Secukupnya - Hindia x Mangu - Fourtwnty, Charita Utami
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SPIN OFF 4: ARUNIKA
Semburat lampu sorot sewarna biru dan ungu jatuh di atas kepalanya yang pening. Hiruk-pikuk orang-orang dan dentum musik yang berkumandang rasanya hanya jadi senandung lewat, masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Raganya yang terasa berat dan pandangannya yang mengabur pun menyalakan sinyal dari dalam benak, kayaknya toleransi alkoholmu memang segitu saja.
Kelopaknya menyipit dan bibirnya dikulum kuat. Ah, ia paling tidak suka perasaan ini. Dera ombak dalam hatinya yang tak kunjung surut itu membuatnya terpojokkan, terbawa arus, menuju tempat maksiat yang dahulu tidak pernah ia pikirkan.
Kemarin malam, ayahnya menelepon.
Dan sepertinya, Jeffrey tidak akan pernah menang.
Seberkas mentari terbit. Doa yang terkandung dalam namanya itu terasa ikut terbenam bersamaan dengan sirnanya cahaya dalam diri, yang menerangi jalan-jalan bercabang dalam alam pikirnya ini. Benang-benang carut-marut yang tak bisa ia uraikan itu menjelma menjadi kalut, menjadi sendunya malam-malam di mana ia tidak bisa tidur. Mama dan Ayah mulai bicarakan perpisahan. Ia belum siap untuk kalah, tetapi sebenarnya ia juga tak paham. Dengan siapa aku berkompetisi sekarang?
Ada yang menjadikan kelab sebagai tempat hiburan, ada yang menjadikannya sebagai pelarian. Sudah jelas di kategori mana Jeffrey dapat dikenali. Lumrah untuk menemukan para mahasiswa yang baru saja melepas seragam putih abu-abu mereka dan menyesap kebebasan sesungguhnya di kelab malam. Ada yang menganggap hal tersebut adalah kenakalan, ada yang menganggap biasa saja. Semua tergantung kepercayaan.
Kepercayaan, ya. Kepercayaan.
Jeffrey tidak tahu kapan ia akan terus mengingat pahitnya sesuatu yang berangkat dari kepercayaan. Ia percaya semuanya akan baik-baik saja. Ia percaya dirinya dapat melewati semua ini seiring waktu berjalan. Ia percaya dentang jarum jam menuju kedewasaan akan mengaburkan segalanya, segala luka yang ia terima, segala rasa tak rela dalam batinnya. Ia kira ia akan berdamai dengan keadaan.
Namun, sesalnya tertelan bak obat pahit kala demam. Ia tahu ia harus sembuh, tetapi ia terus meratapi kepahitan yang tertinggal di ujung lidahnya.
Dalam pandangannya yang kini dibayang-bayangi lampu sorot menyilaukan, otaknya memutar memori secara kurang ajar.
"Are you sure?"
Kenapa ia malah tersenyum saat itu? Lesung yang dalam itu berdusta, tetapi bibirnya telah terulas miris. Memaksakan diri untuk tetap terlihat tegar. "Truthfully, I'm not." Dan gelengan ia hanturkan, pada si puan.