"Ini.... Apa?" Tangan Hoseok terulur untuk menerima sebuah kertas yang terlihat seperti sebuah undangan.
"Undangan pernikahan ku, Seok." Hoseok sudah menduga kalau itu adalah undangan pernikahan, hati Hoseok terasa nyeri. Iya masih sangat mencintai orang yang memberikan undangan itu, tapi ia tau kalau dirinya tidak akan pernah bisa menang melawan cinta pertama orang itu dan Hoseok juga tau mereka berdua masih sangat saling mencintai makannya mereka bisa berakhir di altar pernikahan yang akan datang.
Sebisa mungkin Hoseok tersenyum saat menerima undangan tersebut, meskipun matanya begitu berkaca kaca.
"Akhirnya kalian menikah juga, selamat untuk mu .... Yoongi hyung" . Yoongi meraih kedua tangan Hoseok dan menggenggamnya dengan lembut. Mata Hoseok sulit fokus karena berusaha menahan air mata yang sangat ingin jatuh itu.
"Sekali lagi maafkan aku Seok, maaf karena memberikan harapan palsu seperti ini. Aku merasa sangat bersalah untukmu Seok aku..." Hoseok menarik tangannya, masih dengan senyum yang terukir di bibir Hoseok. Hoseok mendongak dan menatap mata Yoongi dengan teduh.
"Tidak perlu meminta maaf terus hyung, kita memang ditakdirkan hanya untuk saling mencintai sementara saja. Sejak awal saat mengetahui tentang cinta pertamamu aku sudah yakin saat saat seperti ini akan terjadi jadi aku sudah mempersiapkan diri. Seseorang yang saling mencintai dan sama sama sebagai cinta pertama, berpisah secara baik baik tentu saja ikatannya akan sangat kuat. Kalian berhak untuk bahagia, dan tidak perlu ada rasa bersalah lagi oke?. Kita masih bisa menjadi teman jadi tidak perlu sebersalah itu oke?" Hoseok melangkah mundur dan segera berbalik namun pergelangan tangannya ditahan oleh Yoongi. Hoseok segera melepaskan nya dan tanpa menoleh.
"Tolong lepaskan aku hyung, selamat menempuh hidup baru". Hoseok melangkah pergi dengan air mata yang mengalir deras. Ekspresi Hoseok tidak berubah namun air matanya yang mengalir deras menjadi saksi betapa sakitnya apa yang baru saja ia lewati.
Setelah merasa cukup jauh dan berada di tempat yang cukup sepi, Hoseok menghentikan langkahnya. Dibawah pohon yang cukup rindang, Hoseok berdiri dan perlahan merosot. Tangannya terasa begitu lemah tak mampu menahan tubuhnya. Air matanya makin deras mengalir dari kelopak mata yang sudah membengkak itu.
"Hahhhh ini belum terlambat. Aku hanya mengenal Yoongi hyung selama enam bulan, aku masih bisa menata hati lagi... benar itu benar..." Hoseok terus bergumam menyakinkan dirinya sendiri. Sedang seseorang yang melihatnya dari kejauhan hanya bisa berdiri diam di tempat. Tatapan matanya begitu dalam melihat punggung Hoseok yang rapuh.
Satu bulan berlalu, Hoseok masih saja merasakan sakit apalagi saat ia melihat setiap sudut rumahnya yang penuh dengan kenang kenangan bersama Yoongi. Hoseok duduk di ruang tengah, dan menatap langit langit dengan tatapan kosong sampai sebuah dering telpon membuyarkan lamunan Hoseok. Dengan ogah ogahan Hoseok meraih handphone miliknya dan terlihat sebuah nomor tidak dikenal yang menelponnya.
"Hallo....."
"Lama tidak mendengar suaramu... hyung" Hoseok sempat terdiam dan melihat handphone nya untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat kalau yang menelepon adalah nomor tidak dikenal.
"Siapa ini? darimana kau bisa memiliki nomerku?"
"Hahahaha, kupikir kau akan semakin dewasa dengan suara yang begitu berat. Ternyata kau tepat imut yah hyung" Hoseok benar benar bingung dengan orang yang tengah menelepon nya.
"Apa hyung masih belum mengerti juga? Apa hyung tidak mengenali suaraku? ahh apa karena suaraku sudah seberat ini jadi hyung tidak mengenalinya. Ini aku hyung, Taehyung... Kim Taehyung " Mata sipit Hoseok langsung membesar begitu mendengar nama orang yang sedang menelepon nya itu.
