Suara derik sendok di atas gelas terdengar lembut di dapur. Aroma jahe dan lemon menguap bersama uap dari cangkir yang sedang diaduk perlahan oleh Jeongyeon. Pagi itu hujan turun tipis, gerimis yang nyaris tak terdengar, tapi cukup untuk membasahi seluruh jalanan depan rumah. Ia berdiri dalam diam, matanya tertuju ke jendela dapur, menatap percikan air yang membentuk pola abstrak di kaca.
Dua hari setelah pertemuan terakhirnya dengan Changkyun, Jeongyeon merasa tubuhnya lebih ringan. Bukan karena semua masalah selesai, tapi karena hatinya tidak lagi menolak kehadiran perasaan yang lama ia abaikan. Ia tidak pernah percaya pada kalimat “cinta akan menyembuhkan luka,” namun kini ia tidak menolak ketika luka itu mulai terasa lebih reda, bukan karena diobati, melainkan karena ada seseorang yang diam-diam duduk di sampingnya, menunggui luka itu dengan sabar.
“Tante, mau main bareng?” suara kecil Ryujin menyadarkannya dari lamunan.
Jeongyeon menoleh dan tersenyum. “Mau. Tapi tunggu ya, tante habiskan tehnya dulu.”
Ryujin mengangguk, lalu berlari kecil ke ruang tengah, membawa bonekanya yang baru, hadiah dari seseorang yang sudah mulai dekat di kehidupan mereka.
Hari itu tak ada kegiatan kampus, tak ada pekerjaan tambahan, dan untuk pertama kalinya Jeongyeon merasa ia bisa menghabiskan waktu tanpa perlu terburu-buru. Tapi di balik tenangnya pagi itu, ada satu hal yang terus menghantui pikirannya sejak malam sebelumnya.
Jimin menghubunginya.
Pesan itu muncul begitu saja di layar ponselnya yang tergeletak di meja, hanya satu baris:
“Aku ingin bicara. Sekali ini saja.”
Jeongyeon tidak langsung membalas. Ia menatap pesan itu selama berjam-jam, bahkan sempat terpikir untuk menghapusnya, namun jarinya berhenti. Ia tahu, jika ia mengabaikan pesan itu, ia hanya akan menyimpan sesuatu yang menggantung. Dan Jeongyeon sudah terlalu lelah menyimpan banyak hal yang tidak selesai.
Siang itu mereka bertemu di sebuah taman kota. Tempat yang cukup terbuka tapi tidak ramai. Jeongyeon mengenakan kemeja putih longgar dan celana jeans. Sederhana, tapi tetap anggun dengan caranya sendiri. Ia duduk di bangku taman, memeluk jaket tipis yang menutupi tubuhnya dari angin.
Jimin datang lima menit setelahnya. Tidak banyak berubah. Tatapan yang sama. Senyum kecil yang dulu bisa membuat Jeongyeon lupa waktu. Tapi hari itu, semuanya berbeda. Karena kini Jeongyeon bukan lagi gadis yang ia kenal dua tahun lalu.
“Terima kasih sudah mau datang,” ucap Jimin pelan, matanya tidak sepenuhnya berani menatap Jeongyeon.
Jeongyeon mengangguk. “Kau bilang mau bicara.”
Jimin menarik napas dalam, lalu duduk di sampingnya. Jarak mereka cukup dekat, tapi tidak seperti dulu. Tidak ada lagi percikan ketegangan manis. Hanya dua orang yang pernah punya cerita, kini saling bertemu sebagai orang asing yang mencoba memahami sisa-sisa masa lalu.
“Aku salah waktu itu,” kata Jimin akhirnya. “Bukan karena aku tidak menyukaimu. Tapi karena aku takut.”
Jeongyeon menoleh. “Takut apa?”
“Takut kamu terlalu berarti,” ucap Jimin sambil mengerutkan dahi. “Aku kira kalau aku menjauh, aku bisa membuat kita berhenti sebelum semuanya terlalu dalam. Tapi nyatanya, aku hanya menyakiti satu-satunya orang yang bahkan tidak pernah meminta apapun dariku.”
Jeongyeon tertawa kecil, tidak sinis, tapi lebih seperti seseorang yang sudah berdamai dengan rasa kecewa. “Aku tidak marah, Jimin. Aku hanya tidak mengerti kenapa kamu pergi begitu saja. Kita tidak punya status, tidak ada janji, tapi tetap saja rasanya seperti ditinggalkan.”
Jimin menatap Jeongyeon dalam. “Karena kamu membuat aku merasa seperti rumah. Dan itu menakutkan. Aku tidak terbiasa merasa tenang.”
Hening sejenak. Jeongyeon menghela napas.
“Kau tahu?” katanya, “Aku bahkan tidak pernah marah. Aku hanya... merasa gagal mengenali apa itu cinta pertama.”
Jimin menggenggam kedua tangannya, lalu mengatupkannya di atas pangkuan.
“Aku datang bukan untuk mengajakmu kembali,” ucapnya lirih. “Aku tahu kamu sudah berubah. Bahkan wajahmu sekarang... lebih tenang. Ada seseorang yang membuat kamu seperti ini, kan?”
Jeongyeon tidak menjawab, hanya tersenyum samar. Dan Jimin tahu, itu lebih dari cukup sebagai jawaban.
“Kalau begitu,” katanya bangkit dari duduknya, “aku hanya ingin bilang terima kasih karena pernah membiarkanku ada di hidupmu. Walau cuma sebentar.”
Jeongyeon ikut berdiri.
“Dan aku ingin kamu tahu,” Jimin menatap matanya dalam, “kamu adalah bagian terbaik dari hidupku. Meski bukan yang paling lama.”
Lalu ia pergi. Tanpa pelukan. Tanpa tangis. Tapi dengan ketulusan yang sulit diucap. Dan untuk pertama kalinya, Jeongyeon tidak menangis. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan angin meniup helai rambutnya, sambil tersenyum kecil pada sisa-sisa kenangan yang kini telah dilepas.
Sore menjelang saat Jeongyeon pulang. Ryujin sudah tertidur di sofa, boneka barunya tergeletak di sampingnya. Dan di meja ruang tamu, ada satu kotak kecil berisi biskuit buatan sendiri dengan kartu kecil bertuliskan:
“Because I can’t cook anything fancy, I made something simple. – Changkyun”
Jeongyeon tertawa kecil. Ia duduk di lantai, membuka kotak itu, dan mengambil sepotong biskuit. Rasanya sedikit gosong di ujungnya, tapi manis. Manis dengan cara yang tidak sempurna, tapi tulus.
Ia mengambil ponselnya dan mengetik satu pesan:
“Aku habis ketemu masa lalu. Rasanya seperti menutup buku yang pernah aku baca berulang-ulang. Tapi kali ini, aku tidak mau baca ulang. Aku sudah cukup. Dan kamu tahu? Rasanya menyenangkan bisa menatap masa kini, dan tahu kamu ada di sana.”
Beberapa detik kemudian, balasan masuk:
“Aku tidak akan jadi masa depanmu kalau kamu tidak mau. Tapi aku akan selalu jadi tempatmu kembali, Jeongyeon. Bahkan kalau kamu cuma ingin diam tanpa bicara.”
Jeongyeon memeluk lututnya, menatap langit yang mulai berganti warna. Ada rasa hangat yang tidak bisa dijelaskan. Seolah-olah segala kepingan yang pernah tercerai berusaha kembali menyatu.
Hari itu, Jeongyeon sadar.
Cinta pertama bisa membuatmu terluka. Tapi bukan berarti cinta berikutnya tidak layak dicoba. Karena seseorang di masa kini bisa menyembuhkan luka yang tidak disebabkan olehnya.
Dan itulah bentuk cinta yang lebih dewasa: bukan yang hanya membuat jantungmu berdegup, tapi juga yang bisa membuatmu merasa aman untuk menangis, untuk tertawa, untuk menjadi rapuh, dan tetap dicintai.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream
Fanfiction"Aku hanya takut kalau aku tidak begitu baik untuk duniaku dan duniamu."
