Kali ini Aro betulan berangkat ke Melbourne. Ternyata selama ini ia diam-diam sudah mengatur banyak hal. Gede kembali bekerja bersamaku—membantuku menjemput Jelita ketika dibutuhkan dan membantu operasional Twelve Roses, restorannya Aro, kalau sedang kosong.
Begitu juga Iluh, asisten rumah tanggaku dulu. Rupanya selama ini ia bekerja di rumah saudara Tante Hanna, mantan mertuaku. Dan kini, Aro menariknya kembali untuk bekerja di rumahku.
"Luh," panggilku ketika ia lewat. "Nanti bantu siapin perlengkapan Jelita buat sekolah besok ya. Saya yang antar."
"Oke, Bu," jawabnya dengan semangat yang sama seperti dulu.
Jelita tentu masih ingat keduanya. Meski masih kecil, ingatannya tentang orang-orang dekatnya selalu kuat. Keberadaan Gede dan Iluh membuatku merasa jauh lebih tenang.
Dan... iya, ini juga keuntungan besar buatku. Bukan berarti aku menyerahkan peran sebagai ibu ke Iluh, tapi setidaknya aku punya sedikit ruang untuk kembali menjadi diriku sendiri.
Dan tentu saja, itu berarti aku juga bisa punya lebih banyak waktu untuk bersama Damar—tanpa harus selalu khawatir.
"Mbok!" teriak Jelita dari lantai dua.
Aku menghela napas panjang. "Ya ampun, Tita..." gumamku sambil naik ke atas. Begitu pintu kamar terbuka, Jelita menatapku dengan wajah polosnya.
"Mbok Iluh mana?"
"Kenapa teriak-teriak kayak di hutan?" tanyaku sambil memelototkan mata kecil.
Jelita hanya meringis. "Minta ditemenin Tita di sini..."
Aku menggeleng. "Mintanya sopan ya, jangan teriak-teriak. Mbok Iluh itu kerja bantuin Mama, bukan nemenin Tita main tiap hari."
"Iya, Ma. Maaf," katanya pelan.
"Mama maafin. Mbok Iluh habis bersihin dapur, nanti naik temenin Tita sebentar. Sekarang kerjain PR dulu."
"Siap!"
Aku turun dan memberi instruksi pada Iluh. Biasanya aku sendiri yang menemani Jelita, tapi belakangan ini Jelita lebih sering memilih Iluh. Katanya, "suasana baru."
Sesampainya di kamar, aku mengambil ponsel dan mendial nomor yang akhir-akhir ini rajin membuatku tersenyum.
"Hai, sayang," sapa Damar. "Jelita udah tidur? Tumben kamu telepon jam segini."
"Belum. Dia lagi sama Iluh di atas. Kamu di rumah? Kok kayak ada suara berisik?"
"Nggak. Aku di bengkel. Ngejarin modifikasi buat club, mau kontes." Suaranya terdengar sibuk, tapi tetap hangat. "Tapi kamu nggak ganggu kok. Malah seger banget denger suara kamu."
Aku tersenyum—refleks. Kami ngobrol lama tentang hari kami masing-masing. Tentang anak-anak. Tentang hal remeh-temeh yang entah bagaimana terasa menyenangkan.
"Nyanya sama siapa dirumah?" tanyaku.
"Sama Ibuku dan Bu Mang. Ibu lagi kangen cucunya, jadi pas banget aku bisa ke bengkel seharian." ujarnya.
"Kapan-kapan, ajak aku ke bengkel kamu dong," celetukku.
"Boleh. Tapi kamu nggak mau modif mobil kamu juga kan?" tawanya pecah.
"Mau lah. Bikin ceper banget."
"Aduh... ya jangan juga," candanya sambil tertawa kecil. Lalu ia memanggilku, pelan. "Sayang..."
"Hm?"
"Kan sekarang ada Iluh. Kamu nggak ada rencana buat kita nge-date lagi berdua?"
Aku terdiam. Betul juga. Sejak Iluh kembali, hidupku jauh lebih teratur. Aku tetap mengurus perlengkapan sekolah Jelita, tetap belajar dan bikin PR barengnya—itu wajib. Tapi waktu luangku kini mulai kembali muncul.
KAMU SEDANG MEMBACA
Right Here
General FictionSudah berapa tahun kami berpisah? 5 tahun betul? Selama itu aku merasa bebas hingga pertemuanku dengan pria berbuntut ini. Pertemuan ini, tidak seperti pertemuanku dengan yang sebelumnya. Berbeda. Aku seperti jatuh cinta. Kali ini dengan tepat. Semo...
