Right Here - 14

328 67 5
                                        

Restoran itu memiliki pencahayaan temaram—cukup gelap untuk membuat segalanya terasa intim, namun cukup terang untuk memperlihatkan betapa gugupnya aku dan betapa berbinar mata Damar setiap kali menatapku. Pelayan menuntun kami ke meja sudut dekat jendela—tempat yang tampaknya sengaja dipilih untuk orang-orang yang ingin bicara lebih pelan, lebih jujur.

Cahaya temaram, musik jazz lembut, dan aroma wine yang samar membuat segalanya tampak lebih lambat, lebih intim. Damar duduk di hadapanku, namun sejak awal tatapannya tak pernah benar-benar pergi dari wajahku.

"Wi," suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang sengaja dibuat untuk menusuk pelan ke dadaku. "Aku nggak pernah lihat kamu secantik ini."

Aku tertawa kecil, mencoba menyembunyikan rasa gugup yang justru membuatku semakin sadar pada tubuhku sendiri—dress yang menempel pas, kulit bahuku yang terbuka, hembusan napasnya yang terasa setiap kali ia memandangku terlalu lama. "Aku cuma dandan biasa. Sudah lupa caranya malah."

"Justru itu." Tatapannya melembut. "Kamu nggak sadar kamu cantik tanpa usaha."

"Kamu juga ganteng," balasku. Tapi kalimat itu terdengar lirih bahkan untuk diriku sendiri.

Makanan datang, tapi jujur saja, aku hampir lupa bagaimana rasanya makan. Sebagian besar perhatian Damar tertuju padaku—bagaimana jari-jariku memegang garpu, bagaimana aku tersenyum, bagaimana aku memalingkan pandangan setiap kali ia menatapku terlalu dalam.

Dan semakin malam berjalan, percakapan kami semakin jujur.

"Kamu nyaman?" tanyanya.

Aku mengangguk. "Lebih dari nyaman."

Damar menyunggingkan senyum yang terlalu berbahaya untuk malam seperti ini. "Bagus. Karena aku pengin kamu ngerasain malam yang kamu pantas dapatkan."

Kalimat itu bikin aku kehilangan fokus sesaat. Ada sesuatu dalam cara Damar berbicara—tenang, dewasa, seperti ia benar-benar memikirkan setiap kata.

Makanan kami datang. Steak untukku, pasta untuknya. Sesekali kami bercanda, sesekali saling melempar tatapan yang harusnya tidak sesering itu terjadi kalau ini hanya makan malam biasa. Tapi makin lama, makin terasa kalau ini bukan makan malam biasa.

Di sela-sela pembicaraan ringan, Damar tiba-tiba berkata pelan,

"Wi, you deserve to be happy. Dan aku seneng kamu ngasih kesempatan buat aku ada di malam kamu."

Dadaku terasa hangat. Bukan jenis hangat yang membuat tersipu tapi jenis hangat yang membuat seseorang merasa akhirnya dilihat.

"Dan kamu juga," balasku. "Aku seneng kamu mengiyakan ajakanku yang impulsif."

Percakapan berubah semakin dalam—tentang kerjaan, tentang masa lalu yang belum terlalu terekspos, tentang bagaimana kami masing-masing bertahan namun masih sopan untuk diceritakan pada kencan pertama. Sampai akhirnya, entah bagaimana, pembicaraan bergeser ke anak-anak.

"Aku tahu kamu sama Jelita itu paket lengkap," kata Damar, suaranya lembut tapi tegas. "Aku tahu itu dari awal."

Aku menelan ludah, tiba-tiba gugup. "Dan kamu? Kamu juga paket lengkap dengan Vanya."

Dia tersenyum samar. "Iya. Dan dia bagian dari aku. Sama kayak Jelita bagian dari kamu."

Hening sejenak. Namun bukan hening yang canggung. Lebih seperti hening yang penuh arti. "Menurut kamu," Damar menatapku dalam, "Susah nggak kalau kita berdua suatu hari nanti nyatuin dua dunia itu?"

Pertanyaan itu membuatku terdiam lebih lama dari yang kupikir. Bukan karena takut—tapi karena ini pertama kalinya untukku ada seseorang mempertimbangkan masa depan denganku dan dengan anakku. Bukan hanya denganku saja.

Right HereTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang