Happy Reading!
“Papa masih sayang Mama?” tanyanya tiba-tiba, suaranya lirih, nyaris tak terdengar.
Adrian terdiam. Tangannya di punggung Kayra berhenti bergerak. Dia menutup mata, menghela napas panjang, lalu membuka mata lagi.
“Papa selalu sayang Mama…” jawabnya jujur. “Tapi kadang… rasa sayang aja nggak cukup buat bertahan, Kay.”
Kayra menggigit bibirnya, menahan isakan yang hampir keluar lagi.
“Kalau Papa masih sayang… kenapa Papa nggak coba bertahan?”
Adrian tersenyum kecil, senyum yang begitu pahit. Jemarinya mengusap rambut Kayra dengan lembut.
“Papa udah coba…” katanya, suaranya bergetar. “Papa udah berusaha sekuat tenaga. Tapi ada hal-hal yang nggak bisa diperbaiki meskipun kita mau.”
Kayra mengepalkan tangannya. “Tapi kita kan keluarga…”
Adrian menarik napas dalam, lalu menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya di atas kepala Kayra. “Dan itu nggak akan berubah, Nak.”
Kayra memejamkan matanya, membiarkan air mata yang masih tersisa jatuh perlahan.
Adrian menghela napas panjang saat merasakan tubuh Kayra yang mulai rileks dalam pelukannya. Isakan putrinya sudah tak lagi terdengar, digantikan dengan napas teratur yang pelan.
"Kay..." bisiknya pelan, mengusap lembut rambut Kayra yang sudah terlelap dalam dekapannya.
Adrian menatap wajah putrinya dengan mata yang masih memerah. Ia tahu betapa berat semuanya bagi Kayra, sama seperti dirinya. Tapi di satu sisi, melihat Kayra tertidur seperti ini, ia juga merasa sedikit lega—setidaknya untuk malam ini, Kayra bisa beristirahat tanpa harus terus memikirkan hal yang menyakitkan.
Perlahan, Adrian menggeser tubuhnya, mencoba memposisikan Kayra lebih nyaman sebelum akhirnya menyelipkan lengannya di bawah lutut dan punggung putrinya. Dengan hati-hati, ia mengangkat Kayra ke dalam gendongannya.
Langkahnya menuju kamar Kayra terdengar pelan di apartemen yang sepi. Adrian mendorong pintu dengan kakinya, lalu berjalan menuju tempat tidur, menurunkan Kayra dengan penuh kehati-hatian di atas kasur.
Ia menarik selimut, menyelimutinya hingga sebatas dada, lalu kembali mengusap kepala Kayra sebentar. Wajah gadis itu terlihat damai dalam tidurnya, meski sisa air mata masih mengering di pipinya.
"Maafin Papa, Kay..." suara Adrian lirih, nyaris tak terdengar.
Ia menunduk, mengecup kening putrinya pelan, seakan berharap bisa menghapus semua luka yang ia timbulkan dalam hidup Kayra. Namun, ia tahu, beberapa luka butuh lebih dari sekadar waktu untuk sembuh.
Adrian bangkit dengan berat hati, menatap Kayra sekali lagi sebelum akhirnya beranjak keluar kamar.
Saat tangannya hendak menarik gagang pintu, ia menoleh sebentar. Ada keinginan untuk tetap tinggal, menemani Kayra sepanjang malam. Tapi ia tahu, ia tak bisa.
Sebelum benar-benar pergi, Adrian melangkah ke ruang makan. Pandangannya jatuh pada piring-piring dan gelas yang masih berserakan di meja. Napasnya lepas dalam helaan berat, lalu tanpa banyak pikir, ia mulai membereskan semuanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Revan Alegra Dirgantara
Teen FictionMenceritakan tentang Revan Alegra Dirgantara laki laki yang tidak sengaja menyukai teman perempuan sekelas nya bernama Revita Kayra Gabriella. Gadis cantik,mempesona,dan sedikit galak. ~~~~ "Kalo gue mau nya lo gimana?" tanya Revan. Kayra mendelik...
