Udara musim gugur menyelimuti wilayah kecil di pinggiran selatan Prancis. Daun-daun maple berguguran, menguning, menyapu jalan setapak menuju sebuah vila tua yang kini menjadi rumah sementara keluarga Soedrajat. Bangunan bergaya kolonial dengan dinding putih pucat dan jendela-jendela besar itu tampak asing, terlalu sunyi dibanding hiruk pikuk rumah mereka di Jakarta.
Sudah tiga minggu sejak mereka meninggalkan Indonesia, meninggalkan luka, pengkhianatan, dan tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa putri bungsu mereka.
Mikha duduk di balik jendela kamarnya, memeluk lutut. Di balik kaca, langit kota sedang cerah menyajikan hamparan awan tipis dengan langit jingga sebagai latar belakangnya. Tapi yang membayang di matanya bukanlah keindahan pemandangan, melainkan darah, teriakan, dan wajah Abbie yang terhantam pukulan saat berusaha menyelamatkannya.
Wajah itu...
Senyum itu...
Sosok itu...
Masih terus mengusiknya, setiap malam.
Ketika ia menutup mata, ia kembali ke malam itu, duduk tak berdaya, tubuhnya digeret paksa, dan Abbie... berdiri di tengah pertarungan, tubuh penuh luka tapi matanya tak gentar. Melindunginya sampai tetes darah terakhir.
"Kenapa harus dia yang menanggung semua ini..." bisik Mikha pada dirinya sendiri.
Setiap malam, mimpi buruk menyergapnya. Ia terbangun dengan keringat dingin, napas tersengal. Tak jarang ia menangis diam-diam, tanpa suara, karena tidak ingin membuat orangtuanya lebih cemas. Pak Wisnu kini lebih protektif dari sebelumnya, dan Nyonya Ellina selalu berada tak jauh dari putrinya, seolah takut Mikha akan lenyap jika mereka lengah.
Ario pun tak banyak bicara, tapi sikapnya berubah. Ia jadi penjaga diam-diam, mengawasi dan memperhatikan Mikha bahkan dari balik layar.
Mikha yang dulu ceria, yang bisa tertawa terbahak hanya karena lelucon receh Manda atau ceng-cengan Lyra, kini menjelma sosok yang lebih dingin, lebih hati-hati. Ia menarik diri dari media sosial, memutus komunikasi dengan semua teman-temannya di Jakarta.
Keputusan untuk pergi dari Indonesia adalah keputusan ayahnya dan ia mengerti. Tapi mengerti bukan berarti tidak merasa kehilangan.
Mereka membawa pengawal, tinggal di bawah radar, dan mengganti semua identitas mereka di negara ini. Keluarga Soedrajat kini bukan siapa-siapa, hanya sekumpulan 'ekspat' yang kabur dari negara asal demi 'alasan pribadi'.
Tapi Mikha tahu, semua ini belum berakhir.
Suatu hari, dia tahu, dia akan kembali. Bukan sebagai korban. Tapi sebagai seseorang yang tahu cara bertahan.
Itulah mengapa ia mulai belajar. Bukan memukul, bukan menendang. Tapi memahami: bagaimana musuh berpikir. Bagaimana merancang rute kabur. Bagaimana membaca tekanan dalam situasi ekstrem.
Draco mengirimkan materi pelatihan yang biasanya digunakan oleh agen Centaury pemula tentang strategi, simulasi penyanderaan, pemetaan psikologis musuh.
Selain membaca buku, Mikha juga sekarang jadi lebih suka menulis. Awalnya hanya coretan di kertas, lalu berkembang menjadi entri jurnal. Tapi bukan sekadar catatan harian. Jurnal itu lebih seperti kumpulan pesan yang tidak pernah terkirim. Untuk Abbie.
"Hari ini langitnya cerah. Tapi aku masih dingin, sama seperti malam itu dimana aku hanya berharap kamu datang."
"Kalau waktu bisa diulang, aku mau bilang jangan berdiri di depan aku waktu itu. Tapi kamu pasti tetap akan lakukan hal yang sama, ya?"
Ia menuliskannya setiap malam, sebagai cara untuk melawan mimpi buruk yang terus datang.
Setiap kata adalah upaya untuk bertahan. Setiap paragraf adalah pelindung rapuh atas luka yang belum sembuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lacuna
Action"A blank space, a missing part." Pengawalan ketat selalu dilakukan oleh Wisnu Soedrajat bagi setiap anggota keluarganya. Pebisnis kaya yang memiliki banyak saham di berbagai perusahaan besar di ibukota ini memang memiliki banyak lawan sehingga ia ha...
