"Naruto dan Menma akan ikut denganku."
Pernyataan yang dikeluarkan oleh sang tetua Uchiha membuat seluruh penghuni kamar rawat inap si bayi yang disebutkan namanya barusan menjadi senyap seketika. Seluruh pandangan mengarah pada sang Uchiha senior yang tampak tidak peduli dan asik mengusap pipi gembil kemerahan si gembul yang berada dalam pelukannya. Bergerak mengayun-ayun si bayi yang kegirangan sehingga tertawa tanpa suara-memperlihatkan gummy smile-dan gigi yang hampir tumbuh.
Kya! Imut sekali! Ingin rasanya Madara mengunyah si gembul yang membuatnya sangat gemas. Sungguh tak tertahankan! Oh, biarkan lelaki tua ini menyenangkan dirinya sendiri.
Oke, mari kita alihkan fokus pada beberapa orang yang juga berada di dalam kamar rawat inap Menma yang mendengar kalimat sang tetua Uchiha tadi. Pertama, pemuda bersurai pirang yang sedang merapikan pakaian si gembul mendadak menghentikan kegiatannya dan menatap sang tuan besar terkejut. Huh? Naruto tidak diberitahu apa-apa. Madara tidak pernah mengatakan perihal ikut dengan tetua Uchiha tersebut. Apalagi membawa si gembul bersamanya. Huh? Kenapa? Apa dia tidak diperbolehkan tinggal di kediaman Uchiha lagi? Madara mau membawanya ke suatu tempat yang lain-entah di mana?
Eh?
Pasangan suami-istri Uchiha yang merupakan putra serta menantu sang tetua saling melempar tatapan. Walau tidak terlalu mengerti maksud dari ucapan ayahnya, namun Fugaku agaknya paham tentang Naruto dan Menma yang akan ikut dengan Madara. Tetapi ... tidakkah ayahnya memutuskan terlalu cepat?
Lalu si raven sulung-Itachi-yang mengerutkan kening sembari menatap kakeknya. Tak lama kemudian retina hitam milik si sulung beralih menatap si adik yang duduk di sebelahnya. Damn, kakeknya bertindak. Habislah Sasuke!
Terakhir ... sang tokoh utama pria yang sudah dihujat para pembaca karena sikap, tindakan dan tingkat kepekaannya yang sangat minus. Pemuda berwajah datar ini mencerna ucapan kakeknya; Naruto dan Menma ikut dengan Madara, artinya ia tidak akan tinggal satu atap lagi. Sasuke mesti datang ke rumah kakeknya untuk menemui si pirang dan putranya. Gah! Bukannya tak mau menempuh jarak atau berkorban sedikit demi Naruto dan Menma, tetapi kenapa mesti di rumah Madara?
Setelah semuanya terbongkar, pun Sasuke sudah tidak punya niatan menjauhkan si pirang dari Menma. Malah dalam kepala bungsu Uchiha itu sedang mengatur rencana untuk memperbaiki hubungannya dengan Naruto. Sungguh! Dia sudah mencari tips dan langkah-langkah yang mesti dilakukan di internet! Tinggal praktek saja. Tapi, kalau si pirang di rumah kakeknya, pasti akan sulit melakukan rencana yang sedang Sasuke susun dalam kepalanya!
"Tu-Tuan ...." si pirang akhirnya bersuara. Niatnya ingin mengkonfirmasi ucapan sang tuan besar.
Madara mengalihkan pandangan pada Naruto. Memamer senyum kecil. "Kau kan tidak menikah dengan Sasuke, jadi kalian tidak boleh tinggal satu atap. Sekalipun ada Fugaku dan Mikoto." Lalu iris kelam milik sang Uchiha senior menatap putranya sembari memamer senyum lebar.
Fugaku tercekat. Kalimat berupa bantahan yang ingin dia ucapkan tersangkut di tenggorokan saat melihat senyum ayahnya. Senyum yang sangat mengintimidasi. Tak cuma lelaki itu, pun istrinya tak mampu mengatakan sepatah kata. Mikoto mengukir senyum canggung dan segera mengalihkan tatapan ke mana saja. Kalau sudah begitu, mereka tak bisa melakukan apa-apa. Sang tetua Uchiha telah memutuskan.
Jika tidak dalam situasi yang bisa dikatakan menegangkan ini, Itachi pasti tertawa terbahak-bahak. Kakeknya memberi ultimatum yang tak dapat mereka lawan-serta dinding yang mesti dilewati oleh Sasuke kalau mau bersama Naruto. Bukan orang lain, orang ketiga, orang asing atau siapalah, melainkan kakek mereka sendiri yang mengajukan diri menjadi penghalang. Mungkin mau menghukum si bungsu Uchiha, tapi Itachi tidak menyangka. Sasuke mesti berusaha meluluhkan kakeknya terlebih dahulu sebelum mengambil hati si pirang.
Sang kepala keluarga menepuk kening. Mikoto cuma bisa menghela napas. Naruto terbengong di tempatnya berdiri. Si raven bungsu spechless. Sementara itu, bayi gembul kita yang lucu dan menggemaskan berseru nyaring saat jemari sang kakek buyut mencubit hidungnya.
"Ah!"
***
Sudah mulai proses pengetikan. Sudah terlihatlah ya konflik utama di sini nanti. Ehehehe.
Caya mau kasih hukuman dulu buat Babang Saskeh karena udah buat Naru mewek. Udah buat dedek Menma sakit.
Semoga mood caya nggak anjlok-anjlokan macam kemarin. Juga semoga cerita ini bisa diketik dengan damai tanpa drama atau hal-hal yang sekiranya bisa membuat progress pengetikan terhenti. Caya berterima kasih buat semuanya yang masih mendukung, membaca dan mengapresiasi. Arigatou gozaimasu!
Ini bukan milking, ya. Sedari awal memang caya pengin proses SN ini sangat lambat. Tapi, kayaknya pada nggak sabar. Jadi, ketahuannya aja caya percepat. Sesuai permintaan. Mwehehe.
Apakah akan di publish di Wattpad? Tenang saja, nggak kayak main story. Bond akan caya update selang-seling. Chapter genap di Wattpad, chapter ganjil di ... ahem, tahulah yaㅡatau sebaliknya.
Terima kasih teman-teman. Sampai jumpa di serial Bond ya!
Salam caya ( ˘ ³˘)♥
KAMU SEDANG MEMBACA
Heart [3]
Fiksi PenggemarKediaman Uchiha dibuat gempar ketika sesosok bayi berambut ravenㅡyang merupakan ciri khas keluarga berlambang kipas iniㅡmuncul di depan pintu rumah. Ditambah secarik kertas yang berisikan tulisan; Uchiha Menma. Anakmu, Uchiha Sasuke. Oㅡwow! Seisi ru...
![Heart [3]](https://img.wattpad.com/cover/115609972-64-k33534.jpg)