SEMBILAN

237 29 2
                                        

G&E Paradise adalah sebuah underground bar bergaya speakeasy dengan sentuhan classic vintage yang mendominasi sepenjuru ruangan. Bertempat di Kemang, tempat yang di dirikan Gea dan Evan tiga tahun yang lalu ini memiliki akses masuk yang cukup unik. Tempat ini bisa di akses melalui salah satu bilik toilet yang ada di Le Gateau D Amore, Coffee Shop yang beroperasi selama dua puluh empat jam. Milik Gea.

Berbeda dari bar - bar di sekitar mereka yang di dominasi musik khas anak muda, G&E Paradise sendiri memiliki dua genre musik yang berbeda dengan target market yang berbeda pula. Pukul tujuh malam sampai setengah sebelas malam di penuhi alunan musik jazz dengan suasana tenang yang mendominasi. Di jam – jam tersebut biasanya pengunjung di dominasi oleh para pekerja kantoran berusia tiga puluh lima tahun ke atas yang sedang ingin melepas penat dari hiruk pikuk tuntutan kehidupan ibukota. Menikmati live music sembari di temani sebotol wine atau segelas whiskey.

Sedangkan jam sebelas sampai jam tiga pagi di dominasi oleh music EDM yang di bawakan oleh seorang DJ dengan dance floor yang cukup luas. Tak heran jika pengunjung di dominasi oleh anak muda.

Dan jumat malam di awal bulan adalah waktu yang paling tepat untuk melepaskan penat setelah lima hari di sibukkan oleh segudang pekerjaan. Tidak heran jika bangku – bangku yang ada di G&E Paradise sudah di penuhi oleh pengunjung, meskipun jam belum menunjukkan pukul dua belas malam. Dan entah sudah ke berapa puluh kali Gea meracik Red California, campuran dari Gin, lemon, campari, dan mint yang menjadi signature drinks di G&E Paradise.

"Serius nggak papa kalau gue tinggal sendiri?" tanya Evan, mengeringkan tangannya yang basah dengan lap yang ada di meja bartender. Pandangannya kemudian mengedar, mengamati sepenjuru ruangan. "Orang – orang udah mulai banyak yang tipsy," lanjutnya, menolehkan kepalanya pada Gea yang tengah sibuk dengan cocktail shaker di tangannya.

Gea mengangguk tipis, salah satu tanganya yang bebas menepuk lengan rekannya dengan santai sebelum mengambil gelas cocktail dan menuangkan racikannya di sana. "Enjoy," kata Gea dengan seulas senyum di bibir ketika menyajikan cocktail kepada pelanggan yang duduk di meja bar.

"Nggak usah khawatir. Lihat tuh, orang – orang yang lo taruh di sana," kata Gea, mengarahkan dagunya ke arah sudut – sudut ruangan di mana pria – pria tinggi berbadan besar berdiri dengan sikap siaga. "Mereka bakal jamin semuanya berjalan lancar tanpa ada drama. Jambak – jambakan apalagi jotos – jotosan. Jadi lo santai aja. Mending manjain dah Evan junior lo ini. Mubazir kalau di pakai kencing doang," lanjut Gea, membisikkan kalimat terakhirnya di telinga Evan.

"Sialan," balas Evan, menoyor pelan kepala Gea, membuat perempuan itu justru terkekeh pelan.

"Udah lama ya Van?" tanya Gea, mengedipkan sebelah matanya. "Nggak lupa kan sama rasanya?" Lagi – lagi tawanya pecah kala melihat ekspresi Evan yang sangat menggemaskan di matanya.

"Mending lo diem!"

Gea tertawa terbahak, tidak bisa di pungkiri jika dirinya ikut merasa bahagia atas perubahan yang terjadi pada diri Evan. Pria dingin, minim ekspresi dan kaku itu perlahan mulai terlihat seperti manusia normal pada umumnya. Gea penasaran, perempuan mana yang berhasil meruntuhkan tembok pertahanan si penggila kerja itu. "Udah sana buruan pergi, di tinggal tidur baru tau rasa lo."

Pria itu mendengus, mengabaikan godaan Gea yang terdengar sangat menyebalkan. "Ntar lo baliknya gimana?" tanya Evan, memakai jaket kulitnya.

"Gampang, temen gue ntar ke sini kok. Mau jemput."

Kegiatannya terhenti seketika. Kerutan samar muncul di kening Evan. Pria itu kembali berjalan mendekat dengan ekspresi serius di wajah tampannya. "Temen lo siapa? Setau gue temen lo cuma dua, Deandra sama Natasha. Dan sekarang dua – duanya lagi nggak di sini."

DANDELION | MOVE ON SERIES ( NEW VERSION )Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang