Chapter 17.

115 17 0
                                        


~~~HAPPY READING~~~

Minggu pagi datang dengan langit cerah dan udara yang sejuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Minggu pagi datang dengan langit cerah dan udara yang sejuk. Di dalam kamar Akhisa menarik napas pelan sambil membuka jendela. Sinar matahari menyusup masuk, menghangatkan ruangan yang sejak semalam terasa dingin dan sepi.

Dengan langkah hati-hati, ia keluar dari kamar, mengenakan setelan santai berwarna pastel. Kakinya menapaki lantai dingin, namun pikirannya masih dipenuhi pertanyaan yang sama: Apakah Nathan sudah bangun?

Perlahan, ia melirik ke arah kamar utama. Pintu itu tertutup rapat, tapi ada aura kosong yang membuatnya merasa aneh. Ia hendak mendekat, sekadar mendengarkan apakah ada suara dari dalam, namun sebelum sempat bergerak lebih jauh, suara lembut menyapanya dari arah samping.

“Maaf, Mbak.” suara itu datang dari Bik Ina,

Akhisa menoleh pelan. “Iya, Bik?”

Bik Ina mendekat, membawa nampan kecil yang belum sempat diantar ke dapur. “Lagi nyariin Mas Nathan, ya? Barusan beliau keluar, Mbak. Saya juga kurang tahu ke mana perginya, soalnya buru-buru.”

Ada jeda di antara napas Akhisa sebelum ia tersenyum kecil, meski samar. “Oh, begitu ya. Terima kasih, Bik.”

“Saya ke dapur dulu, Mbak.” Bik Ina membungkuk sopan lalu berlalu, menyisakan keheningan yang kembali melingkupi lorong rumah.

Akhisa menatap pintu kamar Nathan sekali lagi. Hatinya berdesir kecil. Ia tidak tahu ke mana suaminya pergi pagi-pagi begini, dan lebih dari itu ia tak tahu apakah Nathan akan kembali membawa kabar baik atau justru serpihan baru untuk patah hatinya.

Ia berbalik, melangkah menuju taman belakang. Duduk di ayunan kecil yang sejak dulu jarang disentuh. Tangan kirinya mengelus pelan tali ayunan, tatapannya jauh menerobos langit.

"Aku gak tahu sampai kapan harus terus pura-pura kuat" batinnya bergema. Tapi bibirnya tetap tersenyum. Untuk dunia luar, Akhisa tetap istri yang baik, sabar, dan tenang. Padahal di dalam dadanya, badai tak pernah reda.

Ia terdiam cukup lama di bangku taman belakang, membiarkan pandangannya kosong menatap kolam kecil di depannya. Saat itu, ponsel di genggamannya tiba-tiba berdering, mengagetkannya dari lamunan. Ia menoleh dan melihat nama “Buna” terpampang di layar. Senyumnya muncul, kali ini sedikit tulus.

Dengan cepat ia menekan tombol hijau.

“Assalamualaikum, Buna.”

“Waalaikumsalam, Ca.” Suara ibunya terdengar lembut, tapi penuh rindu. “Buna kangen banget sama kamu, Nak. Kamu gimana kabarnya? Beberapa hari ini Buna khawatir. Kamu nggak kenapa-kenapa, kan, di sana?

Akhisa menahan napas sejenak, lalu menjawab dengan suara pelan namun berusaha terdengar ceria. “Caca juga kangen banget sama Buna. Alhamdulillah Caca baik, kok. Nggak usah khawatir, ya. Buna. sendiri gimana? Sehat-sehat aja, kan? Maafin Caca belum sempat ke rumah. Kak Nathan lagi sibuk banget, jadi Caca belum enak kalau ngajak pulang ke rumah Buna. Tapi Caca janji, nanti kalau ada waktu kosong, kita ke sana, ya.”

NEVER ENDING LOVE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang