Hujan turun tipis saat Changkyun berdiri di depan jendela, menggenggam secangkir kopi hitam yang sudah dingin sejak sejam lalu. Di meja makan kecil apartemennya, tergeletak piring bekas adonan biskuit yang tadi malam ia buat sambil mengumpat pelan karena bentuknya lebih mirip kue gagal eksperimen daripada makanan manusia.
Tapi Jeongyeon bilang enak.
Kalimat singkat dari pesan yang ia terima siang tadi masih terbayang jelas di kepala:
“Aku habis ketemu masa lalu. Rasanya seperti menutup buku yang pernah aku baca berulang-ulang. Tapi kali ini, aku tidak mau baca ulang. Aku sudah cukup. Dan kamu tahu? Rasanya menyenangkan bisa menatap masa kini, dan tahu kamu ada di sana.”
Ia membacanya puluhan kali. Tidak karena ia tidak mengerti, tapi karena ia tidak percaya bahwa seseorang seperti Jeongyeon akhirnya mengizinkan seseorang masuk lebih dalam ke dalam hatinya.
Dan bahwa seseorang itu adalah dirinya.
Changkyun tidak pernah terburu-buru soal Jeongyeon. Ia tahu betul gadis itu adalah benteng yang tidak bisa diserbu secara frontal. Butuh waktu. Butuh pengertian. Dan yang paling penting, butuh keberanian untuk tidak pergi saat tak diberi ruang.
Jeongyeon tidak dingin, ia hanya terlalu sering disakiti sampai lupa bagaimana caranya membuka pintu tanpa takut akan kehancuran lagi.
Dan Changkyun? Ia tetap tinggal. Bahkan saat Jeongyeon berlari.
Semua berawal dari hari itu—hari ketika ia secara tak sengaja mengantar Ryujin yang tertinggal dijemput. Ia tak pernah menyangka bahwa pertemuan kecil di bawah payung itu akan menjadi awal dari segalanya.
Jeongyeon tidak banyak bicara. Tapi matanya berbicara terlalu jujur.
Saat pertama kali ia melihat Jeongyeon dari dekat, bukan hanya wajahnya yang cantik atau cara ia melipat jaket Ryujin dengan sabar yang membuatnya terpaku. Tapi caranya berdiri. Caranya menghindar dari perhatian. Caranya menolak kebaikan seolah-olah itu adalah kelemahan.
Jeongyeon hidup seolah-olah dunia menuntutnya kuat setiap saat. Dan Changkyun tidak ingin jadi orang yang memberatkan beban itu. Ia hanya ingin jadi jeda.
Hari itu, saat Jeongyeon mengirimkan pesan bahwa ia baru saja bertemu dengan Jimin, hati Changkyun sempat mencelos. Ia tahu siapa Jimin. Bukan secara pribadi, tapi cukup untuk tahu bahwa laki-laki itu pernah menjadi sesuatu—atau mungkin segalanya—untuk Jeongyeon. Dan perasaan takut itu kembali datang.
Tapi pesan Jeongyeon tidak berbicara tentang luka. Ia berbicara tentang keberanian.
Changkyun duduk di kursi meja belajarnya, menggulung lengan sweaternya yang terlalu panjang. Ia melihat foto-foto kecil yang tertempel di papan cork di atas mejanya—sebagian besar foto kampus, tapi ada satu yang mencolok: Ryujin tertawa sambil memeluk boneka. Boneka pemberiannya.
Dan ada satu yang lebih baru. Jeongyeon, duduk di sudut kantin kampus dengan wajah letih tapi senyum mengembang karena menatap Ryujin yang makan berantakan.
Changkyun diam-diam mengambil foto itu minggu lalu. Bukan karena stalking, tapi karena ingin menyimpan sesuatu yang nyata. Bahwa rasa ini bukan sekadar takjub atau cinta bodoh mahasiswa.
Jeongyeon adalah rasa yang tumbuh perlahan. Dingin di awal, tapi hangat di dalam. Dan jika ia dibiarkan tinggal cukup lama, mungkin ia bisa tumbuh di dalam ruang itu.
Bukan untuk menggantikan Jimin. Bukan untuk menghapus masa lalu.
Tapi untuk menemani Jeongyeon menulis lembar baru.
Ia mengirim pesan malam itu:
“Kamu tahu? Aku tidak pandai memasak. Tapi aku bisa belajar. Sama seperti aku belajar memahami kamu.”
Balasan Jeongyeon datang cukup lama kemudian, hanya berupa:
“Jangan berlebihan, nanti aku jatuh hati beneran.”
Changkyun tertawa kecil. Ia memeluk bantal kursinya dan menghela napas. Tangannya refleks mengetik:
“Kalau memang harus jatuh, jatuhlah ke tempat yang bisa menampung kamu seutuhnya. Aku sedang mengosongkan ruang.”
Tidak ada balasan malam itu. Tapi tidak apa-apa. Ia tidak sedang mengejar kecepatan. Ia sedang menunggu keberanian.
Esoknya, Changkyun memberanikan diri mengunjungi rumah Jeongyeon. Tanpa bunga. Tanpa hadiah. Hanya membawa satu kantong belanja berisi bahan makanan dan sekotak susu cokelat untuk Ryujin.
Saat pintu dibuka, Jeongyeon berdiri dengan kaos oversize dan rambut masih berantakan. Matanya sedikit membesar melihat Changkyun, tapi tidak menutup pintu. Itu tanda baik, pikirnya.
“Pagi. Aku… bawa bahan masak. Katanya kita harus latihan dari sekarang,” kata Changkyun.
Jeongyeon menatap kantong plastik itu lalu menatapnya.
“Latihan apa?” tanyanya.
“Latihan jadi orang yang gak nyusahin kalau diundang makan malam bareng keluarga kamu. Siapa tahu… someday,” ujar Changkyun sambil tersenyum kecil.
Jeongyeon terdiam sejenak, lalu berjalan menjauh dari pintu sambil bergumam, “Masuk. Sebelum aku berubah pikiran.”
Changkyun mengikuti masuk dengan hati yang mulai berdebar.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa diterima. Bukan sebagai tamu. Tapi sebagai seseorang yang mungkin—hanya mungkin—akan jadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Lebih dalam.
Jeongyeon duduk di meja dapur, melihat Changkyun yang kikuk memotong wortel dengan cara aneh.
“Kau serius tidak bisa masak?” tanyanya.
“Aku bisa buat air mendidih,” jawab Changkyun dengan bangga.
Jeongyeon tertawa pelan, suara yang sangat jarang didengarnya langsung. Ia tidak banyak bicara lagi setelah itu, hanya sesekali memperhatikan Changkyun yang sibuk menumis bawang dengan api terlalu besar sampai batuk-batuk.
Dan saat makan siang siap, meski rasa nasinya agak keras dan bumbunya terlalu banyak, Jeongyeon tetap memakannya.
Ryujin datang menyusul ke dapur, duduk di pangkuan Jeongyeon dan menunjuk telur dadar gosong buatan Changkyun.
“Tante, Changkyun oppa bikin ini?” tanyanya polos.
Jeongyeon mengangguk.
“Aku suka,” ucap Ryujin sambil memakan potongan kecil telur.
Dan Changkyun tidak butuh validasi lebih. Hari itu, ia tahu, perlahan ia masuk dalam hidup dua orang paling rumit tapi paling tulus yang pernah ia temui.
Malam hari, Jeongyeon mengantarnya ke depan pintu.
“Makasih ya,” katanya pelan.
“Untuk makanannya?” tanya Changkyun.
Jeongyeon menggeleng. “Untuk datang. Untuk tinggal.”
Changkyun menatap mata itu lama. Lalu ia berkata, “Kalau kamu izinkan, aku akan terus tinggal.”
Jeongyeon tidak menjawab. Tapi ia berdiri lebih lama, tidak langsung menutup pintu. Dan untuk Changkyun, itu sudah lebih dari cukup.
Karena kadang, perasaan tidak diungkapkan dengan pelukan atau ciuman. Tapi dengan waktu yang diberikan. Dengan pintu yang tidak buru-buru ditutup.
Dengan keberadaan yang diterima.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dream
Fanfiction"Aku hanya takut kalau aku tidak begitu baik untuk duniaku dan duniamu."
