tentang seorang lelaki yang di tinggal nikah oleh kekasihnya tepat di hari pernikahan tanpa alasan yang jelas, Nathan Ghifari Aldebaran seorang pemimpin sekaligus CEO Aldebaran corps,
Walaupun telah di kecewakan tak membuat Nathan Ghifari membenci...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Cahaya pagi menyusup perlahan lewat celah tirai jendela kamar. Hangatnya menari pelan di dinding, lalu turun ke sprei yang kusut, dan akhirnya jatuh di wajah gadis yang tertidur dengan posisi menyamping, tubuhnya terbalut selimut tipis yang sebagian tersingkap.
Akhisa membuka matanya perlahan.
Detik pertama, ia hanya diam. Mendengar detak jam yang berjalan lambat dan suara napas teratur di sampingnya. Lalu, begitu menyadari keberadaan tangan yang melingkar lembut di pinggangnya, Caca memejam lagi, bukan karena ingin kembali tidur, tapi karena tak ingin membiarkan kenyataan pagi ini terlalu cepat berlalu.
Nathan masih tertidur. Wajahnya lebih tenang dari biasanya. Tidak ada garis beban di dahinya, tidak ada bayang-bayang kelelahan seperti malam-malam sebelumnya. Napasnya teratur, bibirnya sedikit terbuka, dan tangannya tetap memeluk Caca seolah enggan melepaskannya bahkan dalam tidur.
Dan untuk pertama kalinya, Caca tersenyum saat bangun tidur.
Ia menatap wajah Nathan dengan hati yang hangat. Tidak pernah ia sangka bahwa lelaki itu akan kembali seperti ini. Bukan hanya secara fisik, tapi secara hati. Penuh.
Perlahan, ia mengangkat tangannya, menyentuh pipi Nathan dengan lembut, seperti menyapa pagi yang baru.
“Pagi…” bisiknya nyaris tanpa suara.
Nathan menggerakkan jemarinya pelan, lalu matanya terbuka. Tatapan pertamanya jatuh pada wajah Caca yang begitu dekat dengannya. Ada sepersekian detik kebingungan, lalu senyuman pelan yang muncul di bibirnya.
“Pagi…” balasnya, serak tapi hangat.
Mereka saling menatap. Lama. Tanpa kata.
Dalam tatapan itu, ada rasa syukur, ada rasa malu, ada perasaan-perasaan yang sulit diterjemahkan. Tapi satu hal yang pasti: tidak ada penyesalan.
“Aku pikir aku mimpi,” gumam Nathan sambil mengusap rambut Caca yang terurai.
“Kalau mimpi, berarti kita mimpi bareng,” balas Caca, mencoba tersenyum meski matanya mulai berkaca-kaca.
Nathan mendekatkan wajahnya, mengecup kening gadis itu pelan. “Kalau ini mimpi, aku nggak mau bangun.”
Hening lagi. Tapi keheningan pagi ini tidak canggung. Justru terasa damai, seperti pagi pertama dari hidup yang baru.
“Aku takut...” ucap Caca tiba-tiba, suaranya nyaris seperti bisikan.
Nathan mengangkat wajahnya, menatap gadis itu serius. “Takut kenapa?”
“Kalau ini cuma momen. Dan besok... kakak berubah lagi.”
Nathan menarik napas panjang, lalu duduk perlahan, menarik tubuh Caca untuk ikut duduk bersamanya. Tangannya menggenggam jemari Caca erat.