Bond 7

640 84 7
                                        

“Apa kau tidak berniat mengambil salah satu tanaman dan melemparkannya pada orang gila itu?”

Pemuda pirang yang berdiri di sebelah sang Uchiha senior tak kuasa menahan tawa akibat pertanyaan yang dilontarkan barusan. Naruto segera menutup mulut menggunakan punggung tangan sembari menggelengkan kepala. Bukan menolak, tetapi tak menyangka dengan reaksi Madara yang tampaknya benar-benar sebal—sampai mengatai lelaki muda bersurai raven yang berdiri tak jauh dari mereka sambil mendekap si bayi gembul erat.

Mereka berada di teras depan. Iya, di teras di depan pintu masuk rumah. Kendaraan beroda empat sudah terparkir di halaman serta seorang sopir yang ditugaskan untuk mengantar Sasuke kembali ke kota sejak sepuluh menit lalu. Namun, pemuda itu enggan melepaskan si bayi gembul yang sudah mandi dan wangi serta kelihatan segar juga ceria. Celoteh riang masih terlontar bebas dari mulut Menma yang meneteskan liur ke pakaian Sasuke. Tetapi tak menjadi masalah bagi si raven. Dia belum rela pergi meninggalkan si bayi.

Apalagi ... setelah pagi ini, Sasuke tidak tahu kapan bisa datang ke sini dan bertemu dengan Menma dan Naruto lagi. Retina gelapnya melirik si pemuda pirang yang berdiri bersebelahan dengan kakeknya. Uh ..., Sasuke agak dilema. Dia malas bertemu sang kakek—yang pasti akan mengejek dan mencemooh dirinya—tapi, dia ingin menghabiskan waktu bersama si bayi dan pemuda beriris biru langit itu. Meksi begitu, dia pun tak dapat membantah sang Uchiha senior. Sasuke tak punya kuasa.

Melihat sisi lain dari si pemuda Uchiha membuat Naruto tak bisa menahan bibirnya menyunggingkan senyum.

“Sampai kapan kau akan menjadikan Menma tameng? Pulang sana!” Madara tak tahan lagi. Sorot tajamnya mencari-cari benda yang dapat digunakan untuk melempar sang cucu. Walau tadi sempat menyarankan salah satu tanaman pada si pirang, Madara tak mau bunga hiasnya rusak hanya karena untuk mengusir si raven. Jadi, dia memutuskan mengambil pot kosong dekat deretan tanaman bunga di teras lalu mengangkat tinggi-tinggi. “Pergi sendiri atau kupaksa?”

Sasuke tentu terkejut melihat kakeknya sudah siap menghantamkan pot hitam berukuran cukup besar ke arahnya dan refleks melangkah mundur menjauh dari teras. Menma di pelukan sang ayah tertawa senang, sedangkan Naruto buru-buru menahan Uchiha senior yang hendak maju bersamaan si sopir yang bergerak cepat berlari menuju majikannya—membantu si pirang menahan Madara.

“Bah! Bah! Bah!” Menma berseru nyaring sembari tertawa senang. Tak lupa badannya bergoyang dalam dekapan si raven muda. “Ababah!”

“Tu-Tuan, tenangkan dirimu,” ujar lelaki yang dipanggil untuk mengemudikan mobil mengantar Sasuke pulang seraya meraih pot hitam dari tangan sang majikan.

Naruto menahan salah satu tangan juga menjadikan tubuhnya penghalang sang Uchiha senior yang ingin melangkah maju. “Ja-jangan, Tuan ....”

“Kenapa kau menyebalkan sekali, huh?” Meski tidak benar-benar berusaha melangkah maju dan melempar pot di tangannya, Madara melampiaskan kekesalahannya.

Sang Uchiha senior merasa tak mengenal pemuda bersurai raven di sana. Ada apa dengan Sasuke? Ke mana perginya kepribadian dingin, cuek, jutek mirip kulkas empat pintu si raven? Kenapa jadi melankolis begitu? Cuma berpisah beberapa hari—kalau mau tiap hari pulang-pergi dari kediamannya pun tak apa, Madara tidak melarang. Tapi, malah bertingkah manja macam putri kemayu! Kan dia gerah sekali melihatnya! Madara ingin memukul cucunya itu!

“Tuan, Tuan muda adalah cucu anda!”

“Tuan, kumohon tenanglah!”

“Minggir Naruto, aku akan memukul kepalanya supaya sadar!”

“Aku sadar, tidak pingsan.”

Urat kebiruan muncul di kening sang Uchiha senior. Sahutan enteng dengan nada datar yang terlontar dari mulut si pemuda Uchiha membuat Madara makin geram. Si sopir yang mendengar penuturuan tuan mudanya memejamkan mata dan pasrah kalau dirinya akan menjadi korban karena tak bisa menahan tubuh sang majikan. Sedangkan Naruto masih berusaha menghalau tangan yang memegang pot hitam besar yang terangkat ke udara.

Kenapa adegan ini mirip adegan mengusir tamu tak diundang; atau menantu tak diinginkan; atau anak yang dibenci; atau saudara yang tak disukai di drama pendek China?

**

Setelah berhasil memulangkan—memaksa pergi—si pemuda raven, susasana di kediaman sang Uchiha senior kembali tenang. Sungguh pagi yang menguras emosi dan tenaga. Madara menarik napas dalam sebelum dihembuskan. Biasanya dia akan sangat senang jika cucunya menginap lebih lama, tetapi kali ini rasanya tidak ingin membiarkan si pemuda raven lebih lama dan menganggu hari cerah di sini. Apalagi dia juga mau menggendong dan bermain dengan cicitnya! Waktu bayi lucu serta menggemaskan itu selalu dieksploitasi oleh si raven. Madara tidak terima!

Sekali lagi menarik napas dan menghelanya kasar untuk menghalau emosi yang masih membara di hati.

Sang Uchiha senior menatap pemuda pirang yang duduk di sofa di hadapannya—tampak gugup dan kikuk. Meski bukan pertama kali mereka berhadapan begini. Si pirang malah sudah menjadi penghuni rumah ini sebelum kembali bersama si gembul. Mungkin masih terpengaruh karena kejadian tadi yang menyebabkan suasana menjadi canggung. Bahkan beberapa pelayan yang mendengar keributan sampai keluar rumah dan membantu menengahi kegaduhan yang terjadi.

Menma telah dibawa oleh Rin untuk diberikan susu karena bayi itu tampak mengantuk setelah bersenang-senang dengan kehebohan yang terjadi. Lalu sang Uchiha senior mengajak Naruto untuk ke ruang keluarga. Ada yang ingin dibicarakan. Sesuatu yang penting. Berhubungan dengan si pemuda pirang, menyangkut si gembul juga si pemuda raven yang telah pergi ke kota.

Madara berdeham. Memperbaiki posisi duduknya—mempertahankan sisa-sisa martabat yang luruh karena termakan emosi tadi pagi. “Erm, Naruto ....” dia memanggil, menatap lurus retina biru yang ragu-ragu balas menatapnya.

“Aku tidak pernah peduli latar belakangmu ...,” katanya memulai, Madara sudah kembali dalam mode sang Uchiha senior. Ekspresi wajahnya datar dan serius membuat pemuda di depannya menelan saliva. Apa yang akan dikatakan selanjutnya memang mesti dia bahas bersama sang pemuda. Madara cukup lama memikirkannya sebelum mengambil keputusan dan menimbang-nimbang konsekuensi di masa depan.

Biar bagaimana pun sang pemilik kediaman mewah bernuansa rumah tradisional Jepang ini adalah seorang kepala keluarga, seorang ayah, seorang kakek dan sekarang mendapat peran baru sebagai kakek buyut. Madara tidak ingin keluarganya disakiti. Dia tidak akan membiarkan entah apa pun itu mengusik orang-orang yang merupakan keluarganya. Meski mungkin ... harus sedikit memaksa.

Diam-diam sang Uchiha senior menghela napas.

“Kenyataannya kau adalah ibu kandung dari cicitku. Aku tidak akan memungkirinya, begitu pula yang lain. Aku menerimamu sebagai bagian dari Uchiha. Kau sudah kuanggap seperti anak ... atau mungkin cucu menantu sebutannya ....” Madara berkata jujur. Tidak ada kebohongan dalam kalimatnya. “Sekalipun hubunganmu dan Sasuke belum resmi.”

Oh, yang terakhir itu sengaja. Iya. Sang Uchiha senior sengaja mengungkitnya. Bukan untuk menakuti atau memaksa si pemuda pirang agar segera punya hubungan yang jelas dengan Uchiha, tetapi menyatakan sebuah fakta yang tak bisa disangkal jika mempertanyakan status Naruto—atau si gembul. Sekalipun rumor mengenai anggota termuda Uchiha sudah mulai tersebar, namun Madara tidak pernah membenarkan atau memberi pernyataan mengenai cicit atau si pirang yang merupakan orang yang melahirkannya. Dia masih menahan diri untuk tidak memberitahu dunia mengenai si gembul.

Karena mengetahui bagaimana kepribadian ibunya, kepribadian Naruto.

Si pemuda pirang menggigir bagian dalam bibirnya. Kedua jemari yang diletak di pangkuan saling bertaut;  saling menggenggam erat. Rasanya ... sang Uchiha senior menampar telak Naruto. Menyadarkannya kembali pada kenyataan. Membuatnya melihat realita yang ada. Naruto bukanlah siapa-siapa. Dia hanya seseorang yang menghadirkan keturunan Uchiha ke dunia. Dia tidak punya status, tidak punya jabatan, tidak punya kuasa, hanya seorang kerdil yang dapat dihilangkan kapan saja.

Bagi Uchiha ... Naruto cuma noda kecil yang mengotori keluarga mereka. Jika pada dasarnya Uchiha bukan orang baik, mana mungkin dirinya dapat bertahan hingga saat ini. Mana mungkin dia bisa mendekap putranya sekarang. Mana mungkin Naruto mampu menghadapi mereka.

Naruto menundukkan kepala. Dia cuma diam. Tak mampu menyahut perkataan Madara.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 25 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Heart [3]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang