tentang seorang lelaki yang di tinggal nikah oleh kekasihnya tepat di hari pernikahan tanpa alasan yang jelas, Nathan Ghifari Aldebaran seorang pemimpin sekaligus CEO Aldebaran corps,
Walaupun telah di kecewakan tak membuat Nathan Ghifari membenci...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pukul 4 sore Langit mulai merona jingga, dan angin sore mengusap pelan wajah Akhisa yang baru saja keluar dari ruang dosen pembimbing. Kelasnya memang sudah selesai sejak beberapa jam lalu, tapi pembicaraan panjang bersama dosen membuat langkahnya tertunda. Matanya lelah, pundaknya nyaris jatuh membawa beban pikiran yang tak ingin ia bagi pada siapa pun.
“Caaa!”
Suara teriakan nyaring dari kejauhan membuatnya menoleh cepat. Teresia dengan jaket jeans favorit dan tas silang kecil di bahu berlari kecil menghampiri. Senyuman sahabatnya itu seolah jadi obat instan bagi raut letihnya.
“Barusan banget. Kamu kok belum pulang?” balas Akhisa, lembut.
Tere mengangkat bahu, santai. “Sengaja nungguin kamu. Yuk, pulang bareng.”
Akhsia menggeleng perlahan. “Maaf, Re. Aku dijemput sama Kak Nathan.”
Baru saja kata itu terucap, suara lain ikut menyapa mereka.
“Halo, Caca. Hai, Tere.”
Keduanya langsung menoleh. Seorang pria tinggi dengan hoodie hitam dan ransel menyampir di satu bahu menghampiri mereka. Senyum ramah tersungging di bibirnya.
“Jinan?” Tere melotot kecil, kaget.
“Reaksi lo lebay banget sih, Re,” canda Jinan.
“Hehe, iya nih. Tumben. Belum pulang?” Tere tertawa.
Jinan mengangkat kedua tangannya santai. “Gue juga heran, padahal kita satu kampus, cuma beda fakultas. Tapi gak pernah saling nyapa.”
" lo aja kali yang sombong gak mau nyapa duluan,” sahut Tere cepat.
"Enggak yaa, kebetulan kita jarang ketemu aja, btw kalian mau pulang?"
“Iya.”
“Belum.”
Jawaban Akhisa dan Tere meluncur bersamaan, tapi saling bertolak belakang, membuat Jinan mengerutkan kening.
Tere melirik sahabatnya dengan senyum penuh makna. “Ca, bentar aja. Kita nongki dulu. Bareng Jinan juga, kan seru rame-rame.”
“Tapi, Re…” Akhisa ragu.
“Udah, izin aja sama Kak Nathan. Bilang aja kamu pulangnya bareng aku.” Tere mendorong lembut pundak Caca.
Setelah ragu sesaat, Akhisa akhirnya menurut. Ia mengeluarkan ponsel dari totebagnya, dan menelpon Nathan. Beberapa menit berlalu, suara di seberang terdengar berat tapi tenang. Ia mengangguk kecil, meski Nathan tak bisa melihatnya. Setelah menutup telepon, ia menoleh lagi ke kedua temannya.
“Dibolehin kok,” katanya pelan. “Yuk.”
“Let’s go!” seru Tere penuh semangat.
“Eh tapi” Akhisa memiringkan kepala. “Kita mau ke mana, sih?”