sangat apa adanya, belum di edit
***
"Menurut lo, orang kayak kita ini hidupnya bakalan happy ending nggak Ge?"
"Pertanyaan sulit," sahut Gea dengan jujur. "Happy ending itu banyak konsepnya. Ada yang happy endingnya menua bersama dengan orang yang kita cintai. Ada juga happy endingnya ketika sudah merasa cukup dengan apa yang kita punya. Atau yang paling pasti, mati tanpa ada penyesalan. Tergantung dari happy ending yang kayak gimana yang lo maksud."
Lantas keduanya sama – sama diam. Menatap langit Seoul yang sore ini terlihat bersih tanpa awan. Membiarkan semilir angin sore menerpa wajah keduanya yang teramat cantik berkat treatment di klinik kecantikan ternama dan juga serangkaian skincare mahal.
"Serakah nggak kalau gue juga mau semua?"
Sebelah alis Gea terangkat. "Kenapa harus merasa serakah? Bukankah hal itu emang yang di inginkan sama semua manusia?" tanya Gea sebelum tangan kanannya meraih botol bir dan meneganggak sisanya hingga tandas. "Semua orang menginginkan akhirnya yang bahagia Nat. Tanpa terkecuali."
"Dan menurut lo, pendosa seperti gue pantas dapatin akhir yang bahagia itu?"
"Kenapa engga," kata Gea. "Lagian ya Nat, yang bisa nentuin seberapa besar dosa dan amal kita tuh cuma Tuhan, bukan manusia. Jangan suka ngambil alih bagian Tuhan."
"Gue cuma mencoba realistis aja sih."
"Realistis bukan berarti bisa menjudge kehidupan Nat. Karena ada beberapa aspek yang nggak bisa kita ukur," kata Gea. "Gue tau ini sangat sesat, tapi menurut gue pribadi kalau emang kita masih terlalu sulit lepas dari dosa – dosa itu. Setidaknya kita tetap melakukan hal baik."
Natasha mengangguk, mengerti.
"By the way, lo habis korupsi Nat?" tanya Gea setelah beberapa saat.
"HAH?"
"Atau jadi tempat money laundry?"
"Omong kosong dari mana itu!" sahut Natasha, sarat akan nada kesal.
"Ya habis omongan lo aneh. Nggak biasanya lo merasa nggak yakin kayak ini. Terdengar kayak bukan lo banget," ujar Gea. "Lagian ya, kalau gue inget – inget seumur – umur gue kenal sama lo, baru kali ini lo ngomongin dosa, tau. Biasanya selama bukan suami orang, nggak ngambil duit orang lo trabas aja."
"Ya karena gue habis main sama suami orang! Makanya gue stress banget."
Gea langsung menoleh, matanya membesar, menatap temannya tidak percaya. "For god sake Natasha!"
"In my defense, dari awal gue nggak niat main, okay! Salahin Aksa berengsek itu."
"Lo di paksa?" kening Gea menukik, merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Natasha menggeleng. "Nggak, juga karena gue juga menikmati. Minta nambah malah," jawab Natasha yang membuat Gea mendadak sakit kepala. "Tapi kalau seandainya Aksa nggak memulai, ini nggak akan pernah terjadi. Dia duluan yang nyium gue. Dia duluan yang nyentuh gue."
"Lo bisa nolak kalau emang lo nggak mau, begooo. Bukannya malah menikmati," sahut Gea penuh frustasi.
"Gue mana bisa nolak sih kalau udah soal dia Ge! Dia sumber kelemahan gue nomor wahid."
"Dasar lemah."
"Ngaca!"
Gea menggelengkan kepalanya. Tidak habis pikir dengan tingkah laku temannya.
"Gimana ceritanya lo bisa ketemu dia lagi? Bukannya lo udah nggak mau ketemu sama dia?"
"Panjang ceritanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
DANDELION | MOVE ON SERIES ( NEW VERSION )
Literatura FemininaCantik, Pintar, Kaya. Siapa yang tidak iri? Di mata banyak orang hidupnya nyaris sempurna. Banyak perempuan yang diam - diam mengidamkan kehidupan seperti yang dia jalani. Work life balance, katanya. Tapi tentu saja tidak ada kisah sempurna di dun...
