Udara malam Lyon dingin menusuk, membawa bau lembap dari Sungai Rhône. Dari flat kecilnya, Abbie menatap layar laptop khusus Centaury yang baru saja menampilkan laporan singkat. Baris demi baris data bergulir, penuh kode nama dan lokasi.
CENTAURY OPS REPORT:
Hydra & Angga — STATUS: FUGITIVE.
Kabur saat proses ekstradisi, dibantu pihak luar: "S."
Pergerakan terakhir: Eropa Barat.
Jejak komunikasi: Lyon.
Abbie mengerutkan dahi membaca laporan tersebut. Ia pun langsung mengirimkan pesan ke Draco lewat enkripsi.
AB77 (Abbie):
Apa yang terjadi?
DRC01 (Draco):
"Hydra dan Angga sudah dipegang otoritas internasional. Mereka bukan lagi sekadar penjahat lokal. Ada banyak hal yang terkuak di interogasi."
Abbie mengetik cepat.
AB77 (Abbie):
"Mereka menyerang keluarga Soedrajat di Jakarta. Kenapa bisa sampai jadi urusan internasional?"
Beberapa detik hening. Lalu balasan muncul.
DRC01 (Draco):
"Senjata mereka tidak datang dari pasar gelap lokal. Jejaknya terhubung ke jalur Balkan. Ada dana masuk dari Swiss, kode nama 'S'. Angga cuma pion. Hydra pemain lama. Interpol sudah lama incar dia."
Abbie menahan napas, membaca tiap kata.
AB77:
"Jadi benar, ada yang jauh lebih besar di balik semua ini..."
DRC01:
"Ya. Tapi ingat, tugasmu bukan mengejar mereka sekarang. Fokusmu hanya satu: Mikha."
Abbie mengetukkan jarinya di meja. Jantungnya berdegup tak nyaman.
"Jadi benar... mereka bebas. Dan lebih dekat daripada yang Mikha bayangkan."
Ia menutup laptop, mengambil coat hitam panjang, lalu turun ke jalan. Malam Lyon tampak ramai, pasar malam di distrik Guillotière penuh cahaya lampu dan kerumunan orang. Namun di balik keramaian itu, Abbie tahu ada yang lain: langkah-langkah asing, percakapan yang sengaja ditelan kebisingan.
Ia menyusuri lorong pasar, menyamar sebagai pengunjung biasa dengan secangkir kopi kertas di tangan. Matanya menangkap tiga pria yang berkerumun di pojok, berbicara cepat dalam bahasa campuran Prancis dan Rusia. Kamera mini di kancing coat-nya merekam setiap detik.
"...shipment... Marseille..."
"...transfer... Geneva..."
"...Soedrajat..."
Tubuh Abbie menegang. Kata itu membuat darahnya dingin. Mereka tahu nama keluarga itu.
Salah satu pria menoleh, matanya menyapu kerumunan. Abbie buru-buru berbalik, berpura-pura sibuk melihat kios perhiasan. Tapi langkah berat mendekat, terlalu cepat untuk dianggap kebetulan.
Ketahuan!
Ia menaruh gelas kopi di meja, lalu menyelinap masuk ke gang sempit di belakang pasar. Langkah-langkah memburu dari belakang. Nafasnya memburu, kakinya yang masih belum pulih sepenuhnya terasa nyeri.
Dua pria muncul dari tikungan, menghadangnya.
"Who sent you?" salah satunya mendesis, aksen berat menodai kata-katanya.
Abbie tidak menjawab. Ia meraih kaleng kecil dari sakunya, flash bang mini.
Cahaya putih menyilaukan meledak, membuat mereka menjerit. Abbie memanfaatkan momen itu, berlari menembus lorong berbatu, melompat melewati tumpukan peti. Namun seorang lagi berhasil mengejar, hampir meraih lengannya.
Dengan cepat, Abbie memutar tubuh, menghantamkan siku ke rahang pria itu. Tubuhnya ambruk menghantam dinding. Nafas Abbie berat, tapi ia tak berhenti. Ia tahu setiap detik bisa membuka identitasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lacuna
Aksiyon"A blank space, a missing part." Pengawalan ketat selalu dilakukan oleh Wisnu Soedrajat bagi setiap anggota keluarganya. Pebisnis kaya yang memiliki banyak saham di berbagai perusahaan besar di ibukota ini memang memiliki banyak lawan sehingga ia ha...
