22

28 6 0
                                        

Revan menghela napas sebelum akhirnya mengambil ponselnya. “Gue izin dulu ya. Lo tunggu di sini bentar,” katanya sambil berdiri.

Kayra hanya mengangguk, memperhatikan punggung Revan yang berjalan menjauh untuk menelepon pihak sekolah. Ia bisa mendengar sedikit percakapan dari kejauhan, suara Revan terdengar tegas namun tetap sopan saat meminta izin karena harus mengantar temannya yang sedang sakit.

Tak lama, Revan kembali dengan ekspresi lega. “Udah, gue izin. Jadi hari ini lo nggak usah mikirin apa-apa selain istirahat,” ujarnya sambil mengambil tasnya.

Mereka pun keluar dari area sekolah, berjalan santai menuju tempat parkir. Kayra masih terlihat sedikit lemas, dan Revan beberapa kali meliriknya dengan tatapan khawatir.

Saat mereka sudah di jalan, Revan tiba-tiba mengurangi kecepatan dan menepi di depan sebuah apotek kecil.

"Lo tunggu di sini, gue beli obat dulu," katanya sebelum turun tanpa menunggu jawaban Kayra.

Kayra melihat Revan masuk ke apotek dan berbicara sebentar dengan petugas di dalam. Sesekali, cowok itu melirik ke arah rak obat, tampak memilih sesuatu dengan serius.

Setelah keluar dari apotek, Revan berjalan santai kembali ke motornya, kantong obat tergenggam di tangan, lalu memberikannya pada Kayra.

Kayra yang duduk di jok belakang hanya bisa menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Kayra menerima kantong itu tanpa banyak bicara. Ia menatapnya sesaat sebelum akhirnya menyelipkannya ke dalam tasnya.

"Lo ini perhatian banget, Van. Gue jadi curiga," celetuk Kayra, mencoba mencairkan suasana.

Revan memasang helmnya, lalu menoleh sekilas dengan smirk khasnya. "Ya kali gue tega ngebiarin lo sakit sendirian?"

Kayra mendengus, tapi diam-diam ada sesuatu yang menghangat di dadanya.

"Udah, naik yang bener. Jangan senderan ke belakang, nanti gue susah ngegas," ujar Revan sambil sedikit menggeser posisinya agar Kayra bisa lebih nyaman duduk di belakangnya.

Kayra menurut, lalu dengan sedikit ragu, ia meraih jaket Revan dan menggenggamnya pelan agar tetap seimbang.

Merasa ada tarikan di jaketnya, Revan tersenyum kecil. "Pegang aja yang bener, nggak usah malu. Kalo jatuh, gue males balik buat jemput lo lagi."

"Apasiih," gumam Kayra kesal, tapi tetap mempererat pegangan.

Revan tertawa pelan sebelum akhirnya menyalakan motornya dan melajukan kendaraan mereka menuju apartemen Kayra.

Di tengah perjalanan, angin sore menerpa wajah mereka, membawa keheningan yang entah kenapa terasa nyaman. Kayra sesekali bersin pelan, membuat Revan refleks meliriknya dari kaca spion.

"Lo gapapa ra?"

Kayra mengangguk menanggapi pertanyaan tersebut. "Aman kok Van."

   

***

Saat motor yang dikendarai Revan berhenti di depan apartemen, Kayra menghela napas panjang. Perjalanan tadi terasa lebih hening dari biasanya, dan itu membuat pikirannya semakin penuh.

Revan melepas helmnya, lalu menoleh ke Kayra yang masih duduk diam di belakangnya. "Lo bisa jalan sendiri atau gue gendong sekalian?" tanyanya, mencoba mencairkan suasana.

Kayra menatapnya malas. "Gue masih bisa jalan, Van."

"Bagus," sahut Revan sambil turun dari motor. "Ayo naik. Gue anter sampe atas."

Revan Alegra DirgantaraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang