Chapter 15

143 19 1
                                        

~~HAPPY READING~~

Pintu rumah terbuka perlahan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pintu rumah terbuka perlahan. Nathan melangkah masuk, diam-diam, tanpa suara. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh malam. Gelap dan sepi. Hanya lampu ruang tamu yang masih menyala redup.

Langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok perempuan di sofa.

Akhisha.

Perempuan itu tertidur dalam posisi duduk setengah rebah, dengan laptop masih menyala di pangkuannya dan buku-buku berserakan di meja. Rambutnya terurai, sebagian menutupi wajahnya yang lelah. Di sampingnya, segelas teh yang sudah dingin dibiarkan utuh, dan satu piring kecil berisi camilan tak tersentuh.

Nathan menatapnya dalam diam.

Ada sesuatu yang mencubit hatinya malam itu. Ia mengenal ekspresi lelah seperti itu. Terlalu familiar. Dulu, Bianca sering terlihat seperti itu juga.tapi entah kenapa, malam ini yang ia rasakan berbeda.

Caca.tidak sedang berpura-pura.

Ia bukan perempuan yang ingin menunjukkan sesuatu untuk dikagumi. Ia hanya... ada. Diam, tenang, dan tetap bertahan meski terus disakiti.

Nathan menghela napas pelan. Tangannya bergerak refleks, mengambil laptop dari pangkuan Akhisha dengan hati-hati, mematikannya, lalu meletakkannya di meja. Ia mengatur bantal di sandaran sofa, lalu dengan gerakan pelan, menyelimuti tubuh Akhisha dengan selimut tipis yang tergantung di sandaran kursi.

Ia ingin pergi begitu saja. Tapi entah mengapa, langkahnya terhenti lagi.

Wajah Akhisha terlihat begitu damai dalam tidurnya. Tanpa beban. Dan tiba-tiba, perasaan asing itu kembali muncul di dalam dadanya. Sebuah rasa... bersalah. Rasa yang terus menggerogoti harga dirinya sejak ia melangkah masuk ke rumah ini.

Pelan-pelan, Nathan berjongkok di hadapan sofa, menatap wajah perempuan itu dari dekat. Dan saat ia hendak berdiri.

“Kak Nathan?”

Suara pelan itu membuat Nathan kaku seketika.

Akhisha membuka matanya perlahan. Matanya sembab, mungkin karena terlalu lelah. Ia tampak kebingungan, mencoba fokus dalam cahaya lampu yang remang.

“sorry ganggu" ucap Nathan dengan nada datar.

Ia buru-buru bangun, tapi tubuhnya sedikit oleng karena terlalu lama duduk. Nathan refleks memegang bahunya agar tidak jatuh.

“Kamu ngapain ngerjain tugas di sini?” tanyanya.

Akhisha tersenyum tulus sembari membenarkan posisi duduknya. "Aku nungguin kamu pulang kak. Daripada bosen gak ngapa-ngapain makanya Nyambil nugas eh aku nya ketiduran"

Nathan terdiam. Kalimat itu membuat dadanya terasa sesak.

Nathan merubah posisinya yang tadinya berjongkok lalu berdiri. "Lain kali gak usah tungguin gue. Kalau mau tidur di kamar." Ucap Nathan dengan tangan kanan menunjuk ke arah kamar tamu yang menjadi kamar Akhisa sekarang.

NEVER ENDING LOVE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang