20

996 155 8
                                        

"Ughhh! Akhhh!"

(Y/n) berteriak kencang begitu tubuhnya membentur dahan pohon. Kulitnya tergores, menimbulkan luka tipis melintang yang panjang. Darahnya menetes, beruntungnya dia menggunakan tubuh monster Abyss sebagai bantal agar tidak menghantam batu-batu tajam ditanah.

Bibirnya meringis kesakitan, kaki dan tangannya bergetar hebat. Matanya setia menangis menahan tubuh yang serasa rontok.

Monster Abyss itu tergeletak dibawahnya, dengan cairan ungu kehitaman yang bercecer menguarkan aroma tidak sedap yang membuat gadis itu nyaris memuntahkan sarapan jamur panggangnya.

"Ya Archon, sakit sekali..." Gadis itu menatap ke sekeliling. Tidak ada siapapun ditempat ini. Sepertinya semua orang dan Saurian sudah diungsikan ke stadion.

Bulu kuduknya merinding melihat langit merah seperti terbakar. Aroma hangus di udara bercampur dengan darah. Rasanya sangat sesak, dadanya seperti dihimpit batu besar melihat orang-orang dan Saurian Natlan yang gugur saat berjuang melindungi tempat tinggal mereka.

"A-Aku harus berdiri, aku harus kembali..." bisiknya pelan. Gadis itu berupaya keras berdiri diatas kakinya yang bergetar tak karuan.

Rasa sakit yang tajam membuat tubuhnya kembali jatuh keatas mayat monster Abyss. Matanya melirik kebawah, ketempat kakinya yang tidak bisa digerakkan.

Apa itu patah? Gadis itu bertanya didalam hati. Rintihan pelan menahan rasa sakit membuat otaknya terasa kabur. Baru setelah menyadari patah kakinya, rasa sakit yang hebat menyerang hingga ke pangkal paha.

"Astaga!" Dia menangis lebih keras kali ini.

Dibawah asuhan Arlecchino, dirinya tidak pernah terluka seperti ini. Arlecchino sangat memanjakan dirinya dulu, kini terluka ditempat asing membuatnya ingin menangis seperti anak kecil.

"Huaaaa! Sakit!" Gadis itu memekik. Tidak tahan dengan rasa sakit sampai sebuah suara membuatnya membeku. Suara langkah kaki yang membuatnya seketika was-was dan menghentikan rengekannya.

Tangan gadis itu meraih ranting terbesar, terkuat, dan yang paling bisa dia pegang untuk perlindungan.

"Kau yakin suaranya dari arah sini, Ajaw?"

Suara lembut seorang laki-laki tengah berbincang dengan pemilik suara melengking.

"Hah! Kau pikir aku tuli?! Dari sini arahnya, bodoh!" Suara melengking yang tajam seperti tengah mengolok-olok berteriak kesal.

Dua orang, satu manusia dan satu lagi makhluk asing melayang berbentuk pixel akhirnya berhasil menemukan (y/n) yang bergetar memeluk kayu ranting di kedua tangan.

"Ah, ternyata benar."

"Hah! Aku benar! Berikan aku sepuluh Mora, aku ingin membeli roasted chicken nanti!" Makhluk melayang itu tertawa puas dan menggoyangkan pantatnya didepan wajah laki-laki itu. "Kinich kalah~ Kinich kalah~"

"Ck! Menyingkirlah, aku ingin menyelamatkan gadis ini dulu. Hei, kau tidak apa-apa?" Laki-laki bernama Kinich itu berjongkok didepan (y/n), memeriksa sejenak (y/n) yang tadinya bersikap defensif kini dengan bahu terkulai.

"Sakit... Kakiku patah dan rasanya sangat sakit." Gadis itu kembali menangis mengetahui dia adalah Kinich, salah satu pahlawan Natlan yang pernah dia lihat di stadion dulu.

Dalam hatinya dia sangat bersyukur seseorang sekuat Kinich menemukannya yang bahkan tidak bisa berdiri dengan baik.

Tangan Kinich tersampir menyentuh tempat dimana kaki (y/n) patah. Merasakan tulang dibawah kulit dan daging gadis itu. "Kakimu patah, kenapa bisa begini?"

Kinich dengan sigap mengambil tali dan kayu papan. Mengikat kaki gadis itu dengan hati-hati.

"Aku jatuh dari atas tebing usai mendorong monster Abyss." (Y/n) meringis pelan. Dia bisa merasakan kakinya sangat ngilu hingga giginya bergemeletuk keras menahan teriakan.

"Atas tebing? Kau nekad sekali." Kinich mulai berpikir apakah gadis didepannya ini bodoh. Kenapa tidak bersembunyi saja kalau tahu tidak mungkin bisa melawan monster Abyss?

"Naiklah ke punggungku." Kinich berbalik, memberikan punggung tegapnya ke arah (y/n).

"Apa kau akan mengantarku keatas?" (Y/n) dengan hati-hati mengalungkan tangannya di bahu Kinich. Kedua pahanya di pinggang Kinich dan ditahan disana dengan erat.

"Tidak mungkin," Kinich menjawab. Laki-laki itu tampak berjalan dengan tenang membawa (y/n) di punggungnya. "Diatas sana terlalu jauh, sebaiknya kau kubawa saja ke stadion."

"Ah... Baiklah, tolong bawa aku ketempat yang aman."

Tentu saja, (y/n) menerimanya dengan senang hati.

.
.
.

.
.
.

.
.
.

T
B
C

.
.
.

San: Meleng ke Kinich dulu ga sih?Capibara belum muncul di sini 🤣🤣🤣

Btw, thanks sayangku Someone yang udah traktir di trakteer muachhhh 😻💕 masih ada chapter berikutnya oke, ditunggu yaa~ 😋

.
.
.



.
.
.

28 Maret 2025

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Mar 27, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

𝓥𝓮𝓷𝓮𝓻𝓪𝓽𝓮 - [𝚃𝚑𝚎 𝙲𝚊𝚙𝚝𝚊𝚒𝚗 𝚡 𝙵. 𝚁𝚎𝚊𝚍𝚎𝚛]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang