Pagi itu langit tak terlalu cerah. Awan tipis menggantung di atas atap rumah dan udara sedikit lebih dingin dari biasanya. Jeongyeon terbangun lebih awal, membuka tirai kamarnya pelan, membiarkan cahaya abu keperakan menerpa lantai kamar yang masih dingin. Di atas meja riasnya, ada secangkir kopi dingin yang ia buat semalam. Rasanya sudah pasti hambar, tapi ia tetap meminumnya sambil menatap refleksi dirinya di cermin.
Untuk pertama kalinya, ia merasa tenang.
Bukan karena semua masalah telah selesai, tapi karena untuk pertama kali pula, ia berhenti menolak kenyataan bahwa hatinya bisa mencintai.
Hari itu, ia berjanji untuk menghabiskan waktu bersama Changkyun. Tidak ada rencana khusus, hanya ingin berjalan, mungkin makan siang, lalu mengobrol seperti biasa. Tapi ada sesuatu yang terasa berbeda. Perubahan yang pelan namun jelas; sesuatu yang hanya mereka berdua tahu: mereka akhirnya tidak lagi menahan apa yang selama ini tak pernah terucap.
Jeongyeon menuruni tangga dan menemukan Ryujin duduk di meja makan, masih mengenakan piyama bergambar awan dan bintang.
"Morning," sapa Jeongyeon sambil menyisir rambutnya yang belum sepenuhnya kering.
Ryujin menatapnya sambil menguap. "Hari ini tante mau pergi?"
Jeongyeon mengangguk. "Iya. Mau jalan sebentar."
"Sendirian?"
Jeongyeon tersenyum. "Sama teman tante."
Ryujin mengernyit. "Teman? Yang suka ngirim es krim pas aku demam?"
Jeongyeon mengangguk pelan, sedikit tersipu. "Iya, dia."
Ryujin memandangi wajah Jeongyeon dengan ekspresi dewasa yang tidak seharusnya muncul dari gadis seusianya. "Tante suka dia, ya?"
Pertanyaan itu membuat Jeongyeon terdiam beberapa detik. Ia menunduk, mengambil serbet dan menyeka meja meski tidak ada yang perlu dibersihkan.
"Sedikit," jawabnya akhirnya. "Mungkin lebih dari sedikit."
Ryujin tersenyum lebar dan melanjutkan makan serealnya. “Aku suka dia juga.”
Tempat mereka bertemu hari itu bukan kafe mewah atau taman romantis, melainkan halte kecil di pojok kota yang sepi. Tempat pertama kali mereka berdua secara tidak sengaja duduk berdampingan saat hujan turun dan bus terlambat satu jam. Tempat itu tidak penting bagi siapa pun, tapi bagi mereka, itu adalah awal dari cerita yang mereka simpan diam-diam.
Changkyun mengenakan kaus putih dan jaket bomber hitam. Ia membawa dua cup kopi dan satu kantong plastik berisi roti panggang isi telur.
“Kamu ingat?” katanya saat Jeongyeon tiba.
Jeongyeon duduk di sampingnya dan menerima kopi dari tangan Changkyun. “Aku ingat kamu waktu itu terlalu cerewet sampai aku berharap hujan reda lebih cepat.”
Changkyun tertawa. “Dan aku ingat kamu terus menghindari tatapanku. Aku sampai mikir, jangan-jangan wajahku mirip mantanmu yang menyebalkan.”
“Mantan? Aku bahkan tidak punya,” gumam Jeongyeon.
“Oh iya,” Changkyun menoleh, “jadi aku orang pertama?”
Jeongyeon menatapnya cepat, lalu mengalihkan pandangannya ke jalan. Pipinya memanas.
“Aku hanya bilang aku tidak punya mantan. Bukan berarti kamu yang pertama,” jawabnya cepat, lalu menggigit rotinya agar tidak perlu menjawab lebih jauh.
Changkyun tertawa. Tapi ia tidak memaksa. Ia tahu Jeongyeon seperti pasir di pantai—tidak bisa digenggam terlalu erat, tidak bisa dibiarkan terlepas terlalu lama. Tapi kalau kau cukup sabar, dia akan menetap di sela-sela jarimu dengan cara yang alami.
“Jeongyeon,” kata Changkyun pelan, “aku ingin kau tahu satu hal.”
Jeongyeon menoleh.
“Aku tidak ingin hubungan ini penuh tekanan. Aku hanya ingin ada kamu. Apa pun bentuknya, peranmu dalam hidupku adalah yang paling aku butuhkan. Entah kamu jadi kekasihku, atau tetap sebagai kamu yang dingin dan keras kepala, selama kamu masih ingin bicara denganku, itu cukup.”
Jeongyeon tidak menjawab. Tapi ia menatap Changkyun dengan tatapan yang sama sekali tidak kosong. Tatapan yang penuh pemahaman, yang pelan-pelan meluruhkan tembok yang sudah ia bangun sejak lama.
“Kalau aku tidak bisa bilang ‘aku kangen’ setiap hari, kamu bakal marah nggak?” tanya Jeongyeon sambil meminum kopinya.
Changkyun menggeleng pelan. “Nggak.”
“Kalau aku tidak bisa memelukmu waktu kamu butuh, kamu akan tetap nungguin aku?”
“Iya.”
“Kalau aku menyakitimu tanpa sengaja, kamu masih mau jadi rumah buat aku?”
“Kamu nggak perlu jadi sempurna buat aku, Jeongyeon. Kamu cukup jadi kamu. Aku akan tunggu setiap versimu, bahkan yang paling menyebalkan sekalipun.”
Dan untuk kali pertama, Jeongyeon bersandar di bahu Changkyun. Di halte kecil itu. Tanpa kata-kata besar. Tanpa janji. Hanya rasa yang akhirnya menemukan jalan untuk mengalir dengan tenang.
Malam hari, mereka pulang bersama. Di depan rumah, Jeongyeon berdiri memandangi wajah Changkyun yang diterangi cahaya lampu depan.
“Besok aku akan sibuk,” katanya.
“Berapa hari?”
“Mungkin dua. Ada pekerjaan tambahan.”
Changkyun mengangguk. “Aku nggak akan kirim pesan tiap jam. Tapi aku harap kamu tetap mikirin aku meski sedikit.”
Jeongyeon tersenyum, kali ini penuh. “Aku bahkan tidak bisa berhenti sejak beberapa hari ini.”
Mereka tidak berpelukan atau saling mencium seperti kisah romansa klasik. Mereka hanya menatap. Dan kadang itu lebih dari cukup.
Saat pintu rumah tertutup dan suara langkah Jeongyeon menghilang, Changkyun akhirnya mengeluarkan ponselnya.
“Thanks for letting me in, even just a little. Aku akan jaga tempat kecil itu baik-baik.”
Di dalam kamar, Jeongyeon menatap langit-langit. Ponselnya tergeletak di sebelah bantal.
Ia tidak membalas pesan itu malam itu.
Tapi ia memeluk ponselnya saat tidur.
Dan dalam mimpinya, ia tidak lagi ssendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream
Fanfiction"Aku hanya takut kalau aku tidak begitu baik untuk duniaku dan duniamu."
