tentang seorang lelaki yang di tinggal nikah oleh kekasihnya tepat di hari pernikahan tanpa alasan yang jelas, Nathan Ghifari Aldebaran seorang pemimpin sekaligus CEO Aldebaran corps,
Walaupun telah di kecewakan tak membuat Nathan Ghifari membenci...
Double update😚💮 masing masing chapter diketik dengan 1000 kata lebih. Supaya aku jadi semangat untuk update-an chapter selanjutnya kasih aku vote sama komentarnya ya. terimakasih untuk yang selalu ngasih vote dan kemen nya🙏 lvy gais🥰💮
~~~HAPPY READING~~~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari sudah menjelang malam saat mobil yang di kendarai berhenti di depan sebuah bangunan modern dengan lampu-lampu neon menyala elegan. Sebuah papan kecil bertuliskan Club Noveau tampak di bagian atas bangunan. Club itu terlihat eksklusif, tidak terlalu mencolok, namun aura mewahnya jelas terasa. Musik dari dalam terdengar samar, dentuman bass seperti memanggil siapa saja yang ingin melarikan diri dari kenyataan.
“Lo beneran mau masuk ke sini, Ca?” tanya Tere, sedikit ragu sambil membuka kaca mobil.
"Iya, Tere. Yakin"
Tere menatap sahabatnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. “Oke, gue temenin.”
Mereka berdua masuk setelah menyebut nama Haikala dan Jevan ke petugas di pintu. Tanpa pertanyaan panjang, keduanya langsung diarahkan masuk ke ruang utama club. Interiornya tak seperti bayangan Caca—tidak terlalu gelap, justru elegan. Sofa beludru berwarna gelap berjajar rapi, pencahayaan dibuat hangat dan nyaman, tak ada keributan berlebihan.
Di sudut bar, tampak seorang pria berdiri dengan postur tegap, mengenakan kemeja hitam yang dilipat rapi di lengan, tengah mengobrol santai dengan bartender. Tatapan matanya tajam, karismanya menyita perhatian.
“Caca?” sapanya saat melihat dua perempuan mendekat.
“Hai kak” sapa Caca tersenyum sopan.
Pria dengan postur tegap itu tersenyum singkat, lalu berjalan mendekat. Wajahnya memancarkan keterkejutan kecil yang jujur.
“Gue kira Haikala bercanda waktu bilang lo pengin mampir ke sini. Ternyata beneran datang,” ucap Jevan, tatapannya jatuh pada Caca dan Tere yang berdiri canggung di tengah ruang penuh kerlap-kerlip lampu.
“Hehe iya, Kak. Cuma penasaran aja sih, gimana suasana tempat yang katanya sering banget dikunjungi kak Nathan.” Jawaban Caca terdengar ringan, tapi dalam tatap matanya ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan rasa ingin tahu yang dibungkus dengan senyum tipis.
“Kalau gitu, duduk dulu. Gue ambilin minuman, ya. Kalian mau apa?” tawar Jevan sambil melirik Tere yang masih memerhatikan ruangan.
“Apa aja, Kak, asal jangan yang memabukkan,” jawab Caca cepat.
Caca dan Tere duduk di sofa empuk berwarna kelabu tua, menghadap jendela kaca yang menampilkan siluet kota dalam kerlap-kerlip malam. Di balik kaca, lampu-lampu gedung menciptakan pemandangan urban yang kontras dengan suasana penuh dentuman musik dalam club. Beberapa pengunjung terlihat mulai berdansa mengikuti irama, sementara yang lain sekadar duduk, mengobrol sambil sesekali tertawa.