Chapter 20

155 21 3
                                        


Double update 😚

Nah, jangan pelit vote dong hehehe🤭

~~~HAPPY READING~~~

Pukul delapan malam, suasana kantor sudah nyaris hening

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pukul delapan malam, suasana kantor sudah nyaris hening. Lampu-lampu yang tadinya terang perlahan dipadamkan satu per satu, menyisakan remang di lantai tempat Nathan masih duduk termangu di meja kerjanya. Tumpukan kertas di depan laptop hanya menambah kesan bahwa pikirannya jauh melayang entah ke mana. Pandangannya kosong menatap layar, namun jelas sekali—dia tidak benar-benar melihat apapun.

Ketukan pelan di pintu membuatnya tersentak kecil. Sebelum sempat bersuara, daun pintu terbuka, menampakkan kepala Mahesa yang mengintip.

“Nath, gak pulang?” tanyanya, datar namun penuh makna.

Nathan hanya mengangguk pelan. “Duluan aja.”

Tanpa banyak kata, Mahesa menghilang dari balik pintu. Tapi belum sampai dua langkah, suara Nathan menyusulnya.

“Sa.”

Mahesa menoleh cepat.

“Ke tempat Jeevan yuk. Dah lama kita gak ke sana. Kabari anak-anak yang lain juga,” ucap Nathan, kali ini sambil bangkit dari kursinya dan meraih jaket tanpa menunggu jawaban.

Mahesa sempat terdiam, menatap punggung sahabatnya yang berjalan menjauh. Rasa penasaran muncul di wajahnya, tapi ia memilih tak bertanya. Ia segera merogoh ponsel dari saku celana, membuka grup pertemanan mereka, dan mulai mengetik pesan singkat.

Tak lama, mereka tiba di tempat yang sudah sangat akrab: bar milik Jeevan. Lampu temaram, dentuman musik yang tak terlalu keras, dan suasana yang lebih seperti tempat pelarian daripada hiburan. Nathan memarkir mobil dan langsung masuk, diikuti Mahesa yang masih sibuk mengecek ponselnya.

Ternyata para sahabat mereka sudah di sana. Haikala, Reynaldi, Jinan duduk santai di sofa panjang, masing-masing dengan minuman di tangan. Jeevan tampak di balik meja bar, sibuk melayani pelanggan.

“Sa. Nath,” sapa Reynaldi saat melihat mereka datang.

“Cepat banget, udah nyampe aja?” sahut Mahesa sambil ikut duduk.

“Emang dari tadi kita udah di sini kali,” jawab Haikala cuek, meneguk minumannya.

Haikala melirik Nathan yang duduk di sebelahnya. “Nath, muka lo kusut banget. Kayak orang habis ditampar kenyataan hidup.”

Nathan hanya tersenyum tipis, tak berniat menanggapi.

Tiba-tiba Jinan angkat bicara, dengan nada seperti baru mengingat sesuatu.

"Oh ya, Nath. Tadi itu di kampus gue gak sengaja liat Bianca sama Caca mereka lagi ngobrol di taman, Bianca udah balik, Lo tau?, dan setelah gue cari tahu ternyata dia sempat jadi dosen di sana beberapa Minggu. Dan katanya udah gak jadi dosen lagi."

NEVER ENDING LOVE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang