Andromeda

972 95 16
                                        

Hujan mulai turun ketika suara langkah-langkah tergesa terdengar di lantai parkir basement markas Centaury. Draco keluar dari mobil dengan wajah muram, jasnya masih basah oleh hujan. Di belakangnya, dua agen membawa tubuh Abbie yang terluka parah.

"Bawa Abbie ke ruang medis. Segera," perintahnya tajam.

Darah masih menetes dari kaki kanan Abbie yang tertembak. Tangannya lebam, pipinya bengkak, dan luka robek menghiasi pelipisnya. Namun tatapannya tetap tajam, sekeras tekadnya.

Draco mengiringi mereka masuk, sementara Carina datang tergesa.

"Astagaa, Abbie!" gumamnya, menatap kondisi rekannya dengan cemas.

Abbie menggertakkan gigi. "Aku baik-baik saja. Cari Mikha."

"Tenang. Kami akan cari dia," jawab Carina, lalu menatap Draco. "Kita harus tahu siapa otak di balik ini semua."

Draco mengangguk. Ia menatap layar besar di ruang taktis Centaury, memperlihatkan peta digital dan log intervensi dari timnya.

"Hydra adalah pengkhianat. Tapi dia bukan bos utama. Seseorang yang lebih besar sedang memainkan catur ini dari belakang layar."

"Angga hanya pion," tambah Carina.

Draco menyipitkan mata. "Dan sekarang mereka pegang Mikha. Kita harus gerak sebelum hari ulang tahunnya berakhir."

Sementara itu, Abbie sudah duduk di ruang medis dengan perban menutupi kakinya. Untung saja tidak mengenai organ vital, hanya tergores. Namun tetap saja, luka itu tetap akan mempengaruhi kondisi Abbie.

Draco masuk ke ruang medis.

"Kau bisa bertarung dalam 24 jam ke depan?" Abbie menatapnya lekat-lekat, lalu mengangguk.
"Apapun risikonya, aku akan bawa Mikha pulang."

Draco menatap Abbie sebentar sebelum menggeser map ke meja samping. Di dalamnya, terlihat foto udara sebuah gedung tua di pinggiran kota, yang sinyal GPS-nya sempat menangkap koordinat terakhir Mikha dari ponselnya.

"Lokasinya ini. Gedung kosong yang sudah terbengkalai lebih dari 10 tahun. Tak ada CCTV, sinyal lemah, tapi cukup banyak lalu lintas kendaraan tak dikenal di sekitar sejak semalam."

"Mikha di sana, sendirian. Dia pasti ketakutan," desis Abbie.

"Kita akan masuk saat gelap. Silent entry. Tim Alpha dan Gamma akan masuk dari sisi timur dan barat, bahan peledak sudah disiapkan," tegas Draco ke timnya lalu menatap Abbie. "Kamu, cari jalan paling mudah untuk mencari Mikha."

"Hydra?"

"Masih di lokasi. Tim juga menangkap menangkap sinyal komunikasi dari satu nama yang kamu kenal, Amadeo."

Abbie terdiam. Nama itu memukulnya lebih dalam daripada luka fisiknya. Amadeo adalah eks-agent Centaury, seorang manipulator, seorang hantu.

"Jadi dia bos sebenarnya?"

"Sepertinya. Tapi belum pasti."

Abbie mengepalkan tangan.

"Aku akan pastikan mereka semua tidak akan bisa menyentuh Mikha lagi. Tidak selagi aku masih berdiri."

***

Di Gedung Tua, Suatu Tempat Entah Berantah

Mikha duduk dengan tangan terikat pada kursi besi berkarat, rambutnya kusut, bibirnya pecah-pecah, dia hanya bisa menatap nanar ke jendela retak yang menampilkan langit kelabu.

Dinding di sekitarnya penuh lumut, dengan aroma pengap yang menyengat. Hanya sesekali ia mendengar suara tawa lelaki dari lorong, atau langkah sepatu bot yang beradu dengan lantai semen.

LacunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang