tentang seorang lelaki yang di tinggal nikah oleh kekasihnya tepat di hari pernikahan tanpa alasan yang jelas, Nathan Ghifari Aldebaran seorang pemimpin sekaligus CEO Aldebaran corps,
Walaupun telah di kecewakan tak membuat Nathan Ghifari membenci...
Annyeong yerobun:) mianheo. mizah baru update. Setelah hampir beberapa bulan ga up🙏 Mungkin sebagian dari kalian ada yang menunggu kelanjutan never ending love. Dan mungkin kesal juga karena gak update update.
Mohon maaf sebesar-besarnya karena tidak profesional sebagai author.
Mohon maaf semuanya:( aku kemarin kehilangan akun ini jadi tidak bisa melanjutkan cerita never ending love. Dan Alhamdulillah sekian banyaknya drama. Aku akhirnya bisa kembali ke akun ini:(. Saya juga mengucapkan ribuan terima kasih kepada Readers yang udah setia nungguin kelanjutannya. Maapin yaa teman teman..
Sekarang kaliann boleh menyelam di kisah Nathan dan Caca kembali.
Dan janji deh bakalan sering sering up hehehe...
Buat yang udah lupa alurnya boleh baca part sebelumnya ya:)
Vote komen jangan lupaa semuanya. Terimakasih readers:)
~~HAPPY READING~~
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nathan terbangun dari tidurnya saat nada dering ponselnya berdering beberapa kali. Membuat tidur Nathan terganggu dan lalu mengambil paksa ponselnya yang tergeletak di ampingnya.
"Gue, tau Lo bos ya!. Tapi bisa gak sih bersikap kayak pemimpin, gue sama yang lainnya udah nungguin Lo di ruang meeting, ini udah jam berapa, Nathan. Hargai Kita juga sebagai karyawan elo." Nada menyolot serta emosi yang tertahan dapat Nathan dengar di balik telpon.
"Gue gak ke kantor. Lo handel aja. Udah clear baru kabarin gue, jangan hubungi gue kalo belum clear"
Nathan dapat mendengar hembusan nafas frustasi dari lawan bicaranya di telepon, tanpa memperdulikan orang itu. Ia dengan santainya mematikan panggilan tersebut.
Ia melirik jam Walker di nakas yang menunjuk kan pukul setengah 12 siang, Nathan memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing. Lalu perlahan beranjak keluar kamar.
Pemandangan yang pertama kali di lihat adalah kesunyian, tak ada siapapun disana. Ia tidak mencari keberadaan Akhisha saat itu, karena ia tahu perempuan itu pasti sedang berada di kampus.
Nathan lalu beralih duduk di sofa ruang tengah rumahnya. Menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, sesekali ia memijit pelipisnya pelan.
Tiba tiba saja ingatan nya mengingat bagaimana sikapnya tadi malam yang sangat kasar terhadap Caca, mengusiknya. bagaimana pun gadis itu tidak bersalah. Namun hatinya cukup sakit untuk menerima semua kenyataan yang telah ia ketahui.
~~~~~
Akhisha baru saja menyelesaikan perkuliahan nya. Dengan Tere yang setia berjalan berdampingan dengannya. Tere sesekali melirik Caca. Tapi enggan untuk bertanya, Caca memang berada di kampus namun pikirannya tidak disana.