa, lagi - lagi tidak ada nada becanda dalam suaranya.
Kevin mengangguk, mengerti. "Boleh mas nanya sesuatu?" tanyanya, kemudian.
"Apa?"
Ada hening sejenak sebelum Kevin kembali membuka suara dan bertanya, "Do you love her?"
KAMU SEDANG MEMBACA
DANDELION | MOVE ON SERIES ( NEW VERSION )
ChickLitCantik, Pintar, Kaya. Siapa yang tidak iri? Di mata banyak orang hidupnya nyaris sempurna. Banyak perempuan yang diam - diam mengidamkan kehidupan seperti yang dia jalani. Work life balance, katanya. Tapi tentu saja tidak ada kisah sempurna di dun...
