Chapter 19

153 25 0
                                        

Yang lupa alur boleh di baca ulang chapter sebelumnya ya🥰

Jangan pelit pelit vote nya dong🥺

Tinggalin komentar juga yaa..

Terimakasih semuanya 🥰🌞

~~~HAPPY READING~~~

Suara alarm dari jam weker di atas nakas meraung nyaring, memecah keheningan pagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suara alarm dari jam weker di atas nakas meraung nyaring, memecah keheningan pagi. Akhisa mengerjapkan matanya, menyapu sisa kantuk yang masih menggantung di pelupuk. Sekilas pandangnya tertumbuk pada jarum jam yang menunjuk pukul enam tepat. Dengan gerakan pelan, ia bangkit dari tempat tidur, merapikan selimut yang kusut lalu melangkah ke kamar mandi tanpa banyak suara.

Air dingin menyentuh kulitnya, menyegarkan pikiran yang masih lelah oleh sisa emosi semalam. Usai mandi, ia mengenakan blouse sederhana dan celana jeans, lalu menyampirkan tote bag di bahunya. Sesaat ia menarik napas panjang sebelum membuka pintu kamar, seolah tengah menyiapkan diri untuk hari yang tak ia tahu akan seperti apa.

Begitu keluar, pandangannya langsung menangkap sosok Nathan yang sedang duduk di meja makan. Lelaki itu tampak rapi dalam setelan jasnya, sarapan di hadapannya sudah tertata lengkap. Tapi tak ada sapaan atau bahkan lirikan dari Akhisa. Ia hanya melayangkan senyum ramah pada Bik Ina yang tengah menuangkan teh ke dalam cangkir.

“Pagi, Mbak. Mbak Caca mau ke kampus? Sarapan dulu, Bibik udah siapin,” ucap Bik Ina lembut, seperti biasa.

“Pagi juga, Bik,” jawab Akhisa dengan senyum sopan, tanpa menoleh sedikit pun pada Nathan. “Caca sarapan di kampus aja, Bik. Sudah telat, habis ini mau bimbingan skripsi. Caca pamit dulu ya.”

“Tapi, Mbak…” suara Bik Ina terdengar ragu.

“Gak apa-apa, Bik. Makasih, ya,” potong Akhisa sambil melangkah menuju pintu.

Namun langkahnya terhenti saat suara Nathan memanggil dari belakang. “Ca. Caca… tunggu.”

Akhisa pura-pura tak mendengar. Tapi Nathan segera menyusul, meraih pergelangan tangannya dengan cengkeraman lembut namun tegas.

“Apa sih, Kak?” Akhisa menoleh dengan kesal, menatap mata pria itu yang tak kalah tegang.

“Gue anterin,” kata Nathan, suaranya lirih namun mantap.

Akhisa tersenyum tipis, getir. “Gak usah. Saya bisa sendiri, kok. Bukan cuma hari ini, Kak, sebelumnya juga saya sendiri. Jadi udah biasa.”

Ia berusaha menarik tangannya, namun Nathan justru berdiri menghadang di depannya, memblokir jalannya.

“Minggir, Kak. Aku mau lewat,” katanya dengan nada dingin.

“Gue anterin,” ucap Nathan lagi, kali ini tanpa nada tanya, dan tanpa memberi ruang untuk penolakan, ia menggiring Akhisa keluar rumah, membukakan pintu mobil dan menyuruhnya masuk.

NEVER ENDING LOVE Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang