Chapter 16

148 19 7
                                        

Jangan lupa untuk Vote dan komentar ya semuanya. Terimakasih

~~ HAPPY READING~~

Pukul setengah delapan malam.

Langit kota sudah lama tenggelam dalam gelap. Lampu-lampu jalan dan sorot neon dari gedung-gedung tinggi memantul di jendela kaca, membuat bayangan cahaya menari di permukaan jalan yang basah karena hujan sore tadi.

Di lantai dua belas sebuah gedung perkantoran, lampu ruangan masih menyala redup. Nathan sedang merapikan berkas terakhir di atas meja kerjanya. Tangannya bergerak tenang, teratur, seolah ia terbiasa dengan keheningan seperti ini. Kantor mulai sepi tinggal suara pendingin ruangan dan gemuruh samar lalu lintas dari luar jendela yang terdengar.

Ia memasukkan dokumen ke dalam tas kerjanya. Jas hitam yang tergantung di balik kursi diraihnya, lalu dikenakan perlahan. Tidak ada terburu-buru. Tidak ada ekspresi di wajahnya selain lelah.

Keluar dari ruang kerjanya, Nathan hanya memberikan anggukan kecil pada satpam yang berdiri di lobi. Lalu masuk ke dalam mobil hitamnya yang terparkir rapi. Saat mesin menyala, seharusnya ia mengambil arah pulang ke rumah, ke tempat di mana seorang perempuan dengan setia sedang menunggunya. Tapi mobil itu justru membelok ke kanan, bukan arah jalan pulang ke rumahnya.

Tujuannya bukan rumah, tapi rumah sakit.

Tempat di mana Bianca bekerja. Perempuan yang masih memenuhi pikirannya sampai sekarang.

Ponsel yang tergeletak sembarangan di kursi penumpang sempat bergetar beberapa kali. Layar menyala menampilkan notifikasi pesan. Tapi Nathan hanya melirik sekilas. Tidak berniat membalas, bahkan untuk sekadar membaca.

"Kak, pulang jam berapa?"

"Kak, aku masakin makanan kesukaan Kakak loh."

"Kak, nanti kita makan malam bareng, ya?"

"Hati-hati di jalan pulang, Kak."

Pesan-pesan dari Akhisha hanya lewat seperti angin. Tidak menggugah hatinya, tidak juga membuatnya merasa bersalah.

Bagi Nathan, ini hanya pernikahan formalitas. Akhisha tetaplah seseorang yang hadir bukan karena cinta, tapi karena paksaan keadaan. Dan ia tidak punya ruang untuk perempuan lain dalam hatinya, selain Bianca.

Mobilnya melaju tenang di bawah cahaya lampu jalan. Di dalamnya, Nathan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tak satu pun pesan dari istrinya yang membuatnya ingin berbalik arah malam itu.

Mobil Nathan berhenti di area parkir khusus tamu. Nathan turun, menyisipkan kedua tangan ke saku jasnya, dan melangkah masuk ke dalam gedung putih bercahaya itu.

Suasana rumah sakit seperti biasa tenang, tapi penuh aktivitas. Suster berlalu lalang, aroma disinfektan menguar di udara. Nathan menuju meja informasi.

NEVER ENDING LOVE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang