Things I Never Said Aloud

23 2 0
                                        

Hujan turun perlahan malam itu, mengguyur atap rumah kecil yang kini terasa begitu sunyi. Suara tetes airnya menjadi latar belakang dari kekacauan pikiran Jeongyeon. Ia masih duduk di ruang tengah, kini memeluk lututnya sendiri. Lampu temaram dari pojok ruangan membuat bayangan dirinya tampak begitu rapuh—berbeda jauh dari sosok Jeongyeon yang selama ini semua orang kenal: kuat, tangguh, dan dingin.

Genggaman ponselnya erat. Sudah beberapa kali ia membuka aplikasi pesan, menatap nama "Changkyun" yang terpampang di layar. Dan seperti biasa, ia menutupnya kembali tanpa mengirim satu pun kata.

Mengapa ia tidak bisa mengakui perasaannya sendiri?

Apakah ia takut? Atau sebenarnya, ia masih terjebak pada kisah lama yang tidak pernah ia selesaikan dengan benar?

"Apa kau belum tidur?" suara Nayeon terdengar dari arah tangga. Ia sudah berganti pakaian tidur, tapi tetap mendekat dan duduk kembali di samping Jeongyeon seperti sebelumnya.

Jeongyeon hanya menggeleng pelan. "Kepalaku terlalu penuh."

Nayeon menghela napas. “Kau tahu, tidak ada yang menyuruhmu harus menyelesaikan semuanya malam ini juga, tapi kau tak bisa terus menundanya. Perasaan itu kalau dipendam terus, bisa jadi racun, Jeong.”

Jeongyeon tersenyum kecil. “Aku tahu. Tapi sejak kecil, aku terbiasa berpikir bahwa tidak semua hal harus disuarakan untuk bisa diselesaikan. Kadang… diam lebih menyelamatkan.”

“Lalu apakah diam juga menyelamatkanmu kali ini?” tanya Nayeon balik, menatap sahabatnya dengan serius.

Jeongyeon terdiam cukup lama. “Belum tentu. Tapi aku belum siap kalau hasilnya bukan seperti yang aku harapkan.”

Keesokan paginya, udara masih terasa dingin karena sisa hujan semalam. Jeongyeon bangun lebih pagi dari biasanya. Ia mengenakan sweater putih polos dan jeans hitam—tampak biasa, namun di baliknya ia sedang menyusun keberanian. Ia berjalan menuju dapur, menyeduh dua cangkir kopi dan meletakkan salah satunya di meja dapur.

"Aku akan bertemu Changkyun siang ini," katanya pelan, tepat saat Nayeon muncul dengan wajah masih setengah sadar.

Nayeon mengangkat alis. “Akhirnya,” katanya dengan nada menggoda.

Jeongyeon hanya tersenyum samar. Tapi bukan senyum bangga, lebih ke arah lega. Seakan beban yang selama ini menekan dadanya, mulai ia longgarkan satu persatu.

Mereka bertemu di taman kota, tempat yang sering mereka datangi saat sama-sama pulang kuliah lebih awal. Tempat yang dulu terasa seperti ruang pelarian, kini menjadi saksi bisu atas ketegangan yang menggantung di antara keduanya.

Changkyun sudah duduk lebih dulu di bangku taman, mengenakan hoodie abu-abu dan jaket denim. Ia menoleh saat melihat Jeongyeon berjalan mendekat.

“Kau datang tepat waktu,” katanya sambil tersenyum tipis.

Jeongyeon duduk di sampingnya. Mereka terdiam cukup lama. Angin sore meniup rambut Jeongyeon, tapi ia tidak menggesernya dari wajah. Di matanya ada keraguan, ada kecemasan. Tapi Changkyun tidak mendesaknya untuk bicara.

"Maaf," akhirnya Jeongyeon membuka suara.

Changkyun menoleh pelan. "Untuk?"

“Karena aku membuatmu menunggu. Mungkin terlalu lama. Mungkin terlalu diam. Tapi hari ini aku ingin bicara jujur,” katanya, menghela napas panjang.

Changkyun tetap menatapnya tanpa menyela.

Jeongyeon melanjutkan, “Aku tidak tahu sejak kapan, tapi aku mulai merasa kehilangan saat kau tidak ada. Aku menunggu pesanimu, menunggu obrolan randommu, menunggu lelucon bodohmu setiap malam. Tapi aku terlalu takut untuk mengakuinya. Mungkin karena aku masih membawa luka lama, atau mungkin karena aku belum pernah tahu rasanya benar-benar mencintai seseorang tanpa takut kehilangan.”

Changkyun memejamkan mata sejenak. "Aku tidak pernah menyalahkanmu untuk itu, Jeong. Aku hanya ingin kau jujur, terutama pada dirimu sendiri."

Jeongyeon mengangguk pelan. “Aku suka kamu, Changkyun. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara menjalani ini semua. Aku tidak seperti orang lain yang bisa mudah bilang ‘aku cinta kamu’ dan besoknya jalan berdua sambil pegangan tangan. Aku rumit. Aku tidak terbuka. Aku bahkan kadang tidak bisa menunjukkan perasaan dengan cara yang benar.”

Changkyun tersenyum, lalu meraih tangan Jeongyeon perlahan. “Aku tidak butuh kamu jadi seperti orang lain. Aku suka kamu… karena kamu Jeongyeon. Yang keras kepala, yang dingin, yang kadang nyebelin tapi selalu punya hati paling lembut untuk orang-orang di sekitarnya. Termasuk aku.”

Jeongyeon menunduk. Tangannya yang digenggam terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia tidak menepis atau menarik diri.

“Aku tidak tahu masa depan kita akan seperti apa. Tapi… maukah kau memberi kita kesempatan?” tanya Changkyun hati-hati.

Jeongyeon mengangguk. “Aku tidak janji akan mudah. Tapi aku mau mencoba.”

Malam itu, Jeongyeon duduk kembali di ruang tv, tempat yang sama di mana ia dulu termenung penuh keraguan. Tapi kali ini ia tersenyum sambil memeluk bantal kecil di pangkuannya. Ponselnya berbunyi.

Pesan dari Changkyun.

“Jangan tidur dulu. Aku baru selesai latihan. Mau denger lagu baru yang aku buat? Aku kasih spoiler buat kamu duluan. Hehehe.”


Jeongyeon mengetik cepat.

“Tentu. Aku sudah siap dengerin apa pun darimu. Bahkan kalau cuma suara kentut pun, aku rela.”


Ia terkikik sendiri setelah mengirimkan pesan itu. Beberapa bulan lalu, ia tak pernah membayangkan akan bisa merasa seperti ini—ringan, bahagia, tanpa beban yang terlalu dalam di hati.

Nayeon yang lewat hanya melirik dan berkata, “Jeongyeon akhirnya jadi manusia juga, ya.”

Jeongyeon menjulurkan lidah. “Tutup mulutmu sebelum aku bongkar rahasia surat cinta di laci kamarmu.”

Nayeon langsung diam dengan ekspresi panik, membuat Jeongyeon tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya, Jeongyeon tidak hanya bertahan. Ia mulai berjalan—pelan-pelan, tapi pasti—ke arah kebahagiaan yang berani ia bangun sendiri.

Dan cinta pertama… memang tidak pernah mudah. Tapi ketika ia datang dengan cara yang tak terduga, ia juga bisa menjadi awal dari sesuatu yang baru, dan lebih indah.

DreamTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang